Site icon NTD Indonesia

Semestinya Perempuan Bersikap Lembut

©freepik

Dunia ini terdapat 2 jenis manusia, pria dan perempuan. Sebagaimana ajaran Taoisme tentang Yin (feminin) dan Yang (maskulin), alam semesta dilahirkan sebagai akibat kedua jenis materi Yin dan Yang tersebut saling berinteraksi.

Bila ditarik paralelnya ke dalam masyarakat manusia, pria dan perempuan sebagai kedua jenis Yang dan Yin saling menyatu. Hal ini sesuai dengan aturan siklus alam semesta,  dan masyarakat umat manusia barulah dapat berkembang secara harmonis.

Namun zaman berubah, peran Yin dan Yang terjungkir balik. Coba perhatikan masyarakat zaman sekarang, laki-laki seperti perempuan, perempuan seperti laki-laki, waria ada dimana-mana, fenomena suami takut istri, perempuan berupaya merebut posisi di depan, kalau lagi marah tidak mau mengalah, juga galak luar biasa. Artikel berikut ini hanya membahas kaum perempuan saja. Keistimewaan karakter bagaimanakah yang seharusnya dimiliki oleh seorang wanita?

Ada yang mengatakan harus cantik, sebenarnya bukan masalah penampilan, terutama wanita harus memiliki temperamen baik baru akan mendapatkan respek dari laki-laki. Ada yang mengatakan modal terbesar perempuan adalah pendidikan budi pekerti, ia tidak akan kehilangan auranya seiring dengan bertambahnya usia.

Bagaimanapun juga, kaum perempuan seharusnya berperilaku “lembut”. Lembut tidak identik dengan lemah, mutlak tidak mewakili ketidakmampuan dan kelemahan. Ia termasuk kepribadian mendasar dan modal kemandirian yang dianugerahkan alam semesta, keras dan lembut saling mengisi. Kelembutan bisa mengatasi kekerasan, tidak perlu bersaing dengan kaum pria, malah bisa bekerjasama secara harmonis dengan si maskulin Yang dan saling memancarkan kecermerlangan.

Menelaah sejarah 5.000 tahun peradaban Tionghoa, salah satu perempuan yang paling sukses ialah Permaisuri Changsun. Selain menjadi contoh ibu negara teladan kerajaan-kerajaan zaman dahulu, ia juga dianggap sebagai panutan perempuan intelektual pada zamannya. Ia tidak memiliki ambisi dan sifat kediktatoran ala Wu Zetian (kaisar perempuan Dinasti Tang pasca Taizong), juga tidak seperti selir Bao yang memikat lelaki mengandalkan kecantikan semata, justru menyandang tanggung jawab dan kemuliaan.   

Ia berwawasan luas dan piawai dalam tata krama, menguasai seluruh situasi, berbudi luhur dan elegan, bijaksana, citra seorang istri dan ibu yang bertanggung jawab, selain menata dengan rapi bagian belakang (rumah tangga) istana, juga setiap kali memberi masukan kepada Taizong untuk melengkapi kekurangan suami dan tidak pernah sesumbar bahwa itu adalah hasil pemikirannya.

Pernah suatu hari pejabat Wei Zheng mengajukan usulan kepada Kaisar Taizong, ternyata sang kaisar sangat tidak berkenan karena sedikit menyinggung mengenai kekurangannya. Dengan emosi Kaisar mengusirnya pulang. Ketika sang kaisar makan siang dan melihat mukanya sangat tegang, si permaisuri bertanya, “Baginda, apa yang terjadi dengan Anda?” Kaisar Taizong menjawab, “Si orang dusun itu lagi-lagi berulah, ia sehari-harinya hanya bikin jengkel saja, hari ini dia mempermalukan saya di singgasana, suatu saat nanti saya akan menghabisinya.”

Lantas bagaimana reaksi permaisuri Changsun? Dia menanyakan hal ikhwal perkaranya dengan lemah lembut, setelah itu tanpa berkata ia menyelinap ke ruang dalam dan berganti busana resmi untuk menghadap sang kaisar, dan saat kaisar kembali bertahta di singgasana, dengan formal ia masuk ke dalam ruangan aula, dan dihadapan para pejabat mengucapkan selamat kepada sang kaisar.

Ia berlutut di depan kaisar yang membuatnya keheranan, “Permaisuri, Ada apa?”

Permaisuri dengan khidmat menjawab, “Hamba pernah mendengar hanya seorang  penguasa bijaksana yang dapat mempunyai pejabat lurus dan jujur, kini pejabat Wei Zheng begitu lurus dan jujur, dari situ bisa dikatakan bahwa Baginda seorang bijaksana, untuk itu hamba memberi selamat kepada Baginda.”

Hati Tang Taizong sangat tersentuh mendengarnya, ia merasa perkataan istrinya sangat beralasan, maka awan gelap kekesalan yang menyelimutinya seketika itu sirna, Wei Zheng tidak sampai kehilangan nyawa dan jabatannya. 

Dari peristiwa ini, kita menyaksikan kecerdasan Permaisuri Changsun, yang di dalam kesetiaannya tersirat keluwesan, di dalam kelemah-lembutannya tersirat  kecerdasan. Perempuan bijaksana pasti selaras dengan prinsip Langit, menjaga kualitas hakiki kaum perempuan, menerjemahkan definisi “lemah lembut”, sama saja dapat memainkan lembaran kehidupan yang berkilauan.

Di dalam perjalanan sejarah yang panjang, barangkali dia bukan pemeran utamanya, melainkan peran yang tak bisa lepas saling memancarkan karisma dengan pemeran utama. Dia tidak bisa menjadi matahari, akan tetapi senantiasa menjadi bintang yang paling cemerlang dalam kegelapan malam.

Kaum perempuan zaman sekarang, bukankah juga bisa menemukan kembali sesuatu dari dalam kebudayaan tradisional tersebut? (epochtimes/whs)