Budi Pekerti

Self Change (1)

Saya memiliki kerabat  yang terjerat dengan narkoba, bolak balik masuk panti rehabilitasi dan keluar masuk penjara, namun tidak jera-jera. Kehidupan yang tadinya berlebih sekarang tinggal dalam rumah kontrakan dengan pekerjaan seadanya. Namun anehnya ketika keadaan membaik sedikit, kembali ia menikmati kebiasaan lamanya. Narkoba lagi! Ditangkap lagi!

Saya merenung, mengapa saya pun sering jatuh pada kesalahan yang sama. Seperti kerabat saya di atas, bahkan penderitaan hebat pun tidak juga mampu membuat dia jera dan sadar. Bayangkan sudah jatuh miskin, narkoba, dipenjara pula. Bukankah sangat menderita? Bahkan penderitaan sebesar itu pun tidak cukup kuat untuk membuat seseorang bertobat. Berhenti dan mau berubah menjadi manusia baru. Terlintas dalam benak saya, pasti ada misteri dibalik semua ini.

Benda yang kita masukkan dalam pikiran kita hidup

Contoh sederhana  yang saya temukan sulitnya mengubah kebiasaan diri. Saya adalah penggemar film, sangat kerajingan nonton.  Pernah nonton seharian menghabiskan 6 DVD berseri, itu berarti saya habiskan waktu kurang lebih 12 jam. Dan pada periode waktu setelahnya, setiap saya melihat TV dan film, tarikan dari mereka yang membuat saya untuk diam melihat. Sepertinya mereka mengajak saya untuk duduk sebentar, melihat sebentar, dan menikmati mereka. Mereka tersebut seperti benda hidup. Mereka menarik tangan saya memegang remote, duduk dan terus diarahkan untuk melihat mereka. Bagaimana dengan anda? apakah anda juga menyadarinya?

Juga hp yang kita miliki, kita senantiasa diarahkan melihat sepanjang waktu. Dompet ketinggalan, kita belum tentu pulang. Tapi kalo hp ketinggalan, kita pasti pulang, karena uangpun sudah digital, ada didalam hp. Malah ada teman saya yang kalau tidak buka hp dalam satu hari sepertinya ada yang kurang, seperti kebiasaan makan. Kalau tidak makan akan kelaparan, sama jika tidak buka hp rasanya kelaparan, hidup terasa kurang karena ada yang belum tercukupi. 

Jadi semua hal/benda yang kita masukkan ke dalam diri kita (pikiran dan juga makanan) sebenarnya mereka itu hidup. Mereka menarik kita.

Manusia baik atau buruk ditentukan oleh apa yang masuk dalam pikiran

Sadar atau tidak sebetulnya hampir setiap saat kita memasukkan benda/sesuatu ke dalam diri. Prosesnya adalah dari apa yang kita lihat, dengar dan rasakan semuanya dirangkum oleh otak. ini adalah proses berpikir. Masalahnya seringkali kita tidak kritis dengan apa yang masuk ke dalam diri kita. Kita cenderung setuju dengan yang sesuai dan menolak yang berbeda. Kita cenderung mencari yang kita sukai dan otomatis membenci yang tidak kita sukai. Hal ini sepertinya otomatis tapi sebetulnya itu adalah proses pelan tapi pasti yang membentuk diri kita. Dan kita menjadi seperti yang kita masukkan.

Contohnya, jika kita memasukkan benda kotak ke sebuah kantong, maka kantong itu akan menunjukkan bidang bidang kotaknya. Semakin banyak bidang kotak yang dimasukkan semakin mudah kita melihat bidang kotak kotak tersebut tanpa harus mengambilnya dari kantong kita sudah bisa menebaknya. Juga seperti paku, jika kita hanya memukulnya sekali kurang kuat, tapi jika dua kali dan 3 kali, maka tancapannya semakin dalam dan sulit sekali untuk mencabutnya.

Jika yang kita miliki adalah banyak benda buruk, maka kita akan ditarik menjadi buruk atau sebaliknya kita memiliki kebiasaan atau benda benda baik kita akan diarahkan untuk jadi orang yang lebih baik.

Contoh sederhana, jika kita terbiasa menonton blue film, pikiran kita yang dirusaknya. Setiap kita melihat perempuan/pria ideal, membuat pikiran dan hati kita jadi tidak seimbang. Pikiran dipenuhi dengan nafsu dan perasaan pun bergejolak ingin segera dipenuhi kebutuhannya. Apa yang masuk dalam pikiran kita, itulah yang mempengaruhi tindakan kita. Bukankah kita jadi manusia cabul? Jika setiap hari yang kita masukkan dalam pikiran adalah hal hal porno.

Lingkungan sekitar berpengaruh terhadap pikiran

Selama ini saya menganggap diri sendiri yang tidak bisa menjaga dan mengendalikan, tapi dengan kesadaran ini, saya melihat benda/barang/jasa tertentu yang biasa kita gunakan berperan secara aktif menarik kita kepada kebiasaan tersebut.

Kita akan semakin sulit mengubah diri apabila jika benda/jasa itu semakin banyak ditawarkan di depan mata. Maka kenapa seseorang mudah jatuh dalam godaan. Ini adalah sebabnya, bukan hanya karena dirinya sendiri, yang memang suka berpikir buruk, tapi sekitarnya pun berperan aktif, membuatnya semakin terikat dan dikendalikan. Termasuk kekuasaan, pangkat, jabatan dan hal dunia lainnya. Oleh karena itu salah satu bentuk terapi yang dapat menyembuhkan adalah menarik keluar seseorang dari lingkungannya. 

Baik buruk seseorang ditentukan kondisi pikirannya

Memang betul semua dimulai dari pikiran, jika pikiran yang kita masukkan adalah hal hal buruk/negatif maka perilaku kita pun jadi negatif dan buruk. Sebaliknya kita senantiasa memasukkan hal yang positif, perilaku pun cenderung positif dan bermanfaat.

Kalau kita mengibaratkan kondisi pikiran kita dengan angka 1 sampai 10, satu itu buruk sekali dan 10 itu baik sekali, maka di tingkat mana kita hidup baik dan buruk kita bisa mengetahuinya. Misalnnya kita menyimpulkan pikiran kita adalah 5, berarti yang masuk ke dalam pikiran kita setengah positif dan setengah negative, tidak konsisten. Biasanya kondisi ini terlihat dari kecenderungan hidup yang peragu, pesimis dan berpraduga buruk. Tapi kalau kita menilai 8, kemungkinan kita adalah orang positif, kritis, berenergi dan siap hadapi tantangan kehidupan. Jadi baik atau buruknya seseorang, tergantung dari tingkat/kondisi pikirannya.

Menemukan kebaikan dan Membuang yang kotor

Pertanyaannya kemudian, hal hal apa yang sebaiknya dimasukkan dalam pikiran agar bisa mengubah diri? Menjadi pribadi yang lebih baik. Berubah lebih berdaya tahan. Pertama menyadari hal hal yang positif yang dimiliki diri. Kebaikan, prestasi, kebiasaan baik dan pengalaman pengalaman yang bernilai. Sadarilah hal hal tersebut dengan baik. Hal itu akan mendorong kita melihat betapa kita berharga bagi kehidupan. Seseorang yang hidupnya cenderung positif, bermakna dan memiliki vitalitas tinggi serta dibutuhkan oleh kehidupan.

Sebaliknya, kita pun perlu bertanya kepada diri sendiri tindakan atau perilaku buruk apa yang pernah terjadi dan dilakukan di dalam hidup. Jika kita menemukannya maka perlu kita berdamai, memaafkannya, membuangnya dan bertobat untuk menjadi pribadi yang lebih baik kemudian.Seseorang yang hidupnya cenderung buruk, hidupnya tidak berenergi, malas dan seringkali menjadi parasit bagi sekitarnya.

Untuk dapat menemukan kebaikan dan keburukan diri maka seseorang harus masuk ke dalam hatinya dan perlahan-lahan mengubah dari dalam. Mengubah hati. Hati yang keras menjadi lembut, hati yang malas menjadi hati yang dan rajin.

Salah satu keburukan yang saya temukan adalah kesombongan (rasa bangga diri), dan ketika saya masuk ke dalam diri saya bisa melihat betapa banyak peristiwa kesombongan tersebut. Dan jujur di balik kesombongan ada kebohongan.

Menjadi manusia baik semakin selaras dengan karakter alam semesta

Apakah Anda sudah menjadi manusia baik? Pengertian baik setiap orang bisa berbeda beda, karena pemahaman dan pengalaman setiap orang berbeda pula. Tapi saya sangat setuju dengan prinsip manusia baik yang ditulis oleh Mr. Li Hongzhi dalam bukunya, Zhuan Falun. Ia mengemukakan orang baik itu selaras dengan karakter alam semesta. Seballiknya semakin jauh dari karakter alam semesta semakin jauh orang tersebut dari baik. Kriteria itu adalah Sejati, Baik dan Sabar.C iri dari orang yang semakin selaras akan terlihat dari perilakunya yang bermoral artinya, mampu membedakan benar dan salah dan melakukan yang benar.

Sebuah tantangan, mampukah kita dengan konsisten bertanya kepada diri sendiri sudahkah selaras dengan karakter alam semesta, Sejati, Baik dan Sabar? Semakin kita berani bertemu dengan diri maka kita akan diarahkan untuk menjadi manusia baik. Bertanyalah setiap hari kepada diri sendiri.

Apa itu Sejati. Sejati berarti jujur, apa yang dikatakan itulah yang diperbuat, tidak berpura pura, apa adanya. Apakah hari ni saya sudah bertindak dan bersikap jujur?

Apa itu Baik? Baik berarti memikirkan orang lain dari pada kepentingannya sendiri. Memikirkan kepentingan yang lebih besar dari kepentingan dirinya. Berbelas kasih, ramah dan mau menolong. Apa kebaikan saya hari ini?

Apa itu Sabar? Sabar berarti mampu menanggung penderitaan. Tidak membalas ketika mendapat pukulan dan cacian, atau dirugikan orang. Apakah saya manusia sabar?

Kesimpulan

Seseorang tidak akan mampu mengubah dirinya, kalau benda-benda di dalam dirinya yang buruk tidak dibuang. Hal buruk yang terjadi disebabkan pertama-tama dari pikirannya sendiri dan didukung oleh sekitarnya. Seseorang akan mampu merubah dirinya jika mampu merubah level dari tingkatnya berpikir. Selama tidak ada perubahan pola pikir, maka ia tidak akan berubah dan sekitarnya bahkan akan mengikatnya untuk tidak berubah. Perubahan yang sesungguhnya dan mendasar dimulai dengan perubahan hati, menjadi hati yang baik. Memiliki hati yang baik berarti terus mengupayakan agar selaras dengan karakter alam semesta, Sejati, Baik dan Sabar. Semoga anda dan saya senantiasa diperbaharui menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat. (candratua)