Site icon NTD Indonesia

PODCAST Lamaran Kerja Seorang Pemuda

Pemuda

Pemuda. (Screenshot Storyblocks)

Kisah Inspiratif: Lamaran Kerja Seorang Pemuda

Ada seorang pemuda yang secara akademis memiliki kemampuan yang sangat baik. Dia melamar untuk posisi manajer di sebuah perusahaan besar.

PODCAST

http://ntdindonesia.com/wp-content/uploads/2020/06/Lamaran%20Kerja%20Seorang%20Pemuda.mp3

Setelah beberapa tahap, akhirnya ia diwawancarai sendiri oleh sang direktur perusahaan. 

Direktur mulai mengajukan beberapa pertanyaan, dan dijawab dengan memuaskan oleh si pemuda. Akhirnya, direktur bertanya: 

“Apakah Anda pernah mendapatkan beasiswa di sekolah atau perguruan tinggi?”

“Tidak Pak, saya tidak pernah mendapatkan beasiswa.”

“Apakah… Ayah Anda membiayai sekolah Anda?”

“Ayah saya meninggal ketika saya masih kecil, Ibu sayalah yang membayar biaya sekolah saya.”

“Di mana Ibu Anda bekerja?”

“Ibu saya telah bekerja selama belasan tahun sebagai… tukang cuci.”

Direktur meminta pemuda itu menunjukkan tangannya. Setelah melihat tangan si pemuda yang halus dan lembut, direktur kembali bertanya:

“Apakah Anda pernah membantu Ibu Anda mencuci?”

“Tidak Pak. Dia selalu ingin saya belajar dan belajar lebih banyak, dan fokus pada studi saya. Selain itu, dia bisa mencuci baju lebih cepat daripada saya.”

Direktur menganggukkan kepalanya. Ia lalu meminta si pemuda sebuah permintaan aneh.

“Sekarang… pulanglah, dan belikan Ibu Anda krim tangan. Lalu gosokkan krim tangan itu di tangan Ibu Anda malam ini. Besok, Anda boleh datang lagi menemui saya, dan saya akan memutuskan apakah Anda diterima atau tidak.”

Terheran-heran, si pemuda menyanggupi permintaan itu. Ia membeli krim tangan dan pulang ke rumah, serta menceritakan hasil wawancara kerja hari itu pada Ibunya. 

Mendengarkan cerita anaknya, sang Ibu juga merasa aneh atas permintaan direktur. Tapi, ia merasa bahagia melihat semangat dan senyuman di wajah putranya. Ia lalu membiarkan putranya mengolesi tangannya dengan krim tangan. 

Pemuda itu mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh direktur. Ketika ia perlahan-lahan mengolesi dan memperhatikan tangan Ibunya, air matanya mulai menetes. 

Tangan Ibunya sangat kasar, penuh keriput, bekas luka, dan memar akibat gerusan sabun cuci, air, dan pakaian yang ia cuci. Saat itulah pemuda itu pertama kalinya menyadari betapa besar pengorbanan Ibunya setiap hari untuk membayar biaya sekolahnya. 

Keesokan harinya, ia pergi ke kantor direktur dengan mata sembab. Direktur pun bertanya:

“Coba… ceritakan, apa yang Anda lakukan kemarin?” 

“Saya mengoleskan krim di tangan Ibu,,,,lalu saya menggantikannya mencuci baju Pak.”

“Mmmmm…… boleh saya tahu, bagaimana perasaan Anda sekarang?” 

Pemuda itu menarik nafas lalu berkata:

“Pertama, saya tahu bahwa tanpa pengorbanan Ibu, saya tidak akan berada disini hari ini. Kedua, saya menyadari betapa sulitnya untuk mencari nafkah. Ketiga, kini saya sudah belajar bagaimana menghargai pentingnya keluarga.” 

“Jadi, apa rencana Anda jika seandainya Anda diterima bekerja di sini?”

“Saya akan meminta… Ibu saya untuk pensiun.”

Setelah mendengar jawaban si pemuda, direktur berkata:

“Ini adalah yang saya inginkan dari manajer- manajer saya. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat menghargai pengorbanan orang lain, dan ini sangat penting dalam hidup. Nilai-nilai akademis Anda juga bagus, jadi…baiklah, Anda diterima.”

Hargailah segala jerih payah, upaya serta pengorbanan yang telah diberikan orang -orang yang kita cintai, demi untuk mendukung kesuksesan kita. Karena tanpa bantuan orang lain, kita tidak akan mampu mencapai sesuatu.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Dengarkan Podcast kami:

Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu