Ini adalah kisah nyata. Pada tahun 1167, pada masa pemerintahan Kaisar Xiaozong dari Dinasti Song Selatan, sebuah kisah dari Fengcheng, Jiangxi, dicatat sebagai peringatan bagi generasi mendatang. Kisah itu menceritakan tentang sebuah keluarga yang terusir dari rumah mereka karena banjir dan kelaparan, dan tentang pilihan moral sepersekian detik yang menentukan siapa yang akan menerima berkah dan siapa yang akan menghadapi bencana.
Lebih dari 800 tahun kemudian, kisah itu masih memiliki kekuatan. Kisah itu sederhana, keras, dan tak terlupakan: ketika orang-orang terdesak, pikiran yang mereka pegang pada saat itu dapat membentuk segala sesuatu yang terjadi selanjutnya.
Keputusan gegabah di sungai
Tahun itu, banjir besar melanda Jiangxi. Keluarga-keluarga yang tinggal di dekat sungai tidak punya pilihan lain selain meninggalkan rumah untuk bertahan hidup.
Salah satunya adalah keluarga petani di Fengcheng yang kehabisan persediaan makanan. Karena tidak ada lagi yang bisa dimakan, petani itu berangkat ke timur menuju Linchuan, membawa serta ibunya yang berusia 70 tahun, istrinya, dan dua anak kecil mereka.
Di tengah perjalanan, mereka sampai di sebuah sungai kecil tanpa jembatan.
Petani itu diam-diam menarik istrinya ke samping dan berbicara dengan suara rendah. Bahan makanan mahal, katanya, dan keadaan sedang sulit. Mereka berlima tidak bisa bertahan hidup bersama. Dia akan membawa anak-anak menyeberang terlebih dahulu, dan istrinya bisa menyusul di belakang. Adapun ibunya yang sudah tua, dia sudah tua, sakit, dan terlalu lemah. Lebih baik meninggalkannya di tepi sungai. Karena tidak mampu menyeberang sendiri, dia akan tertinggal, dan akan ada satu mulut lebih sedikit yang harus diberi makan.
Sebelum istrinya dapat menjawab, dia mengangkat anak-anak dan menyeberangi sungai, meninggalkan ibunya di tempatnya berdiri.
Namun, istrinya tidak tega meninggalkan wanita tua itu. Dia mengesampingkan semua yang dikatakan suaminya, memegang lengan ibu mertuanya, dan membawanya ke dalam air. Arusnya cukup kuat sehingga wanita tua itu hampir tidak bisa menjaga keseimbangannya, jadi sang istri memeluknya erat dan mendukungnya di setiap langkah.
Di tengah perjalanan, ia terjebak di genangan lumpur. Ketika ia membungkuk untuk membebaskan sepatunya, ia menyadari sepatunya terjepit di bawah benda berat. Ia menyingkirkannya dan menemukan bahwa itu adalah bongkahan perak.
Dengan gembira, ia menoleh ke ibu mertuanya dan berkata bahwa Surga telah memberi mereka berkah. Mereka meninggalkan rumah karena kehabisan makanan, tetapi sekarang mereka memiliki cukup bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk memulai usaha kecil.
Ia dengan hati-hati membantu wanita tua itu kembali ke tepi sungai, lalu menyeberangi sungai lagi untuk menemui suami dan anak-anaknya dan memberi tahu mereka kabar tersebut.
Ketika ia sampai di seberang sungai, ia hanya melihat dua anaknya bermain di pasir. Suaminya tidak terlihat di mana pun.
Ia segera bertanya ke mana ayah mereka pergi.
Anak-anak itu, yang masih terlalu kecil untuk memahami apa yang telah terjadi, menunjuk ke arah hutan dan berkata bahwa tak lama setelah tiba, seekor lembu besar berwarna oranye dan hitam telah membawa ayah mereka pergi.
Sang istri merasa ngeri. Binatang macam apa yang bisa menculik seorang pria? Dia berlari ke pepohonan dan segera menemukan jawabannya. Di tanah terdapat bercak darah, tulang-tulang yang berserakan, dan gumpalan rambut. Suaminya telah dimakan habis. Apa yang digambarkan anak-anak itu bukanlah lembu, melainkan seekor harimau yang kelaparan.
Diliputi kesedihan, keluarga itu kembali ke Fengcheng.
Sebuah peringatan yang diabadikan untuk generasi mendatang
Kisah ini kemudian didengar oleh cendekiawan Dinasti Song, Hong Mai, yang memasukkannya ke dalam Yijian Zhi, kumpulan kisah aneh dan peringatan yang terkenal. Menurut catatan tersebut, Hong Mai mengetahui kejadian itu melalui Lan Shucheng, yang menjabat sebagai bupati Linchuan pada saat itu.
Ia mengakhiri kisah itu dengan penilaian yang tegas: “Hukuman untuk perilaku durhaka datang dengan begitu cepat.”
Petani itu mencoba menghitung jalan keluar dari kesulitan dengan menyingkirkan orang yang pernah melahirkan dan membesarkannya. Pada saat yang sama, istrinya memilih belas kasihan. Yang satu bertindak karena egois dan kejam; yang lain berpegang teguh pada kebaikan bahkan ketika masa depannya sendiri tampak tidak pasti. Jalan mereka terpisah pada saat melakukan pilihan itu, dan begitu pula nasib mereka.
Kisah-kisah seperti ini diwariskan bukan hanya untuk mengejutkan pembaca, tetapi untuk mengingatkan mereka bahwa karakter terungkap paling jelas di saat-saat terdesak. Ketika keadaan putus asa, orang sering percaya bahwa mereka harus melindungi diri mereka sendiri terlebih dahulu dan membenarkan apa pun yang mereka lakukan atas nama bertahan hidup. Namun kisah ini menunjukkan sebaliknya: bahkan dalam kesulitan, bertindak salah dapat membawa kehancuran, sementara berpegang teguh pada belas kasihan dapat membuka jalan di mana sebelumnya tidak ada jalan yang mungkin.
Itulah mengapa kisah ini masih bergema berabad-abad kemudian. Kisah ini tentang satu keluarga, satu aliran sungai, dan satu keputusan, tetapi pertanyaan yang diajukannya bersifat universal. Ketika pilihan sulit datang, hati seperti apa yang akan ditunjukkan seseorang?

