Ada seorang pria tua yang bekerja sebagai sukarelawan di badan amal. Matanya minus, jadi ia harus memakai kacamata ketika membaca, namun ketika melakukan pekerjaan lain, ia akan menyimpannya di saku. Ia selalu menjaga kacamatanya dengan baik, karena ia hanya memiliki satu.
PODCAST
Suatu hari, ia diberi tugas untuk mengepak belasan paket bantuan untuk dikirimkan ke sebuah negara miskin. Sebelum mulai bekerja, ia menyimpan kacamatanya baik-baik di saku bajunya. Namun setelah pekerjaan selesai dan paket-paket bantuan itu siap diangkut, ia baru menyadari bahwa kacamatanya telah hilang.
Ia mencari kesana kemari, namun tidak juga menemukannya. Ia menjadi marah dan sedih. Kacamata itu sangat penting baginya. Akan memerlukan upaya yang cukup besar untuk mendapatkan yang baru.
Ia pun mulai mengeluh dan berpikir dalam hati: “Saya sering melakukan pekerjaan sukarela untuk membantu orang lain, mengapa saya harus mengalami kejadian buruk seperti ini? Satu-satunya kacamata yang saya miliki, malah hilang.”
Untuk membeli kacamata baru, dia harus pergi ke kota. Jadi ia pun menunggu hingga akhir bulan untuk pergi membeli kacamata baru.
Beberapa hari berlalu. Suatu malam ia menonton televisi, dimana saat itu disiarkan pidato ucapan terima kasih dari kepala desa di suatu negara miskin yang menerima bantuan.
Dalam siaran tersebut, kepala desa berkata:
“Kami sangat bersyukur menerima bantuan dari orang-orang baik hati yang dermawan. Namun saya secara pribadi ingin mengucapkan terima kasih dengan khusus, pada orang baik yang telah menyumbangkan satu kacamata.
Mata saya mengalami masalah dan harus memakai kacamata, selama ini saya sangat kesulitan beraktivitas dan sering merasa pusing karena masalah mata yang saya alami, namun kondisi keuangan saya sangat buruk dan tidak mampu membeli kacamata.
Namun saat saya membuka salah satu paket bantuan, saya menemukan sebuah kacamata, dan ketika saya pakai, kacamata itu rasanya pas sekali.
Sejak saat itu saya bisa menjalani aktivitas dengan baik, dan tidak lagi mengalami pusing. Saya benar-benar terbantu dengan kacamata tersebut. Sekali lagi, secara khusus saya ingin berterima kasih kepada orang baik yang telah mendonasikan kacamatanya kepada kami.”
Setelah menyaksikan siaran TV tersebut, si pria tua merasa senang sekaligus malu, karena telah mengeluh pada Tuhan atas kacamatanya yang hilang. Ia masih mampu membeli kacamata baru, sementara ada orang lain yang bahkan harus menderita karena tidak mampu membeli kacamata.
Beberapa hari berikutnya, berkat siaran televisi, badan amal yang mengirimkan bantuan itu pun menjadi terkenal dan didatangi banyak orang. Banyak orang yang kemudian ikut menyumbang, dan bahkan kisah tentang kacamata pun menyebar luas, orang bertanya-tanya siapa yang telah menyumbangkan kacamata berharga itu.
Akhirnya diketahui bahwa pria dermawan inilah yang telah tanpa sengaja menyumbangkan kacamatanya. Sekelompok orang mengumpulkan uang untuk membeli sebuah kacamata baru untuknya, serta sejumlah uang, sebagai hadiah atas kedermawanannya.
Tuhan menginginkan kita untuk menjadi berkat bagi orang lain, dan terkadang, Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Kita tidak pernah tahu makna dibalik suatu kejadian sampai nanti ketika hal yang sesungguhnya terungkap.
Tetaplah berbuat baik dan bersabar ketika mengalami kejadian baik ataupun buruk, karena di dalam pengaturan-Nya, baik atau buruk, tetap adalah baik.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu


