Saya ingin berbagi pengalaman dan perjalanan hidup dengan Anda. Semoga berkenan dan menumbuhkan. Belajar dari peristiwa ini saya dan Anda akan lebih memahami apa makna dan hakikat refleksi diri.
Refleksi dalam bahasa Inggris, reflection, memiliki makna bercermin (melihat diri). Pemahaman saya berefleksi berarti melihat kembali pada diri sendiri atas suatu peristiwa.
Belum lama ini, putra saya hampir setiap hari mau ke sekolah perutnya mual, setelah ditelusuri oleh ibunya ternyata ia sering diperlakukan tidak baik oleh seorang temannya di sekolah. Anak saya stres. Saya tidak pernah mengajarinya untuk balas memukul, tapi bersikap lebih percaya diri. Namun tak urung, itu membuat saya gemas. Peristiwa ini tiba-tiba membuat saya teringat dengan teman sekelas bernana Li Cen Fong.
Refleksi berarti melihat dan memaknai kembali pengalaman
Ketika duduk di kelas empat SD, saya termasuk siswa nakal. Suatu kali, datang seorang murid baru bernama Li Cen Fong. Ia berperawakan gempal dan terlihat menggemaskan. Seingat saya, hampir setiap hari dia mendapat perlakukan buruk dari saya dan teman-teman lain. Saya adalah satu yang paling mem-bully-nya. Pernah satu hari saya minta seorang teman untuk mengajaknya ke kamar kecil, yang memang terletak di belakang sekolah. Di situ saya dan beberapa siswa lain sudah siap dengan berbagai jurus untuk memukulinya, dan keesokan harinya ia sudah tidak pernah muncul lagi di sekolah.
Keesokan harinya, saya dan teman karib saya digelandang oleh wakil kepala sekolah dan mendapat “jitakan” di kepala. Saya pun lari sampai dikejar-kejar dengan sebutan “PKI” (Partai Komunis Indonesia).
Saya menyesal dan besoknya sepulang sekolah, saya dan beberapa teman yang pernah memukulnya hendak minta maaf padanya. Perjalanan jauh kami tempuh dengan berjalan kaki dan ketika sampai di toko yang juga sekaligus rumahnya, kami bertemu dengan ayahnya. Saya mengutarakan maksud kami dan hendak minta maaf. Tapi ayah Li Cen Fong tidak mengijinkan kami bertemu, dan mengatakan semua baik-baik saja dan kami semua diminta pulang.
Sebelumnya, ketika menceritakan hal ini, khususnya ketika jadi mahasiswa – saya mengenangnya sambil tertawa dan bangga karena pernah menjadi anak nakal ketika SD. Tapi semuanya menjadi berbeda makna ketika sekarang saya menjadi ayah. Betapa saya ini begitu jahat, bagaimana hati saya sebagai seorang ayah yang anaknya di-bully oleh teman kelasnya. Bagaimana perasaan Li Cen Fong saat itu?
Ketika saya melakukan refleksi diri, mengingat ulang kejadian Li Cen Fong, saya pun menitikkan air mata dan harus mengakui ini adalah salah satu peristiwa yang membuat saya terpukul. Saya hingga sekarang belum dimaafkan dan meminta maaf. Dan ternyata ketika saya coba melihat dengan lebih dalam, banyak penyimpangan karenanya. Dalam proses ini saya menyadari, saya justru sering bersama dengan teman-teman beretnis Tionghoa. Teman baik saya etnis Tionghoa, ibu angkat saya beretnis Tionghoa, beberapa mantan pacar saya juga beretnis Tionghoa. Meskipun saya sendiri anak “pejabat” (peranakan Jawa dan Batak). Kadangkala hal yang kita benci akan menjadi yang kita cintai dan apa yang tidak selesai dimasa lalu akan meminta pertanggungjawabannya sekarang atau dikemudian hari….
Semakin kita terampil dalam melakukan refleksi semakin kita bijak, memiliki perspektif luas dan toleransi. (ntdtv/candra)

