Ada sebuah cerita, seorang kakek bersama cucunya pergi bertamasya, mereka tersesat di tengah hutan, kakek dan cucunya hanya bisa setelah lapar makan buah-buah hutan dan minum air sungai, setelah lelah bersandar di bawah pohon besar beristirahat. Ketika dalam keadaan demikian, kakek akan membungkukkan badan mengucapkan terima kasih kepada sungai dan pohon besar, dengan penuh perasaan berkata, “Terima kasih!”. Cucunya melihat perbuatan kakeknya dengan tidak mengerti bertanya, “Kakek, kenapa harus berterima kasih kepada mereka?”
Kakek dengan ramah berkata, “Cucuku, mereka pantas mendapat terima kasih kita, jika tidak ada mereka maka kita berdua sudah akan mati kelaparan dan kehausan, mereka adalah penolong kita dalam kesulitan ini, kita tidak hanya akan berterima kasih kepada pohon besar dan sungai, kita juga harus berterima kasih kepada seluruh burung yang bernyanyi untuk kita, kuntum-kuntum bunga yang bermekaran, sinar matahari yang membelai kita.. mereka telah menolong kita, kita pasti bisa keluar dari hutan ini.”
Seperti yang dikatakan kakek ini akhirnya mereka bisa menemukan jalan keluar dan dapat keluar dari hutan. Mereka berdua ketika sudah berada diluar hutan, kembali membalikkan badan dan membungkuk mengucapkan terima kasih kepada hutan yang membawa memori indah selama mereka tersesat.
Setelah selesai membaca cerita ini saya terus berpikir, jika yang tersesat adalah saya, apa yang akan saya lakukan? Jika menuruti tabiat masa lalu saya maka saya mengeluh, mengasihani diri sendiri, tetapi mengeluh dan mengasihani diri sendiri apakah bisa menyelesaikan masalah?
Ketika nilai pelajaran matematika saya tidak bagus, saya mengeluh guru matematika tidak pintar mengajar, menyesali diri sendiri yang tidak serius belajar; ketika terjadi konflik dengan teman di sekolah, saya terus mengeluh teman saya tidak tahu berterima kasih, mengasihi diri sendiri mempunyai teman yang demikian…. tetapi akhirnya adalah nilai matematika saya semakin jelek, teman baik saya menjauhi saya. Kebalikannya, kakek di cerita diatas sangat bijaksana.
Rasa bersyukurnya terhadap alam dan binatang di sekelilingnya menjadi momentum ke depannya, dia selalu membiarkan dirinya merasa bahwa dia adalah orang paling beruntung, dan dilindungi. Kekuatan dari rasa syukur demikian besar! Dalam hati saya mengucapkan terima kasih kepada penulis cerita tersebut, karena cerita ini membelikan saya wawasan yang sangat mendalam.
Pada hari-hari ketika meninggalkan rumah pergi ke Beijing, saya semakin merasakan jika didalam hati terdapat rasa bersyukur kekuatannya sangat dahsyat. 3 tahun yang lalu, saya datang ke Beijing mengikuti ujian, pertama saya merasa semuanya terasa asing, sendiri dan kesepian semua rasa tersebut seperti menyerang saya, perasaan rindu rumah sangat kuat, karena masa depan yang tidak jelas membuat saya sering terbangun ditengah malam, ditambah lagi musim dingin di Beijing sangat dingin membuat saya tidak terbiasa, saya jatuh sakit, seluruh lidah saya sariawan, kerongkongan sangat sakit dan tidak bisa bersuara, memikirkan di rumah betapa ibu dan bapak menyayangi saya, sekarang hanya sendirian di Beijing, sangat menyedihkan, ketakutan membuat saya meneteskan air mata.
Tiba-tiba, saya merasa ada sebuah tangan hangat yang memegang kening saya, sebuah suara ramah bertanya, “Apakah engkau tidak enak badan? Saya akan membantu Anda membeli obat!” rupanya dia adalah teman sekamar di asrama.
Teman-teman di asrama mendengar saya sakit, mereka datang menjenguk saya, ada yang membantu saya menuang air, ada yang memasak nasi, dalam sekejab, 6 gadis yang berasal dari berbagai kota di negara ini menjadi teman baik, didalam hati saya merasa sangat bersyukur.
Teman sekamar saya membantu memberikan kompres. Pada malam itu dia tidak dapat tertidur nyenyak, sebentar-bentar dia terbangun menukar kompres di kepala saya, dan memegang kening saya, melihat apakah panas badan saya sudah turun.
Hati saya terasa sangat hangat, begitu banyak kasih sayang mengelilingi saya, saya sangat beruntung. Saya sedang berpikir, jika suatu hari ada orang yang sakit, saya juga akan berbuat demikian.(minghui school)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
