Site icon NTD Indonesia

Sebuah Pelajaran Pernikahan dari Setengah Semangka

Apakah Anda sudah menikah atau belum, seberapa sibuk pun Anda, ini layak untuk dibaca. Ini adalah cerita tentang seni hidup sebagai pasangan, menunjukkan bagaimana detail-detail kecil mengungkapkan cinta dan pengertian — semuanya melalui tindakan sederhana memakan setengah semangka.

Pertengkaran yang dipicu oleh setengah buah semangka

Suatu siang yang panas terik, seorang suami pulang kerja dalam keadaan basah kuyup oleh keringat. Saat membuka lemari es, ia senang menemukan setengah buah semangka yang dingin dan segera memakannya habis.

Tak lama setelah itu, istrinya, Lina, pulang ke rumah, juga kepanasan dan kehausan. Dia membuka lemari es dan terkejut saat melihat semangkanya sudah hilang.

Ketika suaminya dengan santai mengatakan bahwa dia sudah memakannya, sedikit rasa tidak senang melintas di wajahnya. Dia berbalik untuk menuangkan air, tetapi menemukan teko kosong. Dengan frustrasi, dia bertanya mengapa dia tidak merebus air meskipun dia sudah berada di rumah cukup lama. Dia menjawab dengan nada marah: “Mengapa aku harus melakukan semuanya?”

Pertengkaran kecil itu berkembang menjadi perang dingin yang berlangsung seminggu.

Kebijaksanaan seorang ayah

Pada akhir pekan itu, suami mengunjungi orang tuanya sendirian dan menceritakan perdebatan tersebut kepada mereka. Ibunya menegurnya karena dianggap egois, sementara ayahnya tersenyum dan menyuruhnya membawa Lina keesokan harinya.

Ketika tiba, ayah menyuruh Lina ke dapur untuk menemui ibu, kemudian menyuruh anaknya ke ruang tamu, memberikan setengah semangka kepada anaknya dan mengingatkan: “Jika kamu tidak bisa menghabiskannya, simpanlah sebagian untuk istrimu.” 

Di dapur, sang ibu juga memberikan setengah semangka ke Lina dan berkata: “Jika kamu tidak bisa menghabiskannya, simpanlah sebagian untuk suamimu.” 

Saat makan siang bersama, ayah meletakkan dua potong semangka yang setengah dimakan di atas meja dan meminta anaknya untuk membandingkannya.

Setengah bagian telah dimakan olehnya, dan setengah lainnya oleh Lina. Setengah bagian miliknya telah diambil dari bagian tengah, meninggalkan hanya kulit yang putih pucat di belakang. Setengah bagian milik Lina telah dimakan dari sisi-sisinya, menyisakan bagian merah termanis untuk orang lain.

Ayah berkata dengan lembut: “Perkawinan dibangun atas detail-detail kecil ini. Jika kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, seiring waktu, hati pasanganmu akan menjadi dingin. Jika Lina seperti kamu, bagaimana perasaanmu?”

Wajah anaknya menjadi merah.

Pencerahan dan perubahan

Kata-kata itu menghantam hatinya. Tiba-tiba, ia menyadari betapa banyak hal kecil yang selama ini ia anggap remeh: sandal yang selalu siap di dekat pintu, secangkir teh di atas meja, payung yang sudah disiapkan saat hujan turun. Semua tindakan cinta yang sederhana itu adalah cara istrinya merawatnya. Namun, ia telah bersikap acuh tak acuh, jarang menyadari atau membalasnya.

Dengan malu-malu, ia meletakkan bakpao-nya di depan Lina dan berkata: “Kamu makan dulu.” Lina tertawa dan menggoda: “Jangan berpura-pura di depan Mama dan Papa.”

Ayahnya tertawa kecil dan menambahkan: “Jika kamu bisa mempertahankan sikap ini seumur hidup, kamu akan menjadi suami yang baik.”

Bagaimana bentuk kebahagiaan sejati

Cinta adalah timbal balik. Kita seharusnya berusaha memahami pasangan kita dan merenungkan kelemahan kita sendiri, daripada mengabaikan perasaan mereka sebagai hal yang tidak masuk akal.

Kebahagiaan tidak bergantung pada ukuran rumah atau kemewahan mobil. Kebahagiaan ditemukan dalam tawa yang dibagikan di rumah, kembalinya orang-orang terkasih dengan selamat, dan senyuman cerah pasangan Anda.

Kebahagiaan sejati adalah ketika, di saat-saat tergelapmu, ada seseorang yang berkata: “Jangan khawatir, aku ada di sini bersamamu.”