Budi Pekerti

Sesuatu yang Merubah Takdir Manusia

Sesuatu yang Merubah Takdir Manusia
Sesuatu yang Merubah Takdir Manusia. (Courtesy of National Palace Museum)

Beberapa tahun yang lalu, ada seorang pria yang sangat miskin sehingga dia harus mengemis untuk mendapatkan makanan. Meskipun dia seorang pengemis, dia sangat ingin hidup normal. Jadi, dia menyimpan makanan dan biji-bijian yang diberikan kepadanya. Meskipun dia menyimpan makanan dengan hati-hati selama bertahun-tahun, dia menyadari bahwa hanya ada sedikit makanan di ruang penyimpanannya.

Dia memutuskan untuk melihat bagaimana makanannya menghilang, jadi pada suatu malam dia bersembunyi di sudut ruang penyimpanannya. Tak lama kemudian, dia melihat seekor tikus gemuk masuk dan mulai memakan makanannya. Dengan marah ia berteriak, “Saya hanya seorang pengemis miskin! Orang kaya memiliki lebih banyak biji-bijian daripada saya. Mengapa kamu tidak pergi dan memakan makanan mereka saja? Saya harus mengemis untuk mendapatkan sedikit makanan yang saya miliki.”

Tikus itu ternyata bisa berbicara dan berkata, “Seberapa miskin Anda atau seberapa banyak makanan yang Anda miliki sudah ditentukan oleh takdir. Tidak peduli seberapa keras Anda bekerja, Anda telah ditakdirkan untuk menjadi miskin.”

Pengemis itu bertanya, “Mengapa?”

Tikus itu menjawab, “Saya tidak tahu, Anda harus bertanya kepada Buddha.”

Pengemis itu bertekad untuk bertanya kepada Sang Buddha mengapa ia begitu nestapa. Ia berangkat keesokan harinya, mengemis sambil berjalan. Ia berjalan dari pagi hingga senja. Ketika hari mulai gelap, ia berhenti di sebuah rumah yang dilewatinya. Ketika ia mengetuk pintu, pemilik rumah membukakannya. Ketika ia meminta makanan, pemilik rumah datang. Ia bertanya kepada pengemis itu mengapa ia masih berada di jalan karena hari sudah mulai gelap.

Ketika pengemis tersebut mengatakan bahwa ia akan menempuh perjalanan untuk menemui Sang Buddha untuk menanyakan nasibnya, pemilik rumah tersebut segera mempersilahkannya masuk. Dia menyajikan banyak makanan dan memberikannya kepada pengemis itu, yang sangat bingung dan bertanya mengapa.

Pemilik rumah berkata, “Saya hanya memiliki seorang anak tunggal, seorang anak perempuan berusia enam belas tahun yang tidak dapat berbicara sejak lahir. Ketika Anda melihat Buddha, mohon tanyakanlah kepadanya mengapa.”

Pengemis itu berpikir bahwa karena ia akan menemui Sang Buddha, maka ia dapat sekalian menanyakan hal tersebut, jadi ia berjanji bahwa ia akan mengajukan pertanyaan kepada pemilik rumah.

Keesokan harinya, ia terus berjalan, terus dan terus, sampai ia melihat sebuah kuil. Dia pergi ke kuil untuk meminta air minum. Dia melihat seorang biksu tua memegang sebuah tongkat besi. Biksu itu terlihat sangat tua tetapi sangat energik. Dia memberikan secangkir air kepada pengemis itu dan bertanya ke mana dia akan pergi.

Ketika pengemis tersebut menjelaskan bahwa ia dalam perjalanan untuk menemui Buddha, biksu tua tersebut menjadi sangat bersemangat dan menggenggam tangannya dengan erat. Ia berkata, “Tolong bantu saya dan ajukan pertanyaan kepada Buddha. Saya telah berkultivasi selama 500 tahun. Saya pikir seharusnya saya sudah pergi ke Surga sekarang, jadi mengapa saya masih di sini?”

Pengemis itu berjanji pada biksu tua itu untuk meminta, dan melanjutkan perjalanannya.

Dia berjalan dan berjalan, mengatasi berbagai rintangan di jalan yang dilaluinya. Akhirnya, dia tiba di sebuah tikungan di sungai. Dia ingin menyeberang, tetapi tidak ada perahu. Dia sangat khawatir dan berteriak, “Mengapa hidupku begitu sulit dan menyedihkan!”

Ketika ia berdiri di sana sambil menangis, ia melihat seekor kura-kura melintas. Kura-kura itu bertanya kepada pengemis itu mengapa ia menangis tersedu-sedu. Pengemis itu memberitahu kura-kura itu bahwa ia sedang dalam perjalanan untuk menemui Buddha. Kura-kura itu berkata, “Saya telah berkultivasi selama lebih dari seribu tahun. Seharusnya saya sudah berubah menjadi naga dan terbang jauh. Mengapa saya masih di sini? Tolong bantu saya dan tanyakanlah kepada Sang Buddha ketika Anda melihatnya. Naiklah ke punggungku, dan aku akan membawamu menyeberangi sungai.” Pengemis itu dengan senang hati berjanji akan membantu kura-kura dengan memintanya.

