Ada sepasang suami istri, yang selalu bertengkar. Hari-hari mereka selalu dipenuhi dengan pertengkaran.
PODCAST
Tepat di sebelah rumah mereka, hidup sepasang suami istri lain.
Kehidupan mereka sangat damai.
Kadang-kadang memang terdengar suara mereka berargumen, tetapi tidak pernah lama. Yang sering terdengar adalah suara obrolan riang dan tawa yang ceria.
Suami istri yang suka bertengkar ini merasa iri sekaligus heran, mengapa tetangga mereka itu selalu hidup rukun.
Suatu hari si istri berkata suaminya:
“Hei, lihat tetangga kita itu, mereka tidak pernah bertengkar, pergilah ke sana, coba intip, lihat mengapa mereka bisa hidup begitu damai.”
Si suami kemudian pergi ke rumah tetangganya.
Dari jendela, dia melihat, sang istri di rumah itu sedang mengepel lantai, tiba-tiba dia berlari keluar dapur, dan berteriak.
Tampaknya suara teriakannya terdengar oleh suaminya.
Si suami berlari ke arah sumber teriakan, dan tanpa sengaja menendang ember di lantai.
Air di dalam ember itu tumpah semua.
Suami dari tetangga sebelah yang melihat pemandangan ini, merasa senang.
Ia merasa yakin sebentar lagi istri tetangganya itu akan mengamuk melihat tumpahan air dari ember.
Ia sendiri, mungkin akan membalas istrinya dengan perkataan ‘salahmu sendiri menaruh ember sembarangan! Memangnya kakiku punya mata!’
Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat istri tetangganya itu, menepuk suaminya dari belakang, dan berkata,
“Aduh Abang! Maaf ya bikin kamu menendang ember itu! Saya menaruhnya sembarangan tadi karena saya melihat kecoak! Saya buru-buru kabur!”
Suaminya kemudian berkata,
“Aduh Dik! Maafkan saya. Pekerjaanmu jadi bertambah. Saya tidak hati-hati. Biarkan saya membersihkan semua genangan air ini!”
Setelah melihat semua itu, si suami yang selalu bertengkar dengan istrinya ini pun pulang.
Ia termenung sendirian, memikirkan betapa berbedanya dirinya dengan sikap tetangganya itu terhadap satu sama lain.
Istrinya melihat suaminya lalu berkata,
“Jadi? Kamu sudah ke sebelah? Apa yang kamu lihat?”
Sang suami menjawab,
“Tidak, saya tidak melihat apa-apa, mereka ternyata sedang pergi keluar.”
Namun sejak itu, sang suami berusaha merubah dirinya agar menjadi tidak egois lagi, dan selalu memikirkan istrinya terlebih dahulu.
Sebelum menyalahkan istrinya, ia selalu meminta maaf terlebih dahulu. Istrinya yang selalu bertengkar dengannya, tiba-tiba berubah menjadi penyayang, baik hati, dan tidak egois.
Ia pun mengerti, kunci dari hidup yang damai adalah dengan mencari ke dalam, bukan keluar.
Anda tidak akan bisa merubah orang lain. Yang bisa Anda lakukan hanyalah merubah diri sendiri.
Dengan merubah diri sendiri, niscaya orang-orang di sekeliling Anda juga akan berubah.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu
