Budi Pekerti

Satu Pikiran Baik dari Berandal Pemalas, Menyelamatkan Desa dari Bencana

Berpikir (Zen Chung @Pexels)
Berpikir (Zen Chung @Pexels)

Kadang, kita mengalami masa-masa sulit dalam hidup, lalu menyerah, hilang harapan dan menjadi putus asa. Tetapi budaya tradisional mengajarkan, hanya butuh satu pikiran atau tindakan penuh kasih untuk membalik situasi agar menjadi lebih baik.

Jauh sebelum partai komunis mengambil alih Tiongkok, kisah kebajikan telah diturunkan selama ribuan tahun dalam budaya tradisional Tiongkok. 

Cerita ini berkisah tentang bagaimana satu pikiran baik, yang muncul dari sifat belas kasih, dapat memiliki efek yang mengubah hidup.

Di daerah pegunungan barat provinsi Zhejiang, hiduplah seorang pemuda pemalas yang suka makan. Hidupnya tidak jujur, rakus, dan pikirannya penuh nafsu.

Dia sering mencuri dari teman dan keluarganya. Penduduk desa terus mengeluh akan perbuatannya yang suka melecehkan para wanita di desa. Orang-orang berpikir hidupnya tidak akan berkesudahan dengan baik.

Kemudian suatu hari, sebuah bencana menimpa desa.

Desa diselimuti awan gelap, gemuruh guntur, dan kilat memenuhi langit. Hujan lebat, air bah naik dengan cepat. Sepertinya ini adalah hari akhir dari desa itu. Hampir semua orang berusaha menyelamatkan diri.

Namun, si berandal pemalas melakukan hal sebaliknya. Alih-alih pergi menjauh dari bencana, dia tiba-tiba lari menuju ladang. Melihat hal ini, anggota keluarga semua menghalangi.

Karena kata-kata mereka tidak diindahkan, dengan marah mereka mengutuknya, “Pergilah, biarkan petir menyambarmu, dan ketika itu terjadi, kami mungkin tidak ada di sana untuk membantu.”

Bukan pertama kalinya dia mendengar kata-kata kasar seperti itu. Ia sudah terbiasa karena tak seorang pun di desa yang menghormatinya.

Tak peduli dengan semua hujatan, dia mengambil cangkul dan bergegas ke ladang.

Ketika tiba di ladang, dia melihat bahwa air mulai membanjiri ladang gandum. Namun, dia tahu dia harus bertindak cepat untuk menyelamatkan hasil panen.

Dengan tekad yang kuat, dia berkata pada dirinya sendiri, “Saya perlu melakukan sesuatu, atau semua kerja keras yang dilakukan penduduk desa akan sia-sia, dan itu berarti seluruh desa akan kelaparan.”

Meskipun hujan deras dan guntur menderu, si berandal menyingsingkan lengan bajunya dan terus bekerja.

Sendirian, dia mencangkul, satu demi satu, menopang batang gandum. Tidak sekali pun dia berpikir bahwa dia mempertaruhkan nyawa hanya untuk menolong desa di saat yang kritis.

Kebijaksanaan kuno mengatakan bahwa surga dan para dewa melihat hati manusia. Dengan pemikirannya yang tanpa pamrih untuk membantu sesama, tidak khawatir akan risiko yang akan terjadi, setelah dia selesai bekerja, secara ajaib awan menjadi cerah.

Hujan lebat tiba-tiba terhenti dan langit sekali lagi menjadi cerah. Seolah-olah para dewa benar-benar memberi hadiah atas kebaikan dan ketidakegoisan si berandal desa.

Memang, satu pikiran positif yang berakar pada kebaikan dapat mendorong Anda ke arah yang benar.

Hal yang sama juga dialami oleh si pemalas atas perbuatan baiknya yang tanpa pamrih. Segalanya berubah. Meskipun fisik dan mentalnya terkuras, dia merasa telah berubah. Dia menyadari bagaimana pentingnya hidup dan setiap tindakan yang dia ambil. Dia berjanji untuk berubah menjadi orang yang lebih baik.

Bagaikan kisah dalam dongeng, melihat transformasinya yang luar biasa, tidak lama kemudian, semua orang di desa mulai menghormatinya. Dia mengambil jalan kebaikan sejati dan bekerja dengan rajin sejak hari itu.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa satu pemikiran belas kasih memiliki kekuatan untuk membimbing kita kembali ke cahaya terang di tengah masa-masa yang sulit. (epochtimes)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI