Budi Pekerti

Tidak Ada Kata Terlambat

Menghitung waktu @Canva Pro
Menghitung waktu @Canva Pro

Beberapa tahun yang lalu, saya mengikuti sebuah kursus cara berkomunikasi, salah satu pelajarannya sangat unik. Guru menyuruh kami membuat daftar kejadian masa lalu yang membuat kita merasa malu, menyesal, rasa bersalah.

Seminggu kemudian dia akan menyuruh kami membaca dengan suara keras daftar tersebut. Kejadian ini telah melanggar privasi, tetapi ada juga orang dengan gagah berani mengakuinya. Setelah mendengar pengalaman orang lain, daftar saya semakin panjang, dalam 3 minggu terdapat 101 kejadian.

Setelah itu guru menyarankan kami menebus kesalahan tersebut serta meminta maaf kepada orang tersebut, dengan tindakan memperbaiki segala kesalahan tersebut. Saya curiga tindakan tersebut malah membuat hubungan dengan orang semakin kompleks, malahan akan membuat hubungan satu sama lain semakin menjauh.

Seminggu kemudian, seorang teman kelas yang duduk di sebelah saya mengangkat tangannya, dia menceritakan pengalaman berikut ini: Ketika saya sedang membuat daftar ini, saya teringat kejadian ketika saya masih SMP, saya dibesarkan di kota kecil di Iowa. Didalam kota kami ada seorang sheriff yang sangat dibenci oleh anak-anak di kota kami. Pada suatu malam, saya bersama 2 teman memutuskan akan mempermainkan sheriff Roger Brown.

Kami mengambil sebotol cat semprot warna merah, memanjat ke menara paling tinggi di kota kami, diatas menara tersebut kami menyemprotkan kata “Brown adalah bajingan.” Keesokan harinya, seluruh penduduk kota yang terbangun sudah dapat melihat hasil “karya besar” kami. Dua jam kemudian, Brown menangkap kami bertiga ke kantornya. Kedua teman saya mengakui perbuatan mereka, saya bersikeras menolak mengakui perbuatan tersebut. Setelah diceramahi, akhirnya kami dilepaskan.

Kejadian ini telah berlalu 20 tahun. Hari ini nama Brown muncul di daftar saya. Saya tidak tahu apakah dia masih hidup. Di akhir minggu yang lalu, saya telepon ke kota tempat tinggal saya Iowa mengecek, ada penduduk yang bernama Roger Brown. Lalu saya langsung menelpon dia. Setelah nada dering diangkat, saya mendengar di sebelah sana ada yang berkata, “Hallo, apa kabar.” Saya bertanya, “Apakah engkau Sheriff Brown?”. Di sebelah sana hening sejenak. “Benar.” “Baiklah, saya adalah Jimmy Hopkins, mengenai kejadian grafitti saat saya masih kanak-kanak, saya ingin mengatakan bahwa saya juga turut melakukan hal itu.

” Hening sejenak, lalu dia berkata: “Saya telah lama tahu.” Kami berdua lalu tertawa, dan mengobrol dengan akrab. Akhirnya dia berkata, “Jimmy, saya selama ini merasa khawatir terhadapmu, karena teman-temanmu telah menghapus sakit di hati mereka, tetapi engkau sendiri selama puluhan tahun ini masih mengganjal didalam hatimu. Saya sangat berterima kasih engkau menelpon saya…. semua ini demi dirimu sendiri.”

Cerita Jimmy ini mendorong saya menyelesaikan 101 kasus dalam daftar saya, saya menghabiskan waktu 2 tahun menyelesaikannya, tetapi ini menjadi titik awal di kemudian hari ketika saya terlibat dalam konflik di tempat kerja dan juga menjadi mediasi saya menghadapi tantangan.

Walaupun konfilik dan sengketa yang seberapa besar maka saya akan segera menyelesaikan perseteruan tersebut dan tidak akan membiarkannya menjadi ganjalan di hati. Tidak ada kata terlambat.(minghui school)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI