Seminggu setelah diterima masuk bekerja, seorang manager senior membawa saya mengunjungi sekolah yang menjadi tanggung jawabnya. Setelah tiba di sekolah, saya hanya bisa menyapa kepala sekolah, tanpa bisa mengatakan sesuatu yang mengesankan. “Meskipun cantik, tapi koq rasanya mengerikan.” Ini kesan pertama saya tentang kepala sekolah wanita itu.
Selang beberapa hari, saya kunjungi lagi kepala sekolah, kali ini sendirian. Kepala sekolah hanya menatapku dan tidak berkata sepatahpun.
Untuk memecah kekakuan ini, saya mengajukan beberapa pertanyaan dengan sedikit kikuk. Misalnya, berapa banyak siswa di sekolah, apa kurikulum departemen itu, dan sebagainya. Dan hasilnya …
“Silakan kembali setelah kamu selesaikan PR dengan seksama. Aku tidak punya waktu luang untuk menemani pendatang baru yang tidak tahu apa-apa!”
Kepala sekolah tiba-tiba berkata dengan ekspresi kurang ramah.
Belakangan saya baru tahu, perusahaan tempat saya bekerja kerap menggonta-ganti manager yang menangani sekolah tersebut, sehingga kepala sekolah menjadi sangat tidak puas. Namun, saya hanya pelaku baru yang tidak tahu apa-apa, jadi saya hanya bisa gelisah dan meminta maaf. Setelah kembali ke perusahaan, saya menjelaskan situasinya kepada atasan dan berkata, “Saya akan kunjungi lagi setelah selesaikan pekerjaan rumah saya.” Bos saya mengiyakan dengan nada datar, katanya :
“Ya, besok kamu kunjungi lagi.”
“Apa? Besok? Tidak mungkin.”
“Jangan berkata apa lagi, besok kamu kesana lagi pasti benar.”
Karena bos memberi instruksi tanpa mau mendengarkan argumen saya, yang dapat saya lakukan terbaik, adalah membaca dan mempelajari sebanyak mungkin materi sekolah terkait, semua data saya masukkan ke dalam ingatan pikiran saya, dan mengunjungi lagi di keesokan harinya.
Saat bertemu lagi kepala sekolah, benar saja, perasaan terdiam tidak nyaman itu mulai lagi. Beberapa saat setelah mengatasi kebingungan, tiba-tiba saja saya berkata: “6 bulan lagi, saya pasti akan membuat anda merasakan, menjadikan saya sebagai penanggung-jawab merupakan pilihan yang terbaik. Tetapi sebelum itu, tolong anda bersabar dulu.”
Saya menunjukkan ketulusan maksimal di depan kepala sekolah, kata-kata saya tegas. Saat itu saya benar-benar memiliki tekad yang kuat untuk memberikan yang terbaik. Meski begitu, kepala sekolah terlihat tetap diam. Setelah selesaikan kalimat tersebut, saya pamitan lebih awal.
Sekembalinya ke perusahaan, kepala sekolah menelpon saya langsung dan berkata, “Ada sesuatu terkait manajemen sekolah yang ingin saya minta anda selidiki.”
Panggilan telepon itu membuat saya melompat, saya pikir kepala sekolah telah bersedia memberikan saya kesempatan.
Saya berusaha keras membuat rangkuman dari semua materi yang terkumpul, yang mungkin sedikit kurang matang dari sudut pandang saat ini, membawa informasi ini keesokan harinya setelah saya menerima panggilan telepon darinya. Dengan cara ini, uluran “kepercayaan” dari kepala sekolah kepada saya tidak tersia-siakan.
Instruksi yang diberikan bos kepada saya saat itu, mungkin hanya menguji apa yang akan saya lakukan sebagai pendatang baru. Namun, saya selalu menafsirkannya sebagai pesan “bertindak sesuai kemampuan saya saat ini, dengan penuh pertimbangan.” Jawaban saya saat itu adalah “kemampuan yang saya miliki sekarang hanyalah “antusias”.” Bukankah semua para pemula seperti ini adanya?
Meskipun kejadiannya sudah lewat bertahun-tahun, hingga kini, saya dan kepala sekolah masih saling melaporkan status terbaru kami, dalam bentuk ucapan kartu Tahun Baru. (ntdtv/crl/chr)

