Suatu hari, di sebuah kota kecil, ada seorang pria yang tertarik melihat iklan lowongan pekerjaan sebagai karyawan pengantar barang di sebuah toko.
Ia pun menemui pemilik toko dan berkata: “Selamat pagi Bapak, apakah benar toko Bapak membuka lowongan pekerjaan sebagai karyawan pengantar barang?”
PODCAST
“Iya benar, kami memang sedang membutuhkan orang untuk membantu mengirim barang-barang pesanan ke pelanggan. Apakah Anda berminat?”
“Iya, saya berminat, namun mengenai lowongan pekerjaan ini, bolehkah saya mengajukan enam pertanyaan kepada bapak?”
“Boleh, silakan”.
“Baiklah Pak, pertama, berapa gaji bulanan yang akan saya terima? Kedua, jam berapa mulai bekerja dan sampai pukul berapa? Ketiga, berapa lama waktu yang diberikan untuk istirahat dan makan siang setiap harinya? Lalu keempat, berapa hari libur selama setahun? Dan kelima, berapa biaya pengobatan yang diberikan apabila saya sakit?”
Si pemilik toko menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan jelas.
Pria itupun mengajukan pertanyaannya yang keenam.
“Apakah ada sepeda yang bisa saya gunakan untuk mengantar barang ke pelanggan?”
“Wah, sayang sekali kami tidak punya sepeda. Karena….”
“Tidak ada sepeda? kalau begitu saya tidak jadi melamar pekerjaan ini. Terima kasih Pak!”
Kemudian dia pun bergegas pergi meninggalkan toko tersebut.
Dua jam kemudian, ada seorang pria lain yang datang ke toko dengan maksud sama seperti pria pertama, yaitu mengisi lowongan pekerjaan disana.
Pemilik toko menjelaskan tugas dan jenis pekerjaan yang ditawarkan. Namun pria yang kedua ini, tidak menanyakan apa-apa dan menyatakan sanggup untuk bekerja disana.
Karena merasa agak penasaran, si pemilik toko bertanya:
“Pak, apakah Anda ingin tahu berapa gajimu disini?”
“Tidak perlu Bapak, saya melihat bapak adalah orang yang baik dan bijaksana, pasti akan memberi gaji yang layak kepada saya. Lagi pula, saya membutuhkan pekerjaan dan uang untuk keluarga saya. Jika saya diterima bekerja di sini, saya sudah sangat berterima kasih.”
Melihat kesungguhan pria kedua ini, pemilik toko pun berkata:
“Dua jam yang lalu ada seseorang yang datang kemari untuk menanyakan beberapa hal mengenai pekerjaan ini. Semua pertanyaan sudah saya jawab. Saat menjawab pertanyaan yang keenam, yaitu adakah sepeda yang disediakan untuk mengantar barang, saya jawab tidak ada. Dan pelamar kerja tadi langsung pergi begitu saja. Padahal saya memang tidak punya sepeda. Saya menyediakan sepeda motor untuk pengantaran, agar karyawan saya tidak capek mengayuh, dan juga bisa mengantar lebih cepat! Nah, bagaimana, Anda bersediakah mengantar dengan sepeda motor?
Dengan tersenyum, si pria kedua menjawab:
“Siap Pak! Terima kasih! Saya siap bekerja keras!!”
Dalam bekerja, yang kita butuhkan bukan sekadar menuntut apa yang akan kita terima, tetapi harus dimulai dengan apa yang mampu kita beri.
Sebenarnya, kita bukan sekadar bekerja untuk atasan atau bos, tetapi lebih dari itu, kita bekerja untuk diri kita sendiri sesuai dengan tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan kepada kita.
Dengan sikap mental bekerja seperti itu, tentu integritas dan kemajuan karir kita akan terbangun secara mantap.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Saksikan video kami:
Youtube ☛ https://www.youtube.com/ntdkehidupan
Dailymotion ☛ https://www.dailymotion.com/ntdkehidupan
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu
REKOMENDASI VIDEO INSPIRASI