Pengemis itu berjalan dan berjalan. Berhari-hari berlalu, tetapi ia masih belum melihat Buddha. Ia berpikir bahwa karena ia telah berjalan begitu jauh, seharusnya ia telah melihat Sang Buddha! Ia merasa sangat sedih dan lelah. Ketika ia duduk untuk beristirahat, ia tertidur dan bermimpi.

Dalam mimpinya, Sang Buddha muncul dan berkata, “Anda telah melakukan perjalanan sejauh ini, Anda pasti memiliki sesuatu yang penting untuk ditanyakan kepada saya.”

Pengemis itu berkata, “Ya, Buddha. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.”

Sang Buddha berkata, “Baiklah. Tetapi Anda hanya boleh mengajukan tiga pertanyaan.”

Pengemis itu berterima kasih kepada Buddha. Ia berpikir, “Saya punya beberapa permintaan, yang mana yang harus saya ajukan terlebih dahulu? Kura-kura itu berkultivasi selama lebih dari seribu tahun. Itu sangat sulit, jadi saya akan mengajukan pertanyaannya terlebih dahulu.”

Ia bertanya kepada Buddha, “Buddha yang terhormat, kura-kura ini telah berkultivasi selama seribu tahun. Mengapa ia tidak berubah menjadi seekor naga?”

Buddha berkata, “Kura-kura melekat pada cangkang di punggungnya.”

Pengemis itu berpikir, “Biksu tua itu telah berkultivasi selama lebih dari 500 tahun. Itu tidak mudah. Jadi saya akan mengajukan pertanyaan selanjutnya.” Dia berkata, “Buddha, seorang bhikkhu tua telah berkultivasi selama lebih dari 500 tahun, mengapa dia belum juga terbang ke Surga?”

Buddha berkata, “Dia melekat pada tongkat besinya.”

Pengemis itu berpikir tentang anak perempuan yang tidak dapat berbicara, sungguh kasihan. Siapa yang akan menikahinya? Ia merasa bahwa ia harus menanyakan pertanyaan ini selanjutnya. Jadi, ia bertanya kepada Buddha, “Mengapa putri pemilik rumah itu bisu?”

Buddha berkata, “Anak perempuan akan mulai berbicara ketika dia melihat calon suaminya.”

Segera setelah ia menjawab pertanyaan ketiga, Sang Buddha menghilang. Pengemis itu tiba-tiba menyadari bahwa dia tidak sempat mengajukan pertanyaannya sendiri. Dengan perasaan tertekan dan putus asa, pengemis itu mulai berjalan kembali. Ia yakin bahwa ia telah ditakdirkan untuk menjadi seorang pengemis yang miskin.

Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan kura-kura, yang sangat ingin tahu jawaban atas pertanyaannya. Pengemis itu berkata, “Tolong gendong saya menyeberangi sungai terlebih dahulu.” Setelah kura-kura menggendongnya menyeberangi sungai, pengemis itu berkata, “Tidakkah kamu berpikir bahwa kamu terlalu terikat pada tempurung di punggungmu?”

Kura-kura itu langsung tercerahkan. Ia membuka cangkangnya dan memberikannya kepada pengemis itu, sambil berkata, “Ada 24 mutiara di dalam cangkang ini, yang telah saya kumpulkan sepanjang hidup saya. Saya memberikannya kepada Anda sebagai ucapan terima kasih karena telah menolong saya!” Kemudian, kura-kura itu berubah menjadi seekor naga dan terbang menjauh.

Pengemis itu mengambil 24 mutiara berkilau itu dan terus berjalan pulang. Dia tiba di kuil dan mencari biksu tua itu. Tentu saja, biksu tua itu sangat ingin mengetahui jawaban atas pertanyaannya. Pengemis itu berkata, “Apakah Anda pikir Anda memiliki keterikatan dengan tongkat besi di tangan Anda?” Biksu tua itu tercerahkan. Begitu biksu tua itu menyerahkan tongkatnya kepada pengemis itu, dia terbang ke langit.

Akhirnya, pengemis itu tiba di rumah pemilik rumah. Sebelum ia sempat mengetuk pintu, putrinya bergegas keluar dan berteriak, “Ayah, orang yang pergi menemui Buddha telah kembali!” Sang pemilik rumah sangat terkejut saat mendengar suara putrinya untuk pertama kalinya! Dia sangat senang dan terharu karena putrinya dapat berbicara sehingga dia meminta pengemis itu untuk menikahi putrinya.

Meskipun pengemis miskin itu tidak sempat bertanya kepada Buddha tentang nasibnya, nasibnya berubah karena ia bersikap altruistik dan menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri. (shenyuncollections)

______________

*Kultivasi: sebuah metode pemurnian diri yang dapat membawa pada keabadian.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI