Ada sebuah pepatah: “Prinsip adalah dasar dari kesuksesan”. Apa prinsip bagi seorang manusia? Untuk menilai apakah seseorang itu baik, kita tidak melihat jumlah perbuatan baik yang dia lakukan. Sebaliknya, kita harus melihat apakah dia dapat mematuhi prinsip-prinsipnya dan hidup sesuai dengan hati nuraninya.
Kisah Chang dan Li
Chang maupun Li adalah staff divisi purchasing yang bekerja untuk perusahaan yang sama. Li sedikit lebih senior dalam hal pengalaman kerja dan dia sering berbuat licik untuk keuntungannya sendiri.
Pada satu kesempatan, perusahaan perlu membeli sejumlah besar bahan baku. Baik Chang maupun Li bertanggung jawab atas pengadaannya. Li memilih perusahaan yang memberikan kualitas lebih rendah tetapi setuju untuk memberi persen kepadanya. Sebaliknya, Chang selalu menolak tawaran keuntungan pribadi. Dia bersikeras pada kualitas dan terus membandingkan berbagai perusahaan sampai dia menemukan yang terbaik.
Beberapa hari kemudian, perusahaan mengadakan pertemuan untuk memutuskan supplier mana yang akan dipilih. Harga yang diberikan Li jauh lebih rendah daripada harga Chang. Sementara mereka berdebat tentang perbedaan harga, Li berdiri dan berjanji untuk menjamin kualitasnya. Bos akhirnya memutuskan untuk memesan dalam jumlah tertentu untuk mencoba kedua supplier.
Bahan-bahan baku yang dibeli Chang diolah di pabrik perusahaan dan menghasilkan barang bermutu tinggi. Klien yang ada bahkan memperkenalkan klien baru kepada perusahaan karena kualitasnya. Bahan-bahan baku yang dibeli Li, di sisi lain, menghasilkan barang yang bermutu rendah dan menyebabkan banyak retur yang mengakibatkan mitra jangka panjang meminta pembatalan pesanan mereka. Perusahaan menderita kerugian besar. Li kemudian dipecat dan Chang dipercayakan dengan tugas untuk pembelian selanjutnya.
Ada pepatah: “Manusia ingin menjadi kaya dan sejahtera, tetapi jalan yang ditempuh untuk mencapai itu harus secara baik”. Semua orang menyukai uang, tetapi tidak semua orang bisa tetap berpikiran jernih di depan uang.
Prinsip anda mencerminkan karakter anda. Untuk melihat apakah seseorang itu baik atau buruk, lihat kekuatannya untuk berpegang pada garis dasar prinsip-prinsipnya yang lurus. Jika seseorang dapat dengan mudah melepaskan prinsip-prinsipnya atas godaan uang, itu berarti dia tidak bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Lalu bagaimana dia bisa bertanggung jawab atas orang lain?
Nilai Sebuah Lukisan
Pada masa Dinasti Song, ada seorang pemuda yang bepergian ke ibu kota untuk ujian kerajaan. Dia melihat seorang pria menjual lukisan di jalan. Pemuda itu menyukai lukisan dan memahami seni, jadi dia berhenti untuk melihatnya. Setelah melihat sekali saja, dia bisa tahu bahwa itu bukan lukisan yang bagus. Ketika dia berbalik untuk pergi, penjual itu bertanya kepadanya, “Anak muda, menurutmu berapa nilai lukisanku?”
“Maafkan kejujuran saya: Lukisanmu hanya bernilai satu ons perak”, jawabnya sambil mengatupkan tangan.
Pemuda itu mengikuti ujian kerajaan dan adalah lulus. Ketika dia pergi ke istana kekaisaran untuk menghormati kaisar, dia terkejut menemukan bahwa orang yang dilihatnya menjual lukisan itu adalah sang kaisar.
Kaisar juga mengenalinya. Dia ingin mengujinya, jadi dia mengeluarkan lukisan yang sama dan menanyakan pertanyaan yang sama.
Pemuda itu tertegun. Jika dia bersikeras pada harga yang sama, itu akan menyinggung kaisar. Namun jika dia mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan prinsipnya sendiri untuk menyenangkan hati kaisar, dia akan berbohong dan dia tidak bisa memaksakan diri untuk melakukan itu.
Dia berpikir sebentar, lalu menjawab dengan jenaka: “Jika Yang Mulia memberikan lukisan ini kepada saya, itu akan sangat berharga bagi saya; jika Anda ingin menjualnya di jalan, itu hanya bernilai satu ons perak”.
Sang Kaisar tidak marah sama sekali tetapi sangat senang dengan pemuda itu karena dia tidak melanggar prinsip-prinsipnya sendiri, yang membuatnya menjadi orang yang layak dipercaya.
Sebagai penghargaan atas kepatuhan pemuda itu pada prinsip-prinsipnya, kaisar menempatkannya pada posisi penting. (visiontimes/bud/ch)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

