Site icon NTD Indonesia

Sumber Kekecewaan dan Kelelahan Kita

Selama beberapa bulan terakhir, Linda tak bisa tidur nyenyak. Di usia 35 tahun, ia menjalani hidup layaknya seorang aktris, berganti-ganti peran sepanjang hari. Di pagi hari, ia adalah seorang ibu yang lembut; di siang hari, seorang manajer yang tegas; setelah pulang kerja, seorang anak yang berbakti untuk mengurus orangtua yang sudah sepuh; dan di rumah, seorang istri yang penuh perhatian serta menantu perempuan yang cakap. Peran-peran itu berganti tanpa henti. Namun, semakin keras ia berusaha menjalankan semuanya dengan baik, semakin hampa perasaannya di dalam hati. Larut malam, berdiri di depan cermin, ia akan bertanya pelan: “Siapa aku, sebenarnya?”

Suatu malam, ia menonton sebuah film di bioskop setempat berjudul *Life is Like a Dream*, yang menceritakan tentang seorang ibu yang mencari anaknya yang hilang di masa perang — sebuah kisah memilukan dan tragis yang membuat penonton menangis haru. Melihat sang tokoh utama menangis, Linda pun merasakan air mata mengalir di pipinya, walau ia tahu itu hanyalah sebuah adegan. Namun, pada saat itu, sebuah pikiran aneh muncul: “Bagaimana jika hidupku sendiri juga hanyalah sebuah sandiwara?”

Peran dan harapan

Sebenarnya, setiap orang menghabiskan seumur hidupnya dengan memainkan berbagai peran. Seorang pria bisa jadi seorang anak laki-laki, suami, ayah, atau rekan kerja. Seorang wanita bisa jadi seorang anak perempuan, istri, ibu, atau karyawan. Peran-peran itu wajar; masyarakat bergantung padanya. Masalah yang lebih mendalam muncul ketika kita salah mengartikan suatu peran sebagai jati diri kita yang sebenarnya. Seringkali, ketika terjadi masalah dalam peran tersebut, rasa sakit yang dirasakan terasa lebih berat daripada yang seharusnya.

Misalnya Linda, menilai pernikahannya berdasarkan skenario tak terucap di benaknya — seperti apa seharusnya seorang suami. Ketika suaminya gagal memenuhi standar yang dibayangkannya itu, kekecewaan bertumpuk di dalam hati. Perlahan-lahan, ia mulai merasa telah menikahi pria yang salah.

Kita melakukan hal yang sama terhadap semua orang di sekitar kita. Kita berharap ayah atau ibu kita menjadi tempat berlindung yang tenang dan dapat diandalkan. Ketika ia menjadi mudah marah atau menjauh, kita merasa terluka. Kita berharap pasangan kita akan menjadi sosok yang lembut dan penuh perhatian. Ketika mereka tampak cuek atau kasar, kita merasa diperlakukan tidak adil. Kita berharap anak kita akan menjadi sosok yang suka membantu dan berprestasi. Ketika mereka mengalami kesulitan melakukannya, kita merasa frustrasi, seolah-olah kita sendiri yang mendapatkan nilai buruk dalam ujian. Namun, gambaran yang kita harapkan itu selalu hanya ada dalam imajinasi kita. Seringkali, kita jatuh cinta bukan pada orang itu sendiri, melainkan pada karakter ideal yang kita bayangkan bisa mereka wujudkan. Dan ketika orang yang sebenarnya tidak seperti peran yang kita bayangkan itu, hati kita pun retak.

Banyak hubungan yang tidak bahagia bukan disebabkan oleh “orang yang salah”, melainkan oleh peran yang tidak jelas dan harapan yang tidak realistis. Seorang istri lupa bahwa pernikahan membutuhkan persahabatan dan rasa hormat, bukan kontrol atau penilaian. Seorang suami lupa bahwa tanggung jawab membutuhkan komunikasi, bukan diam atau menghindar. Seorang ibu menjadi sekadar perpanjangan dari kehidupan anaknya, mengabaikan kebutuhannya sendiri dan melakukan banyak tugas anaknya. Seorang anak perempuan terus-menerus berusaha mengendalikan pilihan dan emosi orang tuanya, lupa bahwa ia memiliki jalannya sendiri yang harus ditempuh. Begitu peran-peran menjadi kabur, kehidupan itu sendiri mulai kehilangan bentuknya.

Peran yang sesungguhnya penting

Setelah pandemi, pernikahan Linda mengalami krisis. Suaminya kehilangan pekerjaan dan menjadi mudah marah. Nilai akademis anaknya menurun, membuat hari-harinya dipenuhi kekhawatiran. Kritik dari ibu mertuanya terasa menyakitkan seperti duri yang terus menusuk. Di tempat kerja, ia memaksakan diri untuk tersenyum. Di rumah, ia merasa putus asa. Suatu malam, dalam keadaan lelah tak terkira, ia mencurahkan isi hatinya kepada seorang teman. “Aku sudah melakukan segala yang bisa kulakukan,” ia menangis. “Mengapa tak ada yang puas?”

Temannya menjawab dengan lembut: “Kamu bukanlah segalanya bagi mereka. Kamu hanyalah salah satu peran dalam hidup mereka. Dan sebelum semua peran itu — kamu adalah dirimu sendiri terlebih dahulu, sama seperti mereka juga adalah diri mereka sendiri terlebih dahulu.” Kata-kata itu membuka ruang hening di dalam dirinya…

Perlahan, ia menyadari: Ia tidak perlu memikul beban mengendalikan kehidupan orang lain, ia tidak perlu menyempurnakan suaminya, anaknya, atau ibu mertuanya, dan ia tidak perlu menafsirkan makna, harapan, atau penilaian terhadap peran-peran mereka. Yang ia butuhkan hanyalah menjalani hidupnya sendiri sepenuhnya, tanpa mengharapkan orang lain bertindak sesuai skenario yang ia buat. Dan dalam kebebasan itu, ia merasa utuh.

Menemukan peranmu, menjalani hidupmu

Sebuah pepatah Tiongkok kuno mengungkapkan kebijaksanaan ini dengan jelas: “Jangan mencampuri urusan yang bukan urusanmu.” Pada awalnya, kata-kata itu mungkin terdengar tegas, bahkan kuno. Namun, di baliknya tersimpan sebuah kebenaran yang mendalam: kejelasan mengenai peranmu akan muncul secara bertahap, melalui pengalaman, refleksi, dan praktik bertindak dengan kesadaran, kepedulian, dan kehadiran penuh.

Setiap orang mungkin menghadapi tantangannya sendiri — itulah jalan hidup mereka, bukan tugas kita untuk memperbaikinya. Ketika kita mencoba mengambil alih peran mereka, kita justru melelahkan diri sendiri dan kehilangan fokus pada peran kita sendiri.

Dalam kehidupan modern, pernikahan mudah retak; keluarga terpecah belah akibat tekanan yang tak terlihat. Namun, masalahnya bukanlah bahwa cinta menghilang. Mungkin masalahnya adalah kita terlalu kaku memegang teguh sebuah cita-cita yang hanya ada dalam imajinasi, mengharapkan orang lain untuk memenuhinya, dan dengan begitu, kita lupa bahwa perjalanan hidup mereka adalah milik mereka — dan perjalanan hidup kita adalah milik kita.

Pertumbuhan sejati — bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain — terwujud ketika kita menjalankan peran kita masing-masing dengan kesadaran, kepedulian, dan kerendahan hati, tanpa berusaha mengendalikan, menyempurnakan, atau mengatur jalan hidup orang-orang di sekitar kita. Bertanggung jawab atas diri sendiri sambil bertindak dengan penuh kehadiran dan belas kasih akan menciptakan landasan yang kokoh yang menopang setiap hubungan.

Kamu adalah seorang istri, namun perjalanan hidup suamimu adalah miliknya sendiri; cintamu menemani, tanpa memaksakan kehendak. Anda adalah seorang orang tua, namun kehidupan anak Anda adalah milik mereka untuk dijelajahi; perhatian Anda memelihara, tanpa membatasi. Anda adalah seorang anak, namun pilihan orang tua Anda adalah hak mereka untuk menentukan; kehadiran Anda mendukung, tanpa memaksakan. Anda mungkin memainkan sebuah peran — namun di balik peran itu, Anda tetaplah diri Anda sendiri. Dari kehadiran itu, Anda memberi ruang bagi orang lain untuk menjadi diri mereka sendiri sambil membiarkan pertumbuhan diri Anda sendiri membangun fondasi bagi setiap peran yang akan Anda mainkan.

Hanya dengan melepaskan ekspektasi dan berhenti menilai orang lain berdasarkan standar yang kita bayangkan, kita dapat menciptakan kebebasan sejati — kebebasan bagi diri kita sendiri, dan kebebasan bagi orang lain — untuk tumbuh, berubah, dan menjadi diri mereka yang sesungguhnya.

Melepaskan skenario yang kita paksakan

Suatu malam larut, Linda mengirim pesan kepada suaminya: “Kita berdua adalah manusia yang tidak sempurna. Aku bersedia belajar untuk menjalankan peranku tanpa menuntutmu untuk berubah. Aku harap kamu juga mulai bertanggung jawab atas perananmu.” Untuk waktu yang lama, tak ada balasan. Kemudian, setengah jam kemudian, sebuah pesan singkat muncul di layarnya: “Mari kita belajar bersama.”

Matanya berkaca-kaca — bukan karena rasa frustrasi, melainkan karena rasa lega yang mendalam. Mungkin, akhirnya, mereka berdua tak lagi memaksakan naskah yang salah. Jika suatu hari nanti kita melepaskan kostum berat dari peran-peran kita, kita mungkin akan menemukan sesuatu yang sederhana namun mendalam: Kita sebenarnya bukanlah peran itu. Kita selalu menjadi diri kita sendiri.

Ketika kita melihat diri kita sendiri dengan lebih jelas — batasan, tanggung jawab, dan sifat sejati kita — kita memperoleh kesadaran untuk mengenali peran kita dalam hubungan. Dengan bertanggung jawab atas diri sendiri dan melepaskan keinginan untuk mengendalikan, mengoreksi, atau menyempurnakan orang lain, kita membangun landasan yang kokoh atas pemahaman diri. Kesadaran ini mengalir ke dalam setiap peran yang kita mainkan, membawa ketenangan, kejernihan, dan kasih sayang ke dalam setiap interaksi kita.

Hanya dengan melepaskan ekspektasi dan berhenti menilai orang lain berdasarkan standar yang kita bayangkan, kita dapat menciptakan kebebasan sejati — kebebasan bagi diri kita sendiri, dan kebebasan bagi orang lain — untuk tumbuh, berubah, dan menjadi diri mereka yang sesungguhnya. Kita menyadari bahwa pertanyaan sesungguhnya bukanlah: “Mengapa dia tidak seperti yang kubayangkan?” Melainkan: “Apakah aku bersedia menerima dirinya apa adanya?”