Budi Pekerti

Yang Memperoleh Pasti Akan Kehilangan, Yang Kehilangan Pasti Akan Memperoleh

alam (©freepik)
alam (©freepik)

Segala urusan yang berada di dalam dunia ini, selalu mengikuti suatu prinsip alam semesta, yakni “untuk mendapatkan Anda harus kehilangan”. Cinta bisa memberi Anda kebahagiaan, tapi bersamaan itu cinta juga memberi batasan kepada Anda. Kekayaan bisa memberi Anda kenikmatan, tapi juga membawa kerisauan. Keberhasilan membuat Anda senang, tetapi setelah mengalami kegagalan akan berubah menjadi suatu penderitaan.

Jika Anda mendambakan sesuatu benda, dan telah mendapatkannya, hal itu merupakan semacam kegembiraan. Namun sebaliknya, ketika Anda kehilangan juga bisa merasakan penderitaan yang setimpal. Ketika mendapatkan kegembiraan 80%, maka ketika kehilangan Anda juga mengalami penderitaan 80%, jumlah totalnya kurang lebih adalah sama.

Ada orang yang mendapatkan kekayaan, tetapi dia mungkin kehilangan kesehatan, rumah tangga atau cinta kasih. Dan ada pula orang yang dalam karier dia kurang berhasil, tetapi dalam kualitas hidup, kesehatan tubuh atau kebebasan waktu mendapatkan keleluasaan yang lebih banyak. Ada banyak hal yang kelihatannya tidak adil, tapi jika Anda pikir dengan lebih teliti dan seksama, maka sebenarnya semua itu adil.

Ada orang yang beranggapan orang kaya lebih bahagia, persepsi ini salah. Kebahagiaan bisa didapatkan oleh orang miskin dengan menggunakan uang beberapa ratus rupiah saja. Apabila mesti menunggu dia hingga berduit, mungkin harus menggunakan uang beberapa puluh ribu bahkan beberapa ratus ribu rupiah baru bisa mendapatkan kebahagiaan yang setara.

Ketika cita rasa Anda makin berat, benda-benda itu semakin kurang dalam mulut perasa Anda. Ketika uang Anda makin banyak, nilai dari uang itu semakin kecil. Ketika perut Anda sangat lapar sekali, memberi Anda sebuah mantou (roti kukus tanpa isi) pasti Anda merasakan sangat nikmat, tapi ketika Anda sudah menghabiskan lima mantou, Anda pasti bisa merasakan makanan itu tidak ada rasanya.

Orang yang memiliki uang terlalu banyak takut dicuri dan takut dirampok. Rumahyang terlalu besar, ternyata tidak sanggup untuk membersihkan. Makan terlalu banyak takut gemuk, makan terlalu enak takut kolesterol. Anda boleh mengamati, orang kaya karena takut sakit makannya jadi sangat sederhana: hanya makan sayur dan buah, akar-akaran, minum alang-alang dan sari gandum, akan tetapi jika kita telusuri lebih lanjut sebenarnya makanan dan minuman ini dulu adalah makanan orang-orang miskin.

Hal ini membuat saya teringat akan sebuah cerita. Ada seekor rubah, melihat di dalam pagar sebuah halaman kecil tumbuh sebatang pohon anggur, dahan-dahannya ditumbuhi buah-buah anggur yang sangat menggiurkan, melihat ini rubah itu mengeluarkan air liur, lalu dia mencari jalan untuk masuk ke dalam.

Kisah Rubah dan Anggur (@deviantart)

Akhirnya, dia menemukan satu lubang kecil, karena lubang itu terlalu kecil, badannya tidak cukup untuk masuk ke dalamnya. Maka, di luar pagar itu si rubah berpuasa selama 6 hari. Setelah badannya jadi kurus karena lapar, akhirnya dia pun bisa menerobos lubang itu untuk masuk ke dalam, dengan bahagia dia menikmati anggur-anggur itu.

Tetapi kemudian, dia menemukan sesudah makan anggur sampai kenyang badannya bertambah besar, sehingga tidak memungkinkan dia menerobos lubang untuk ke luar pagar, sedangkan berada didalam terus dia tidak mau karena kehilangan kebebasannya. Oleh karena itu dia lalu berpuasa lagi selama 6 hari, badannya dikuruskan lagi baru bisa keluar dari pagar. Karena itulah saya katakan, jumlahnya adalah sama, bukankah begitu?

Tikus adalah hewan yang tinggal di selokan yang airnya sedikit. Pernah suatu hari ia iri dengan tikus yang tinggal di sungai, bisa minum air yang banyak. Tapi ternyata setelah ia pindah ke pinggir sungai, ia menemukan tidak ada perbedaan. Kenyataannya, dalam perut seekor tikus bisa menampung berapa banyak air? Minum air terlalu banyak, selain akan terlalu kenyang, masih ada manfaat apa?

Walaupun kita telah memiliki seluruh dunia, kita juga hanya bisa makan tiga kali sehari, tidur di sebuah kasur. Walaupun Anda memiliki 100 ranjang, yang bisa Anda tiduri hanyalah satu ranjang. Walaupun Anda memiliki 1000 pasang sepatu, yang bisa Anda gunakan hanya satu pasang. Walaupun Anda bisa memesan 100 macam jenis makanan, tetapi berapa banyak yang bisa Anda makan? Paling-paling hanya bisa mengisi penuh satu lambung saja, bukankah begitu?

Manusia datang ke dunia sebenarnya hanya untuk belajar melalui pengalaman sendiri. Kekayaan dan kedudukan dari setiap orang ada perbedaan tinggi dan rendahnya, tapi pengalaman tentang kegembiraan dan kebahagiaan tidak ada perbedaan tinggi dan rendah. Hanya saja kegembiraan dari orang kaya lebih rumit, sedangkan kegembiraan dari orang miskin lebih sederhana, hanya inilah perbedaannya. Orang yang suka selingkuh atau poligami, tidak akan lebih bahagia dari orang yang sendiri.

Di saat Anda gembira, kesedihan pun sedang mengintai di samping. Dan di saat Anda bersedih, kegembiraan pun akan datang bersama dengannya. Hingga akhirnya, Anda bisa menemukan, setiap jenis sudah dipadukan dengan baik, setiap macam kesengsaraan dan kegembiraan, setiap macam yang Anda dapatkan dan yang kehilangan, yang baik dan yang buruk, hingga akhirnya, Anda hitung dengan teliti, setelah dikurangi dan ditambahkan, jumlah angkanya akan sama.

Ada orang yang mungkin lebih awal mendapatkan, ada pula orang yang lebih lambat untuk mendapatkan. Ada orang yang lebih awal kehilangan, ada juga yang lebih lambat kehilangan, tetapi jumlah totalnya akan sama saja.

Anda pernah mendapatkan berapa banyak kegembiraan, ketika Anda kehilangan akan bisa mendapatkan berapa banyak kesedihan pula. Kematian akan membuat setiap hal berubah menjadi adil, di dalam kematian, tidak ada perbedaan antara orang kaya dan miskin, tidak bisa dikatakan bahwa orang kaya matinya lebih enak, dan orang miskin matinya lebih sengsara.

Yang mendapatkan lebih awal mungkin akan kehilangan lebih awal pula, yang mendapatkan belakangan akan kehilangan belakangan, yang tidak mendapatkan tidak akan kehilangan. Jumlahnya adalah sama.

Oleh karena itu, sesuatu di dalam kehidupan ini tidak perlu terlalu diperhitungkan, tidak perlu sengaja diperhitungkan, cukup untuk Anda hayati. Tidak perlu bergembira secara berlebihan karena telah mendapatkan, dan sebaliknya juga tidak perlu bersedih karena telah kehilangan. Semua di alam berproses sesuai kehendak Sang Pencipta. Semuanya berimbang, masing-masing punya makna tersendiri untuk kita petik dan kita hayati. (epochtimes)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI