Kemarin, saya mengobrol dengan Xiao Qing, teman sewaktu kuliah dulu. Dia sama seperti dulu, dengan tenang membicarakan kehidupannya kini, namun secara intuitif saya merasakan bahwa dia menyembunyikan sesuatu.
Pulangnya, saya mengunjungi blognya. Sudah beberapa lama saya tidak melakukannya, gaya blog Xiao Qing telah banyak berubah. Dahulu dia banyak menulis puisi yang indah dan cerita ringan yang menginspirasi, bagaikan teh hijau yang memancarkan aroma sedap nan anggun. Akhir-akhir ini beberapa artikel senada di blognya hanya copy paste dari tempat lain yang menguraikan bagaimana istri harus menggugat orang ketiga.
Membaca artikel yang penuh rasa marah ini, intuisi saya menjadi semakin kuat: dalam kehidupan rumah tangga Xiao Qing, telah muncul prahara. Saya meneleponnya, menanyakan apa yang terjadi, mengapa tidak memberitahu saya. Di ujung telepon, suara Xiao Qing terdengar tersedu. Dia menghela napas, mencela habis-habisan kebobrokan moral masyarakat sekarang, mengeluhkan bahwa kebaikan sangat mudah diperalat orang. Saya hanya dapat mendengarkan, tidak tahu harus berkata apa.
Dulu, Xiao Qing berkenalan dengan suaminya di dunia maya. Saat itu berpacaran di dunia maya sedang marak, nampaknya di dimensi maya berbagai sisi buruk manusia tidak nampak. Banyak teman yang berpacaran di dunia maya, namun kebanyakan telah putus, hanya Xiao Qing saja yang bertahan. Suaminya lebih tua 5 tahun darinya, ketika berkenalan di dunia maya dia sudah memiliki pacar, karena menyukai Xiao Qing, pacar lamanya ditinggalkan.
Teman-teman pernah mendiskusikan hal ini bahkan memperingatkan Xiao Qing, seorang pria yang meninggalkan orang lain untuknya, di kemudian hari juga kemungkinan meninggalkannya untuk orang lain.
Namun saat itu suaminya telah melamarnya didepan Ayah dan Ibunya. Demi suami, dia berhenti bekerja dan menetap di tempat yang belum pernah ditinggalinya. Bertahun-tahun telah berlalu, namun situasi sekarang seolah-olah merupakan gambaran apa yang dikhawatirkan oleh kami semua, sahabat-sahabat baiknya.
Xiao Qing bertanya, “Saat ini terlalu sulit dilewati, katakan apa harus saya lakukan?” Saya menyarankan agar dia jangan langsung menyerah, bertahan sampai menit terakhir. Juga jangan membenci siapapun, mungkin juga karena ada orang yang datang mencelakai barulah kita benar-benar tumbuh dewasa, benar-benar menjadi kuat. Pergunakan cara yang sepantasnya untuk melindungi rumah tangga, sehingga tidak akan merasa bersalah.
Di samping menasehatinya, saya sendiri juga merasa bimbang, karena tidak mengetahui kesudahan “peperangan” ini, akankah Xiao Qing menang atau malah babak belur. Sebab itu, saya lalu mengingatkan dia untuk memperhitungkan keadaan terburuk: “Bila semua usaha telah dicoba namun tidak berhasil, kamu sendiri juga harus tetap hidup baik-baik. Hidup untuk diri sendiri, anak, orang tua, bukan hidup untuk perasaan yang telah sirna.”
Pernikahan sebenarnya merupakan suatu perjanjian yang sakral dengan Allah. Berani selingkuh berarti mengkhianati janji kepada Tuhan. Sekalipun moral di dunia runtuh, yang membuat terlalu banyak orang melupakan maksud semula dari suatu pernikahan, mereka bahkan dapat merusak pernikahan orang lain sesuka hati untuk kepentingan sesaat diri sendiri, namun kita tidak boleh karenanya terseret mengabaikan hati nurani.
Melewati jalan yang penuh dengan godaan, yang dapat kita lakukan adalah melihat dengan pasti sasaran di akhir perjalanan, melangkah setiap tapak kaki di jalan lurus, tidak menyimpang, tidak tercela, tidak pula terpencar perhatiannya, agar seumur hidup tidak menyesal! (epochtimes/qingsong)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
