Kita sering mendengar lulusan universitas ternama dengan hasil akademis luar biasa yang gagal dalam wawancara kerja, atau yang tidak dihargai atau digunakan di perusahaan mereka.Para pencari kerja ini mungkin merasa bingung dan frustrasi, namun sesungguhnya ada alasan mengapa perusahaan-perusahaan tidak memilih mereka.
Filosofi Shibusawa Eiichi, Bapak Ekonomi Modern Jepang
Dalam bukunya the Analects and the Abacus, pengusaha sukses Shibusawa Eiichi menjelaskan bagaimana manajer memilih pekerja untuk pekerjaan itu, dan bagaimana mereka memanfaatkan bakat karyawan mereka.
Shibusawa Eiichi (1840-1931), adalah seorang industrialis Jepang yang sangat dihormati. Dipandu oleh penelitiannya tentang Kumpulan kesusasteraan Konfusius dan etos kerja orang Barat, Shibuya membawanya ke Jepang, tetapi dengan penekanan utama pada moralitas dan etika bisnis.
Jika para pencari kerja dapat memahami filosofi Shibusawa dari sudut pandang manajer, ini dapat menyelamatkan mereka dari banyak kekecewaan dan membantu mereka mencapai pekerjaan impian mereka.
Saat fresh-graduate akan menghadapi wawancara pekerjaan pertama mereka, mereka ditanya oleh manajemen perusahaan untuk menentukan apakah mereka cocok untuk pekerjaan itu.
Tampaknya mustahil untuk memprediksi bagaimana wawancara akan berlangsung. Tetapi terlepas dari pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara, atau berbagai “strategi perang” yang digunakan beberapa orang yang diwawancarai, kuncinya adalah untuk menunjukkan pemahaman tentang kebutuhan perusahaan saat ini dan masa depan, dan bagaimana Anda yakin bahwa keterampilan dan kemampuan anda cocok dengan kebutuhan ini.
Selama proses ini, aspek penting yang dicari pewawancara adalah apakah orang yang diwawancarai peduli dengan orang lain dan mempertimbangkan kesejahteraan mereka.
Ada sebuah kisah tentang seorang kandidat yang baru saja menyelesaikan wawancara pekerjaannya, dan ketika dia hendak meninggalkan ruangan, dia melihat sebuah pin tajam di lantai. Dia secara naluriah mengambil pin untuk mencegah orang lain terluka olehnya sebelum keluar ruangan.
Ketika kandidat secara naluriah mengambil pin di lantai, dia menunjukkan bahwa dia secara aktif memperhatikan orang lain di sekitarnya
Yang sangat mengejutkannya, tindakan kecil ini menyentuh manajemen perusahaan, yang memutuskan untuk mempekerjakannya dibandingkan dengan kandidat lain dengan nilai yang jauh lebih baik darinya.
Beberapa mungkin merasa sulit untuk percaya bahwa tindakan sekecil itu dapat memiliki dampak besar pada wawancara pekerjaan. Tapi tidak peduli apakah cerita ini benar atau tidak, itu menunjukkan pewawancara menghargai nilai calon karyawan mereka.
Pikirkan tentang hal ini: dalam wawancara kritis yang akan menentukan karier seseorang, sebagian besar kandidat akan khawatir tentang bagaimana mereka dapat menjual diri mereka kepada perusahaan. Seluruh fokus mereka adalah pada diri mereka sendiri. Berapa banyak orang yang akan seperti kandidat ini, yang secara naluriah juga mempertimbangkan kesejahteraan orang lain, meskipun ia tidak mendapatkan apa-apa dari itu?
Dalam situasi seperti itu, hanya orang dengan karakter luar biasa yang masih dapat mempertimbangkan kesejahteraan orang lain selain dirinya.
Ketika seorang kandidat tidak khawatir tentang bagaimana untuk mengalahkan kandidat lainnya, ketika dia bisa melepaskan kecemasannya dan tidak terlalu terikat pada hasil wawancara, dia tenang dan tidak terganggu selama wawancara.
Dan ketika kandidat secara naluriah mengambil pin di lantai, dia menunjukkan bahwa dia secara aktif memperhatikan orang lain di sekitarnya. Nilai ini tertanam dalam dirinya sehingga dia bertindak secara naluriah. Kalau tidak, tidak peduli berapa banyak buku tentang moralitas dan etika yang telah dibacanya, jika seseorang tidak menerapkan nilai-nilai ini dalam praktik sehari-hari, ia tidak akan berpikir untuk melakukan hal semacam itu dalam situasi tekanan tinggi.
Kandidat ini bukan hanya “beruntung” menemukan pin di lantai selama wawancara, yang memungkinkannya untuk menunjukkan karakternya yang baik. Sebenarnya, ini karena dia secara konsisten memikirkan orang lain dalam kehidupan sehari-harinya. Peluang serupa akan mengikuti orang seperti itu, tidak peduli apa yang dia lakukan.
Kisah ini menggambarkan bagaimana manajer perusahaan memilih pekerja mereka. Mereka dapat mengidentifikasi sifat dan kebiasaan sejati seseorang dari perilaku mereka.
Dengan demikian, jika semua kandidat yang diwawancarai memiliki IPK yang sama, atau bahkan jika IPK kandidat tidak kompetitif, perusahaan lebih suka mempekerjakan kandidat yang peduli dibandingkan dengan yang memiliki skor tertinggi.
