Budi Pekerti

Setiap Pertemuan Adalah Berarti

Pertemuan (George Milton @Pexels)
Pertemuan (George Milton @Pexels)

Di masa Tiongkok kuno, dan menurut prinsip Buddha, masyarakat percaya bahwa segala sesuatu didunia ini adalah akibat dari sebab dan akibat. Benih yang ditaburkan dimasa lalu, menjadi buah dari masa depan seseorang.

Ketika kita menerapkan prinsip ini pada interaksi diantara masyarakat, apa yang tampak seperti pertemuan secara kebetulan adalah benar-benar tidak terelakkan.

Mungkin ada alasan dibalik pertemuan dengan setiap orang yang datang kedalam hidup kita. Menurut banyak agama diseluruh dunia, kematian hanyalah kelanjutan dari kehidupan saat ini, karena roh bereinkarnasi untuk mengalami kehidupan lagi dalam bentuk orang atau bentuk yang berbeda.

Oleh karena itu, prinsip sebab dan akibat dapat menjangkau banyak kehidupan, seperti yang terlihat dalam cerita berikut dari kitab suci Buddha.

Dalam suatu masa kehidupan, ada seekor tikus tergeletak mati dipinggir jalan, terkena terik matahari. Seorang pedagang lewat, dan setelah melihat bangkai kecil itu, dia menutup hidungnya dan pergi dengan jijik.

Kemudian datanglah seorang pelajar yang tergerak hatinya ketika melihat makhluk yang mati itu. Dia merasa memalukan untuk membiarkan hewan malang itu membusuk dibawah sinar matahari dan segera menguburnya ditempat.

Pedagang itu kemudian bereinkarnasi sebagai Ananda, salah satu dari sepuluh murid Buddha Shakyamuni, yang dikenal sebagai “yang paling berpengetahuan”. Suatu hari Ananda bertemu dengan seorang wanita tua yang memarahinya tanpa alasan.

Sang Buddha meminta Sariputra, salah satu muridnya yang dikenal sebagai “yang pertama dalam kebijaksanaan”, untuk meminta maaf kepada wanita tua itu atas apapun yang telah menyinggung perasaannya; tetapi wanita itu sangat senang melihat Sariputra sehingga dia memberikan persembahan.

Ananda sangat bingung. Sang Buddha menerangkan kepadanya dengan penjelasan berikut, “Wanita tua ini adalah tikus mati yang kamu jauhi dimasa lalu, dan Sariputra adalah pelajar yang memperlakukannya dengan belas kasih. Seperti yang anda lihat, satu pikiran anda saat ini, baik atau buruk, memunculkan hubungan karma yang berbeda, jadi wanita tua itu memperlakukan anda secara berbeda”.

Segala sesuatu didunia ini berputar disekitar pertemuan. Seperti yang dikatakan Shakyamuni, “Dalam hidup ini, siapa yang bertemu siapa adalah tentang sebab dan akibat”. Jika ada hutang karma, seseorang pasti akan bertemu dengan orang yang seharusnya dia temui; ketika hutang karma diselesaikan, bahkan jika seseorang mencoba segalanya untuk membuat orang itu tetap dekat, orang itu tidak akan bisa dekat.

Sutra Avatamsaka, salah satu sutra Mahayana paling berpengaruh dari Buddhisme Asia Timur, mengatakan, “Semua hasil muncul dari sebab”. Setiap pertemuan dalam hidup adalah ikatan yang ditakdirkan.

Hidup adalah perjalanan menempuh badai. Jika kita memperlakukan setiap pertemuan sebagai berkah, kita dapat memandang setiap orang yang datang kedalam hidup kita sebagai seseorang yang memang ditakdirkan untuk hadir disana.

Setiap pertemuan akan membawa kita pada sesuatu. Orang-orang yang mencintai kita memberi kita kehangatan; orang yang membenci kita mengajari kita untuk berani. Rasa sakit bisa membuat orang tumbuh; frustrasi bisa membuat orang kuat.

Segala sesuatu yang muncul dalam hidup anda memperkaya hidup anda.

Dahulu kala, seorang pria pernah meletakkan cincin besi disebuah pohon elm muda, tempat dia menambatkan ternak keluarganya. Seiring berjalannya waktu dengan pertumbuhan diameter batang pohon, cincin besi memotong pohon lebih dalam dan lebih dalam, meninggalkan bekas luka yang dalam di kulit pohon.

Disuatu tahun, penyakit bakteri tanaman menyebar keseluruh wilayah. Tidak ada satupun pohon yang selamat kecuali pohon elm dengan cincin besi.

Pohon itu masih hidup sampai sekarang, dan penuh dengan kehidupan dan vitalitas. Cincin besi yang memberikan bekas luka, juga menghambat infeksi bakteri. Jika pohon dapat menjadi kuat dengan cedera, bagaimana dengan manusia? Seperti yang dikatakan filsuf Friedrich Nietzsche: “Apa yang tidak membunuh kita, membuat kita lebih kuat”.

Rasa sakit dan penderitaan yang dialami seseorang dalam hidup dapat dianggap sebagai alat yang membentuk ketahanan. Jika tidak ada yang muncul didunia ini tanpa alasan, semua orang yang muncul dalam hidup kita memiliki hubungan karma yang mendalam dengan kita. Jika seseorang memberi kita bekas luka, itu bisa menjadi bekal untuk masa depan.

Saat hati kita terluka, cara terbaik untuk maju adalah menerimanya. Kita akan menemukan bahwa setiap orang memiliki pelajaran berharga untuk ditawarkan.

Jika itu memang ditakdirkan, maka kita akan bijaksana untuk menghargai setiap pertemuan dan menerima setiap pengalaman. (epochtimes)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI