Site icon NTD Indonesia

Tidak Berbuat Buruk Meski ada Kesempatan

Ada pepatah yang sering kita dengar dalam hidup: “Jika ada keuntungan yang bisa diraih, orang bodohlah yang tidak memanfaatkannya.” Bagi sebagian orang, hidup menjadi pencarian terus-menerus akan keuntungan kecil. Mata mereka tetap tertuju pada apa yang bisa mereka peroleh, sementara hal-hal yang sebenarnya jauh lebih berharga perlahan-lahan menghilang dari pandangan. Namun, hidup tidak bisa diukur dari seberapa banyak yang berhasil kita peroleh. Mengetahui kapan harus menerima kerugian — dan kapan harus melepaskan suatu keuntungan — juga merupakan bagian dari hidup.

Ada pula pepatah lama yang berbunyi: “Jika kamu ingin sukses dalam hidup, belajarlah untuk bersabar menghadapi dua hal: kesulitan dan kerugian.” Terkadang, kebijaksanaan untuk membiarkan keuntungan kecil tetap utuh jauh lebih berharga daripada apa pun yang mungkin kita peroleh dengan mengambilnya. Apa yang tampak sebagai kerugian pada saat itu mungkin, dalam perjalanan hidup kita yang lebih luas, justru menjadi keuntungan berupa sesuatu yang jauh lebih berharga: karakter kita, ketenangan pikiran kita, dan kemampuan kita untuk hidup dengan hati nurani yang bersih. Terkadang, langkah paling bijak adalah tidak memanfaatkan kesempatan itu sama sekali.

Mengejar keuntungan-keuntungan kecil pada akhirnya akan merusak reputasi dan masa depanmu

Xuefeng Yicun (822–908) menulis dalam *Kumpulan Tulisan Biara Zen*: “Meskipun kejadian-kejadian yang menguntungkan mungkin terjadi di dunia ini, seseorang tidak boleh membangun hidupnya atas dasar harapan akan keberuntungan.” Mereka yang selalu mencari peluang untuk mendapatkan keuntungan dengan mengorbankan orang lain mungkin merasakan kepuasan diam-diam setiap kali mereka lolos dari konsekuensi suatu perbuatan. Yang tidak mereka sadari adalah bahwa tindakan oportunisme yang tampaknya kecil ini dapat, sedikit demi sedikit, mengikis karakter mereka, mempersempit wawasan mereka, dan pada akhirnya menimbulkan kerugian yang melampaui apa yang pernah mereka bayangkan.

Selama pandemi, sebuah kejadian di Shanghai menarik perhatian luas masyarakat. Saat itu, karena pengaturan pengiriman khusus pada masa lockdown, paket-paket dari seluruh kompleks perumahan dikumpulkan di sebuah area penyimpanan sementara. Seorang pria bernama Wang melewati area penyimpanan tersebut setiap hari. Melihat tumpukan paket yang begitu banyak, ia berpikir: “Ada begitu banyak. Pasti tidak ada yang akan menyadari jika beberapa di antaranya hilang.” Maka, ia pun mulai mengambilnya. Seiring berjalannya waktu, ia mencuri hampir sepuluh paket senilai beberapa ribu yuan.

Tindakan-tindakan kecil yang didorong oleh keserakahan memiliki biaya tersembunyi yang jauh lebih besar daripada keuntungan jangka pendek.

Yang membuat kisah ini terasa sangat ironis adalah bahwa sebenarnya Wang memiliki gelar pascasarjana dan sudah bekerja dengan gaji bulanan sebesar 20.000 yuan. Namun, karena ia membiarkan dirinya percaya bahwa ia bisa memanfaatkan situasi tersebut tanpa konsekuensi, seorang pria berpendidikan dengan penghasilan yang baik pada akhirnya menjadi pencuri dan ketika akhirnya ketahuan, dihukum penjara yang mengakibatkan ia dipecat dan masuk daftar hitam kriminal, yang merusak reputasinya.

Albert Einstein pernah menulis: “Tidak ada yang namanya keberuntungan. Apa yang tampak sebagai kejadian paling kebetulan pun mungkin memiliki penyebab yang tak terelakkan.”

Keuntungan yang kita kira telah kita peroleh melalui tindakan oportunis sesaat, pada kenyataannya, justru menanam benih masalah di masa depan. Apa yang tampak sebagai keuntungan kecil hari ini mungkin menyimpan konsekuensi yang belum kita sadari — dan apa yang tampak sebagai kerugian terkadang justru melindungi kita dari kerugian yang jauh lebih besar. Menahan diri dari memanfaatkan “kesempatan” (ketika tidak ada yang melihat) adalah tanda karakter yang baik. Memang, semakin terasah karakter seseorang, semakin ia bersedia menerima kerugian kecil daripada mengambil apa yang sebenarnya bukan miliknya. Apa yang tampak seperti kerugian pada saat itu mungkin sebenarnya merupakan keuntungan dalam perjalanan hidup yang lebih panjang.

Integritas menuntut kita untuk menolak memanfaatkan pengaruh demi keuntungan pribadi

Ada sebuah kisah tentang adik Zeng Guofan bernama Zeng Guoquan, yang gemar memanfaatkan orang lain. Setelah merebut Jingdezhen, Zeng Guoquan pulang ke kampung halamannya. Dengan mengandalkan pengaruh keluarganya, ia merebut sebagian tanah milik sebuah keluarga setempat dan menebang pohon-pohon mereka. Ketika Zeng Guofan mengetahui apa yang telah terjadi, ia sangat marah. Ia marah karena adiknya telah menggunakan kekuasaan keluarga untuk memeras penduduk desa dan merusak reputasi keluarga. Namun, di balik kemarahannya itu, tersembunyi kekhawatiran yang jauh lebih dalam.

Seiring meningkatnya status dan pengaruh mereka, ia khawatir keluarganya perlahan-lahan akan menjadi sombong, merasa berhak atas segalanya, dan terbiasa mengambil apa pun yang mereka inginkan. Jika hal itu terjadi, bagaimana mereka bisa berharap untuk mempertahankan kekayaan mereka dan meninggalkan warisan yang baik bagi generasi mendatang? Zeng Guofan memperingatkan: “Jangan pernah memanfaatkan orang lain sekecil apa pun, dan jangan pernah sembarangan mengambil milik orang lain.”

Kata-katanya mencerminkan kebijaksanaan yang jauh melampaui keadaan keluarganya. Seseorang yang terus-menerus mencari keuntungan kecil mungkin memperoleh sesuatu dalam jangka pendek. Namun, setiap kali kita mengambil apa yang bukan hak kita, kita menyerahkan sesuatu dari diri kita sendiri sebagai gantinya. Dalam jangka panjang, apa yang kita hilangkan mungkin jauh lebih besar daripada apa yang kita peroleh. Terkadang, kesediaan untuk menerima kerugian kecil justru memungkinkan kita mempertahankan sesuatu yang jauh lebih berharga — karakter kita, integritas kita, dan rasa hormat dari orang lain.

Perhitungan yang mementingkan diri sendiri dalam transaksi-transaksi kecil bisa membuat Anda kehilangan hubungan yang bertahan seumur hidup

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman sekelas dari kota lain meminjam 1.000 yuan. Saat itu, transfer bank masih sering dilakukan melalui kantor pos, dan biaya layanan sebesar 10 yuan dipotong dari jumlah yang ditransfer. Jadi, meskipun temannya mengirim 1.000 yuan, teman sekelasnya itu hanya menerima 990 yuan. Kemudian, ketika tiba waktunya untuk melunasi pinjaman, teman sekelasnya itu hanya mengembalikan 990 yuan. Teman tersebut menyoroti bahwa ia awalnya telah mengirimkan 1.000 yuan. Teman sekelasnya itu menjawab, intinya, “Saya hanya bisa mengembalikan apa yang saya terima. Sepuluh yuan itu adalah biaya bank, dan saya tidak pernah menerimanya.”

Teman itu tidak pernah menghubunginya lagi. Kehilangan persahabatan hanya karena sepuluh yuan mungkin tampak tidak masuk akal. Namun, di antara orang dewasa, sebuah hubungan memang bisa rusak karena hal yang tampak sepele. Tak seorang pun ingin merasa dimanfaatkan — dan sulit untuk terus menghargai hubungan dengan seseorang yang terus-menerus menghitung apa yang bisa dia peroleh dari Anda.

Persahabatan, seperti halnya hubungan yang langgeng lainnya, membutuhkan timbal balik. Bahkan ikatan yang kuat pun pada akhirnya bisa tercekik di bawah beban perhitungan yang terus-menerus dan sikap hanya menerima tanpa memberi. Sebuah pepatah kuno mengungkapkan hal ini dengan indah: “Jika seseorang memberimu buah persik, balaslah dengan giok yang indah.” Hubungan antarmanusia mirip seperti uang yang disimpan di bank. Setiap penarikan akan mengurangi jumlah yang tersisa. Kita tidak boleh menganggap remeh apa yang diberikan orang lain kepada kita atau berasumsi bahwa hubungan apa pun memiliki kapasitas memberi yang tak terbatas.

Sebagai teman, kita belajar menghargai apa yang diberikan orang lain, memahami pentingnya timbal balik, berbicara secara terbuka tentang uang bila diperlukan, dan berusaha bersikap adil dalam berinteraksi satu sama lain. Uang bisa menguji persahabatan — namun jika ditangani dengan kejujuran dan keterbukaan, uang juga bisa melindunginya.

Sima Qian sering dikaitkan dengan pepatah: “Hal-hal kecil mencerminkan sudut pandang seseorang; detail-detail kecil mencerminkan karakter seseorang.” Tidak bersikap picik menunjukkan karakter yang baik. Tidak memanfaatkan orang lain adalah tanda kebijaksanaan yang lebih besar lagi. Seseorang dengan sudut pandang yang luas tidak hanya memikirkan keuntungan sesaat. Ia tidak akan mengorbankan hubungan, prinsip, atau integritasnya demi keuntungan kecil. Sebaliknya, seseorang dengan sudut pandang yang lebih sempit mungkin menjadi begitu terfokus pada apa yang bisa ia peroleh dari orang lain sehingga secara bertahap ia kehilangan baik karakternya maupun rasa proporsionalitasnya.

Hidup adalah sebuah perjalanan. Kita tidak boleh terus-menerus memusatkan pandangan hanya pada hal-hal kecil yang ada tepat di bawah kaki kita. Angkatlah kepala sesekali dan lihatlah pemandangan di sekitarmu. Ketika hati menjadi lebih lapang, perjalanan pun terasa lebih cerah — dan jalan di depan pun semakin luas.