Suatu pagi di sebuah pasar, tampak seorang pemuda sedang tidur bermalas-malasan.
PODCAST
Pasar tampak sibuk pagi itu, namun si pemuda tidak peduli. Sesekali ia bangun dari tidurnya dan mengamati orang-orang yang lewat.
Menjelang siang, salah seorang pedagang di pasar itu, berjalan melewati si pemuda. Ia pun menyapa si pemuda pemalas.
“Anak muda, hari sudah siang. Saya perhatikan kamu dari tadi, kamu hanya tidur-tiduran disini saja. Apa yang kamu tunggu?”
“Aaahhh, aku sedang menunggu kesempatan.”
“Apa maksudmu, kesempatan?”
“Yaaa, kesempatan untuk mengubah hidupku. Kata orang, aku harus menunggu kesempatan datang, barulah nasibku bisa berubah. Aku bisa menjadi kaya, sukses, dan memiliki apapun yang kumau. Karena itulah, aku dengan sabar menunggu kesempatan itu datang disini.”
Si pedagang itu tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan si pemuda. Pemuda pun menatap si pedagang dengan pandangan kesal.
“Hahahaha… anak muda… kalau kamu tidur-tiduran seperti itu, mana ada kesempatan yang mau datang! Nah, kebetulan aku sedang butuh karyawan baru di tokoku. Ayo ikut saja denganku, nanti aku akan mengajarimu satu atau dua hal tentang cara berdagang!”
“Aaahhhh, omong kosong kamu!! Pergi sana, sudah, jangan menggangguku lagi!”
Karena dihardik, si pedagang pun buru-buru pergi meninggalkan si pemuda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesaat kemudian, seorang Ibu datang menghampiri si pemuda. Ibu muda itu bertanya:
“Hey anak muda! Aku lihat kamu tadi diajak ngomong dengan Pak Teguh. Memangnya dia bicara apa denganmu?”
Si pemuda melirik Ibu ini, dan ia menebak bahwa si Ibu adalah wanita yang suka bergosip dan suka ikut campur urusan orang. Ia pun menjawab dengan ketus:
“Bukan urusanmu, Bu!”
“Lho, kok marah-marah. Saya cuma pengen tahu, kenapa Pak Teguh si bos besar di pasar ini kok mau-maunya mengajak ngomong kamu yang pemalas. Dari tadi, saya lihat kamu cuma tidur-tiduran aja nggak jelas.”
Si pemuda langsung tegak mendengar kata-kata si Ibu.
“Bos…. Bos besar katamu Bu? Bos besar apa?”
“Loh, dia kan pemilik pasar ini. Makanya saya heran kok dia mau-maunya mengajak ngobrol pemuda pemalas sepertimu.”
Ibu itu pun beranjak pergi, dan si pemuda kini hanya bisa meratapi nasibnya yang melewatkan kesempatan besar yang telah menghampirinya.
Kadangkala, kesempatan itu datang tanpa diduga, lewat orang-orang yang tidak terduga, dan terlihat sangat sepele. Jangan menganggap remeh sekecil apapun kesempatan itu, karena seringkali pencapaian besar justru diawali dengan kesempatan kecil.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu
