Budi Pekerti

Saudara Dalam Perang

Pada tanggal 20 Desember 1943, pilot Amerika Letnan Charlie Brown ditugaskan untuk menghancurkan gudang senjata di Bremen, Jerman. Misi pengeboman ini berhasil, namun saat kembali, ia dikejar oleh setidaknya 15 pesawat musuh yang terus menembakinya. Pesawatnya telah kehilangan ekor, satu sayapnya rusak parah, satu dari 10 anggota awak tewas dan enam lainnya terluka.

Salah satu pilot Jerman dengan cepat terbang mengejar ke arah Letnan Brown. Kedua pesawat itu menjadi sangat dekat, kedua pilot bisa melihat satu sama lain. Namun, diluar dugaan, pilot Jerman ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan menembaknya; bahkan memberi isyarat kepada Letnan Brown untuk mengikutinya, dan kemudian mengawal pesawat yang rusak itu melalui Laut Utara, terbang bersamanya sejauh 32 kilometer. Sebelum pilot Jerman itu kembali, ia memastikan pesawat yang rusak itu mendarat dengan selamat di bandara Norfolk. Peristiwa misterius ini menghantui Brown: Mengapa pilot Jerman itu menentang perintah dan membiarkan pesawat musuh yang rusak parah ini selamat, bahkan membantunya dalam penyelamatan?

Lebih dari 40 tahun kemudian, pada tahun 1987, Brown mulai mencari pilot Jerman yang menyelamatkan hidupnya. Namun, dia bahkan tidak tahu apakah pilot itu masih hidup. Dalam sebuah majalah khusus untuk pilot pesawat tempur, Brown memposting iklan yang berbunyi: “Mencari seseorang yang menyelamatkan hidupku pada 20 Desember 1943.”

Penyelamat Brown adalah Franz Stigler. Setelah perang, ia pindah ke Vancouver, Kanada. Stigler melihat iklan Brown. Inilah bagaimana dua orang yang pernah bermusuhan dan belum pernah bertemu dalam beberapa dekade akhirnya bertemu; dan kebenaran akhirnya berbicara.

Ketika mereka bertemu, Stigler menceritakan tentang mengapa dia tidak menembaki pesawat pembom itu. Dia berkata: “Dari jarak yang dekat, saya melihat Anda berdarah, melihat kerusakan di badan pesawat Anda dan melihat banyak orang yang terluka dan ketakutan di kabin. Saya tahu bahwa pesawat musuh ini telah kehilangan kemampuan untuk bertarung melawan saya. ”

Pada saat itu, Stigler yang berusia 26 tahun sudah menjadi pilot ace Nazi. Dia telah menembak jatuh 22 pejuang Sekutu. Jika dia menembak jatuh satu pesawat lagi, dia akan menerima Knight Cross (penghargaan tertinggi di militer dan paramiliter pasukan Nazi Jerman selama Perang Dunia II).

Namun, Stigler ingat instrukturnya memberi tahu dia sebelum misi pertamanya: “Kehormatan adalah di atas segalanya. Jika saya melihat atau mendengar bahwa Anda menembaki penerjun payung, saya sendiri akan menembaki anda. Etika perang adalah untuk dirimu sendiri, bukan musuhmu. Kepatuhan semacam ini dapat menjaga sisi kemanusiaan anda.”

Pada akhirnya, hati nurani akan mengalahkan ambisi akan kemenangan. Stigler mengenang: “Menurut saya, menembak jatuh pesawat yang rusak parah tidak ada bedanya dengan menembak penerjun payung. Saya tidak bisa melakukan itu. Tetapi saya juga merasa khawatir akan situasi tersebut.”

Ketika berada sangat dekat dengan musuh dan tidak mengambil tindakan untuk menembaki musuh tersebut, bisa mengakibatkan Stigler dituduh melakukan pengkhianatan dan bisa dihukum tembak. Karenanya, Stigler tidak mengatakan apa-apa pada Komandan perangnya setelah kembali.

Sementara Brown sendiri, setelah mendarat, ia langsung mengirim laporan yang luar biasa ini kepada komandannya. Sang Komandan berpesan padanya agar tidak memberitahu siapapun juga tentang hal ini, agar tidak memberikan kesan bahwa musuh telah berbaik hati.

Pada tahun 2008, dua veteran Perang Dunia II ini meninggal dunia, selisihnya kurang dari enam bulan. Stigler berusia 92 tahun dan Brown berusia 87 tahun. Dalam obituari mereka, mereka saling memanggil satu sama lain dengan sebutan “saudara istimewa.” Berbagi cerita ini akan membuat perasaan yang dimiliki kedua saudara istimewa ini juga akan diteruskan kepada yang lainnya. (visiontimes/ron/ch)