Mengapa peduli dengan orang lain begitu penting bagi perusahaan? Mari kita lihat apa pendapat Shibusawa tentang masalah ini.
Memilih Karyawan Menurut Cara Mereka Memperlakukan Keluarga Mereka
Sepanjang hidupnya, Shibusawa mempelajari dan mempraktikkan ajaran Konfusius. Dia membaca Kumpulan kesusasteraan Konfusius setiap hari, dan menggunakan kebijaksanaan yang diperoleh dari studinya untuk mengelola bisnisnya.
Shibusawa memahami bahwa Konfusius telah mengucapkan banyak kata-kata bijak dalam berbagai konteks, tetapi ajaran-ajarannya akhirnya bermuara pada kebaikan kebajikan dan kebenaran.
Praktek kebajikan dan kebenaran dimulai sangat awal, ketika seseorang pertama kali belajar berbakti kepada keluarganya. Ini adalah langkah pertama dan paling mendasar dalam menumbuhkan karakter seseorang, itulah sebabnya Konfusius memandang kesalehan berbakti sebagai fondasi untuk kebajikan dan kebenaran.
Praktek kebajikan dan kebenaran dimulai sangat awal, ketika seseorang pertama kali belajar berbakti kepada keluarganya.
Dalam Kumpulan kesusasteraan, baris kedua bab “Xue Er” berbunyi:
“Master You berkata: Jarang untuk menemukan seseorang yang berbakti kepada orang tuanya dan menghormati orang yang lebih tua, namun suka menentang atasannya yang berkuasa. Dan tidak pernah ada orang yang tidak menentang penguasa yang akan membangkitkan pemberontakan. Kesalehan dan rasa hormat kepada orang yang lebih tua, bukankah ini akar dari sabar (kebajikan)?
Dengan kata lain, orang yang berbakti jauh lebih kecil kemungkinannya menciptakan masalah bagi atasan mereka. Selain itu, mereka yang tidak suka mengganggu atasan mereka pasti tidak menciptakan kekacauan di masyarakat. Selama orang yang unggul dapat mencapai esensi menjadi orang yang baik, ia tidak akan pernah kehilangan pandangan tentang kebijakan. Kesalehan berbakti adalah dasar untuk menumbuhkan kebajikan.
Setelah membaca kalimat ini di Kumpulan kesusasteraan, Shibusawa mengatakan dia menyadari prinsip panduan untuk memilih karyawan – mereka yang berbakti kepada orang tua mereka juga yang paling dapat diandalkan dan dapat dipercaya dalam pekerjaan mereka.
“Tidak peduli seberapa berbakat atau cakapnya seseorang, jika dia memperlakukan orang lain dengan tidak baik, dan tidak memiliki kebaikan kebajikan, kebenaran dan berbakti, dia akan dibenci oleh orang-orang di sekitarnya, dan dia tidak akan diterima oleh masyarakat.
“Orang seperti itu tidak akan rela memenuhi tugasnya, dan dia bahkan mungkin menggunakan bakatnya dengan cara yang salah, menciptakan masalah bagi perusahaan dan di antara anggota timnya.
“Karena itu, ketika saya mengalokasikan pekerjaan kepada karyawan saya, saya mempertimbangkan karakter moral mereka di atas kemampuan mereka. Saya perhatikan apakah dia berbakti kepada orang tuanya? Ini sangat penting.
“Orang seperti itu setidaknya akan dapat diandalkan, dan tidak akan cepat memperlakukan orang lain dengan buruk. Dia akan bertanggung jawab, mau bekerja keras, dan menjadi orang yang dapat diandalkan”.
Bahkan hari ini, konsultan bisnis di Jepang mengambil pelajaran dari ajaran Konfusius ketika menganalisis alasan di balik kegagalan atau kesuksesan perusahaan. Mereka percaya bahwa berbakti menginspirasi orang untuk berterima kasih kepada orang tua seseorang. Ketika orang-orang ini memasuki masyarakat, mereka secara alami tahu bagaimana peduli dengan perasaan orang lain, memperlakukan orang lain dengan rendah hati dan hormat, dan mendengarkan pendapat yang berbeda.
Orang-orang ini tidak pernah sombong tentang kemampuan mereka, tetapi cukup rendah hati untuk meminta bimbingan dan nasihat orang lain. Mereka peduli dengan orang-orang dan masyarakat, dan berkontribusi kembali kepada masyarakat dengan kemampuan terbaik mereka.
Dengan melakukan hal itu, mereka akan memperhatikan kesulitan dan kebutuhan orang lain, dan bersemangat dengan karier mereka. Sukses adalah hasil yang tak terhindarkan bagi orang-orang ini.
Adapun mereka yang gagal, mereka adalah orang-orang yang egois dalam menyelesaikan masalah. Orang yang tidak peduli atau tidak berupaya untuk orang lain secara alami akan dibenci dan ditolak oleh masyarakat.
Untuk menjadi sukses, kita harus ingat untuk mempraktikkan berbakti dan kerendahan hati. Jika kita tetap mementingkan diri sendiri dan berperilaku arogan, kita akan kehilangan dukungan dan kedudukan sosial dalam masyarakat, yang mengarah pada kegagalan.
Selama orang memahami ini, bahkan orang biasa akan diakui dan dihargai oleh perusahaannya. (epochtimes/bud/ch)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

