Site icon NTD Indonesia

Perangkap Pemikiran Hitam Putih dan Cara Menghentikannya

Pemikiran hitam putih adalah kecenderungan untuk memandang segala sesuatu secara ekstrem. Hal ini dapat terlihat dalam persepsi anda terhadap orang lain: “Dia tetangga yang buruk;” “Orang itu orang suci;” “Dia tidak pernah mendengarkan;” atau “Kamu selalu curang.” Hal ini juga dapat terwujud dalam persepsi diri anda: “Saya tidak pandai dalam hal apa pun;” “Saya tidak tahan jika hal itu terjadi;” “Semua orang menentang saya;” atau “Saya satu-satunya yang tahu cara melakukannya.”

Pandangan kaku seperti ini tidak hanya membatasi, tetapi juga tidak akurat. Pada dasarnya, pemikiran ini adalah kebohongan yang mendistorsi realitas dan memicu emosi ekstrem, sehingga anda lebih sulit melihat segala sesuatu secara objektif — dan lebih mudah melihat diri anda sebagai korban keadaan — yang pada akhirnya menyabotase kesuksesan anda, merusak hubungan, dan mengorbankan kesehatan serta kebahagiaan anda.

Jika anda merasa mungkin bersalah karena berpikir hitam-putih, anda tidak sendirian. Ini adalah distorsi kognitif umum yang bisa menjadi akar dari banyak masalah; tetapi untungnya tidak semutlak kedengarannya. Dengan belajar mengenali dan memahami pemikiran hitam-putih, anda dapat mulai membentuk pola pikir yang lebih sehat dan memulihkan kualitas hidup anda.  

Mengenali Pemikiran Hitam-Putih

Pemikir hitam-putih cenderung menggunakan kata-kata ekstrem, seperti selalu, tidak pernah, segalanya, tidak ada, sempurna, buruk, terbaik dan terburuk, padahal istilah yang lebih moderat akan lebih akurat. Mereka juga mengukur segala sesuatunya dengan standar semua-atau-tidak sama sekali, dan menggunakan logika irasional:

Contoh klasiknya adalah karakter Javert, dari Les Miserable, seorang inspektur polisi yang begitu kaku dalam mengejar seorang pencuri kecil— sampai-sampai ia secara tragis bunuh diri.

Dalam semua kasus ini, seseorang mengabaikan nuansa penting, jalan tengah, atau “area abu-abu” dari situasi tersebut. Padahal,..

Jika Javert memperhitungkan kemungkinan orang baik melakukan kesalahan sesekali, ia tidak akan menyia-nyiakan hidupnya. 

Mengapa kita berpikir hitam putih?

Berpikir hitam putih adalah cara untuk menyederhanakan berbagai hal. Hidup itu rumit — setiap situasi memiliki nuansa yang membuatnya berbeda, dan setiap hari kita menghadapi situasi yang berbeda. Karena berbagai alasan, kita mungkin merasa kewalahan dengan segala kerumitan dan ketidakpastian, dan mulai mengurutkan segala sesuatu menjadi baik/buruk, selalu/tidak pernah, benar/salah, suka/benci, dan seterusnya. Hal ini memberikan rasa kendali, dan membebaskan kita dari kerja keras mempertimbangkan semua kerumitannya. 

Berpikir hitam putih adalah mekanisme pertahanan diri

Meskipun kita tidak sempurna, kita manusia cenderung menyukai kemudahan dan kenyamanan. Menganggap suatu situasi sebagai sesuatu yang mutlak berarti mustahil bagi kita untuk mengubahnya. Hal ini menciptakan celah untuk menghindari tanggung jawab dan akuntabilitas, dan melindungi kita dari memasuki situasi yang membuat kita merasa rentan. 

Meskipun kita mungkin menemukan kepuasan jangka pendek dalam kenyamanan ini, mekanisme pertahanan kecil ini dapat menyebabkan kerusakan besar di kemudian hari; karena begitu berkembang menjadi kebiasaan, ia berubah menjadi paradigma, dan seluruh pandangan dunia kita menjadi terdistorsi. Aduh!

Dampak pemikiran hitam-putih

Karena mendistorsi persepsi anda tentang realitas, pemikiran hitam-putih dapat menyebabkan berbagai masalah kepribadian:

Membentuk kembali pikiran anda 

Sama seperti fleksibilitas yang merupakan tanda kesehatan fisik yang baik, menunjukkan fleksibilitas dalam pola pikir anda menunjukkan kesehatan mental dan emosional. Dan sama seperti seseorang perlu melakukan banyak peregangan dan latihan untuk menjadi pesenam, anda perlu melatih otak anda untuk berpikir lebih luas, melihat sesuatu dari berbagai perspektif, dan membuat penilaian yang lebih akurat. Ini disebut berpikir dialektis.

Berpikir dialektis  

Berbeda dengan fondasi dikotomis pemikiran hitam dan putih, berpikir dialektis mengambil pandangan yang berlawanan dan mencari harmoni di antara keduanya, menerima paradoks dengan wawasan dan kebijaksanaan. Seorang pemikir dialektis:

Melatih otak anda

Anda bisa mengubah pola pikir anda dalam semalam. Membentuk kebiasaan baru mungkin membutuhkan proses yang panjang, tetapi ada banyak alat dan teknik yang dapat membantu anda. 

Dengan latihan, berpikir dialektis akan menjadi alami, dan orang lain akan menganggap anda lebih sabar, toleran, dan menyenangkan. Citra diri anda akan meningkat, anda akan mengalami hubungan yang lebih harmonis, membentuk penilaian rasional, membuat keputusan yang lebih baik, dan menunjukkan ketahanan yang lebih baik dalam konflik. 

Berpikir hitam putih juga bisa menjadi gejala kondisi kesehatan mental.

Terkadang berpikir hitam putih merupakan bagian dari sesuatu yang lebih rumit, dalam hal ini anda tidak perlu ragu untuk mencari bantuan profesional. 

Sebagai penutup, ada kutipan dari dua orang motivator yang cocok dengan tulisan ini:

“Bila harus bekerja dengan kolega yang menurut kita “menyebalkan”, atau kita tidak suka dengan kelakuannya, berpikirlah positif bahwa ada kebaikan dari orang tersebut yang dapat kita apresiasi.”

— Elizabeth Setiaatmadja

“Ketika kita mengubah cara kita memandang sesuatu, hal-hal yang kita lihat pun berubah.”

— Wayne Dyer