Dahulu kala, ada sebuah toko kunci di kota. Orang-orang akan membeli kunci dan gembok, dan terkadang datang untuk mendapatkan kunci duplikat untuk gembok mereka.
Di toko itu juga, ada sebuah palu yang besar dan berat. Palu itu selalu disimpan di dalam kotak, dan hanya akan digunakan untuk merusak gembok yang sudah tidak mungkin bisa dibuka dengan menggunakan kunci.
Palu ini adalah barang paling kuat di dalam toko. Karena dia selalu disimpan dan hanya akan dikeluarkan oleh si tukang kunci untuk menghancurkan gembok yang sudah tidak mungkin dibuka, dia tidak pernah tahu apa yang dilakukan oleh si tukang kunci dengan barang-barang lain di dalam toko.
Karena selalu berhasil untuk menghancurkan gembok yang sudah tidak mungkin dibuka, palu ini mulai merasa sombong. Dia merasa kalau dialah barang paling berguna dan kuat di toko tersebut.
Suatu hari, si tukang kunci memutuskan untuk tidak menyimpan palunya di dalam kotak peralatan, dia memutuskan untuk menaruh palu itu di atas meja.
Maka sejak itu, palu mulai tahu, apa saja yang terjadi di dalam toko kunci.
Dia melihat ada gembok besar yang kokoh, namun dapat dibuka dengan mudah oleh sebuah anak kunci yang kecil, bahkan tanpa perlu upaya keras. Dan hari itu, pemandangan yang sama terulang beberapa kali, dia mulai merasa heran.
Malam harinya Ketika toko tutup, dia bertanya kepada anak kunci di sana.
“Hai anak kunci, kamu begitu kecil dan lemah. Bagaimana bisa kamu bisa membuka gembok yang besar dan keras itu dengan mudah? Bahkan tanpa perlu seperti saya, yang harus berupaya keras sambil menyakiti diri saya sendiri, untuk membuka gembok-gembok itu?”
Anak kunci menjawab, “Kamu menggunakan kekuatan untuk membuka gembok, kamu memukul mereka, dan dengan melakukan itu, gembok sebetulnya tidak terbuka tapi rusak. Pada saat yang sama dirimu sendiri juga merasakan sakit karena benturan keras.
Sementara saya, saya tidak menyakiti mereka, sebaliknya, saya masuk ke jantung mereka, dan mereka langsung terbuka. Saya sama sekali tidak perlu menggunakan kekerasan ataupun paksaan.”
Hal serupa juga terjadi dalam kehidupan manusia. Jika kita benar-benar ingin memenangkan hati seseorang, menjadikan mereka milik kita, maka kita harus masuk ke dalam hati orang tersebut, menyentuh hatinya, alih-alih menggunakan paksaan apalagi kekerasan.
Memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu, memang mungkin, tapi dengan cara itu, kita tidak membuka kunci pikiran atau hatinya, namun justru menghancurkannya.
Sedangkan jika kita menyentuh hati mereka dengan cinta, maka kita akan mendapatkan hati mereka, tanpa perlu merugikan siapapun. (inspirasibambu/an)
Segala sesuatu yang dapat dicapai dengan paksaan juga dapat dicapai dengan cinta, tapi segala sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan cinta, tidak akan dapat dicapai dengan paksaan.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini
Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations
VIDEO REKOMENDASI

