Ada seorang pemanah muda yang sangat hebat, dia merasa kalau dirinya adalah pemanah terbaik di seluruh negeri.
PODCAST
Suatu hari, gurunya mengatakan, ada seorang pertapa yang dikenal sebagai pemanah hebat, orang-orang juga mengatakan bahwa pemuda itu masih kalah hebat dari si pertapa.
Jadi si pemuda menemui si pertapa untuk menantangnya.
Sampailah dia di gubuk si pertapa di tengah hutan. Dia berkata:
“Hai pertapa tua, mengapa orang-orang berkata bahwa kemampuan memanahmu lebih baik daripada kemampuan saya? Jika memang kemampuanmu lebih baik, mari… kita bertanding!”
Si pertapa tersenyum, lalu berkata: “Hmm… memangnya sehebat apa dirimu nak?”
“Saya sudah berturut-turut menjuarai lomba memanah, tapi orang-orang, bahkan guru saya sendiri, mengatakan bahwa saya masih kalah hebat daripada dirimu, apa maksudnya itu? Jadi ayo… mari kita bertanding!”
Pertapa: “Baiklah, coba tunjukkan kemampuan terbaikmu!”
Si pemuda kemudian melihat sekeliling, dan melihat ada buah apel kecil di atas pohon, yang jaraknya cukup jauh, dia lalu berkata:
“Perhatikan…. buah apel kecil di kejauhan itu?”
Kemudian dia menyiapkan busurnya, melepaskan sebuah anak panah, dan benar saja, anak panahnya tepat mengenai sasaran, buah apel kecil di kejauhan itu, tepat terpanah di bagian tengahnya.
Si pertapa kemudian berkata: “Ayo, ikut saya.”
Ternyata si pertapa mengajak si pemuda untuk berjalan menaiki bukit yang cukup tinggi,
lalu…tibalah mereka di suatu bagian bukit, dimana ada sebuah jembatan dari kayu kecil di atas jurang.
Jembatan itu tampak tidak kokoh dan tidak stabil.
Pertapa ini kemudian berjalan ke atas jembatan itu, dan dari sana, dia mulai memanah ke sebuah pohon yang ada di bawah bukit. Panahnya tepat mengenai sasaran.
Pertapa lalu berkata: “Giliranmu, anak muda!”
Si pemuda hanya terdiam. Jangankan memanah, berdiri di atas jembatan kayu yang tidak stabil, di atas jurang itu saja dia tidak berani.
Melihat si pemuda hanya diam, si pertapa tersenyum, lalu berkata: “Hmm… anak muda, kamu mampu menguasai busurmu, namun… kamu belum mampu menguasai rasa takutmu sendiri. Itulah sebabnya mengapa orang-orang mengatakan, kamu masih kalah hebat dari pertapa tua ini.”
Pemenang terhebat adalah ia yang mampu menguasai dirinya sendiri.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu


