Site icon NTD Indonesia

Semangkuk Nasi

Nasi

Nasi. ©pixabay

Ini adalah kisah dari Tiongkok kuno. Pada suatu waktu, ada seorang guru Tao yang dikenal karena kemampuannya yang luar biasa untuk memecahkan masalah rumit bagi orang-orang. Dua pria muda, yang bekerja bersama di sebuah perusahaan, memutuskan untuk datang menemuinya ketika mereka berdua memiliki pertanyaan di hati mereka yang tidak mereka tahu jawabannya.

Setelah berada di tempat tinggal sang guru, salah satu dari pemuda itu berkata: “Guru, masalah kami sama. Kami berdua adalah karyawan dari perusahaan yang sama, dan kami berdua diperlakukan dengan buruk di tempat kerja. Tolong beri tahu kami apakah kami harus mengundurkan diri dari pekerjaan kami”.

Orang bijak tersebut menutup matanya. Kemudian dia bermeditasi sebentar. Kedua pria itu menunggu dengan tenang sampai akhirnya, orang bijak itu membuka matanya, dan mengatakan jawabannya yang hanya beberapa kata: “Hanya semangkuk nasi”.

Setelah berterima kasih kepada orang bijak tersebut, mereka pergi. Mereka merenungkan kata-kata orang bijak tersebut ketika mereka berjalan kembali ke kota. Setelah beberapa saat, salah satu dari mereka berkata, “Menurut anda, apa maksud guru itu?” Beberapa saat kemudian, yang lain berkata: “Yah, sangat jelas bahwa semangkuk nasi menandakan makanan kita sehari-hari”.

“Aku setuju”, kata pria pertama. “Saya pikir dia memberi tahu kita bahwa pekerjaan kita tidak lebih dari alat untuk mencapai tujuan”. Yang lain berkata: “Saya setuju, kebenarannya adalah, itulah yang kita dapatkan untuk pekerjaan kita; makanan sehari-hari kita”.

Selanjutnya, salah satu dari mereka tetap bersama perusahaan, sementara yang lain mengundurkan diri. Dia meninggalkan kota menuju pedesaan tempat dia belajar bertani. Setelah bekerja keras selama beberapa tahun, ia menjadi petani yang sukses. Dia belajar tentang mengimpor benih berkualitas tinggi dari perusahaan sebelumnya dan mencapai kesuksesan. Buah-buahan dan sayurannya dikenal sebagai yang terbaik di wilayah tersebut.

Pria muda yang tetap di perusahaan juga melakukan pekerjaannya dengan lebih baik. Ia menjadi manusia yang berbeda. Dia mengambil tugas yang sulit dan menunjukkan kesabaran dalam menangani konflik. Dia menjalani pekerjaan dengan kemampuannya dan dipromosikan ke posisi manajerial, dan kemudian menjadi kepala cabang dengan gaji tinggi.

Perbedaan persepsi

Suatu hari, mereka itu bertemu tanpa sengaja. Mereka mengakui bahwa jalan mereka sangat berbeda satu sama lain, tetapi keputusan mereka didasarkan pada jawaban yang sama yang diberikan sang guru. Mereka berdua berhasil, jadi mereka mulai merenungkan jalan mana yang lebih benar.

“Kenapa kamu berhenti?” tanya sang manajer. “Bukankah sudah jelas?” petani itu menjawab. “Aku langsung menerima kata-katanya. Pekerjaan saya adalah bekerja untuk makan sehari-hari, jadi mengapa memaksakan diri untuk tetap dalam situasi yang tidak saya inginkan, hanya demi semangkuk nasi? Meninggalkan perusahaan bagi saya adalah hal yang benar untuk dilakukan”. Dia kemudian bertanya kepada temannya mengapa dia bertahan.

Sang Manajer tersenyum dan berkata: “Saya juga berpikir itu jelas; pekerjaan hanyalah pekerjaan dan itu tidak lebih dari semangkuk nasi, jadi mengapa saya begitu cemas tentang hal itu? Saya mengerti bahwa saya tidak perlu cemas. Saya tidak harus menganggap konflik terkait pekerjaan secara pribadi, jadi saya tetap bertahan. Bukankah guru berpendapat seperti itu?”

“Sekarang, saya benar-benar bingung”, kata petani itu. “Jalan mana yang menurut guru harus kita ambil, caramu atau caraku? Mari kita pergi menemuinya lagi untuk mendapatkan kejelasan”.

Mereka pergi menemui sang guru lagi. Mereka menjelaskan mengapa mereka ada di sana. Sekali lagi guru itu menutup matanya dan bermeditasi. Kedua pria itu menunggu dengan tenang seperti sebelumnya. Setelah beberapa saat, guru itu membuka matanya. Dia mengatakan jawabannya, sekali lagi hanya beberapa kata: “Hanya pada perbedaan pemikiran”.

Sepertinya sang guru memberi mereka jawaban yang agak aneh. Mengapa dia tidak menentukan yang mana jalan yang benar? Kedua pria itu menempuh dua jalan yang berbeda namun keduanya meraih kesuksesan. Apakah orang bijak itu memberi mereka isyarat?  

Sama seperti sungai yang mengalir di atas tanah menuju laut, dengan cara yang sama, hidup kita juga dapat dibandingkan dengan sungai yang secara alami rindu mengalir kembali ke sumbernya. Meskipun jalan kita tampaknya memiliki sedikit kesamaan, mereka tetap bisa mengarahkan kita ke tujuan yang sama, yaitu asal mula.

Apakah sang guru mengatakan bahwa satu cara lebih benar daripada yang lain? Jalan itu, menurut para pengikut Tao kuno, tidak memihak dan agung sama seperti alam dan tidak melihat secara spesifik cara anda.

Satu perbedaan kecil dalam pemikiran dapat membuat perbedaan besar dalam hasilnya. Kedua pria dalam kisah ini membuat keputusan yang tepat, dan mereka diberkati dengan keberuntungan. Namun, itu tidak secara otomatis berarti semua jalur sama-sama benar.

Meskipun kita dapat mengambil banyak jalan berbeda menuju tujuan yang sama, juga ada banyak jalan yang dapat membawa kita semakin jauh dari tujuan.

Para pengikut Tao percaya untuk membiarkan segala sesuatunya terjadi secara alami. Impuls menghasilkan ide yang kemudian membentuk pemikiran, akhirnya bermanifestasi sebagai tindakan. Dari tindakan ini, kebajikan atau karma, tergantung pada hasilnya, diperoleh. Inilah sebabnya mengapa melatih ketenangan pikiran sangat penting dalam kehidupan. (visiontimes/bud)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI