Tujuan Terakhir dari Paham Komunis

Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (21): Merusak Tulisan Warisan Dewa

“Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (21)

2. Bahasa dan Tulisan Warisan Dewa vs Sistem Aksara Mandarin yang Cacat

a. Tulisan Warisan Dewa: Menampung Rahasia Langit

Bahasa dan tulisan merupakan komponen utama dalam Kebudayaan Tradisional Tiongkok. Berbeda dengan tulisan lain di dunia, aksara Mandarin sangat mirip dengan aksara di langit, hanya saja goresannya tidak sama, nada ucapan aksara Mandarin juga memiliki hubungan yang terkait dengan alam semesta.

Raja suci kuno, Fuxi, menengadah melihat fenomena Langit, menunduk mengamati prinsip Bumi, mempelajari bahasa burung dan binatang, dekat melihat tubuh sendiri, jauh mengamati semua makhluk, lalu menciptakan ukiran aksara dan Bagua, yang digunakan untuk terhubung dengan Tuhan sekaligus menampilkan situasi semua makhluk di antara Langit dan Bumi. “Dalam Yi Jing [Book of Changes], bagian Xi Ci” tercatat, “Setelah Bagua tercipta, setiap pasang [trigram] saling bertumpuk, menjadi 64 bentuk dan juga menjadi perubahan [Yi], segala hal di kolong Langit tercakup di dalamnya, tidak ada yang ketinggalan”. Ini agar generasi selanjutnya dapat menggunakan 64 bentuk dalam Yi Jing untuk memahami Kehendak Langit. Sejak awal berdiri, Kebudayaan bangsa Tionghoa memang memiliki makna mendalam dan langsung terhubung dengan Langit, secara menyeluruh merefleksikan wujud sejati Langit dan Bumi dalam alam semesta, yang disebut “Prinsip Holografik [Holographic Principle]”. Perubahan [Yi] aslinya tidak memiliki tulisan, dan disebut kitab Langit tanpa tulisan.

Dengan cara yang sama, Tuhan mewariskan tulisan kepada manusia yang memudahkan untuk mencatat dan digunakan, dikarenakan Bagua dan aksara Mandarin merupakan refleksi Holografik dari esensi semua makhluk di antara Langit dan Bumi, maka orang-orang juga dapat memahami Kehendak Langit dengan menganalisa aksara. Di era Huangdi [Kaisar Kuning], Dewa Changjie dengan merujuk pada Bagua Fuxi, telah menciptakan aksara Mandarin. Dari karya Changjie,

“Menyusuri Perubahan Langit dan Bumi, Menengadah Terlihat Pola Melingkar dari Rasi Kuixing
Menunduk Mengamati Guratan-Penyu, Bulu-Burung, Gunung-Sungai, Jari-Telapak, lalu Menciptakan Tulisan” (Tunas Mandat Pertama Musim Semi-Gugur — 春秋元命苞)

Dapat ditemukan, bahwa aksara Mandarin dan Bagua mempunyai sumber yang sama, prinsip mekanismenya juga terhubung dengan Langit. Orang Tiongkok menggunakannya untuk mengamati fenomena Langit, memahami Kehendak Langit, dan menyesuaikan diri dengan perubahan Jalan, pertanda, dan fenomena Langit; untuk mencari dan mempelajari Ilmu Manusia [Humaniora], belajar menjadi makhluk hidup yang beradab di kolong Langit, membangun fondasi kebudayaan yang terajut tanpa henti di setiap dinasti, dan akhirnya membentuk Kebudayaan Tradisional 5000 tahun bangsa Tionghoa.

Peradaban bangsa Tionghoa lahir dari ciptaan Tuhan, adalah saling terkait dan terhubung dengan Tuhan, kandungan maknanya luas mendalam. Aksara Mandarin adalah media untuk meneruskan dan mencatat Kebudayaan Warisan Dewa bangsa Tionghoa, kandungan maknanya harus luas sampai cukup untuk meneruskan sistem Kebudayaan Warisan Dewa yang begitu luas tinggi mendalam, sehingga tidak ada yang ketinggalan. Baik Timur dan Barat, juga ada yang berkata, tulisan kuno Tiongkok seperti “Aksara Langit”. Ini dikarenakan tulisan kuno Tiongkok sungguh berisikan rahasia Langit, memuat Jalan bagi semua makhluk di antara Langit dan Bumi.

b. Bahasa Tionghoa: Penuh dengan Sifat Ilahi

Bahasa yang digunakan Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa, sepenuhnya berbeda dengan bahasa hari ini yang telah bermutasi karena gaya bahasa partai dan berbagai macam ideologi modern. Hanya membandingkan interpretasi “Kamus Kangxi” dengan “Kamus Xinhua” terhadap huruf “Tuhan” yang berbeda jauh, sudah dapat melihat jelas hal ini.

*Kamus Kangxi adalah Kamus Bahasa Tionghoa standar pada masa abad ke-18 an 19. Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing Manchu memerintahkan penyusunannya pada tahun 1710. Kamus ini menggunakan sistem Zihui sebelumnya yang terdiri dari 214 radikal, sekarang dikenal sebagai 214 radikal Kangxi, dan diterbitkan pada tahun 1716. (wikipedia)

*Kamus Xinhua adalah kamus bahasa Cina yang diterbitkan oleh Commercial Press. Xinhua sendiri adalah kantor berita resmi pemerintah Republik Rakyat Tiongkok dan merupakan yang terbesar di negara tersebut.

“Kamus Kangxi”: “Tuhan [Shen],
“Shuowen”: Tuhan di Langit, sari dari semua makhluk.
“Xuyue”: aksara Shen tertarik dengan aksara Yin, Penguasa Langit Meniupkan Napas, Memberi Perasaan Semua Makhluk, Dengan Sabda Memberi Sari Semua Makhluk.
“Huangji Jingshi”: Tuhan di Langit tinggal di Matahari, Tuhan di dunia Manusia tinggal di Mata. Yang juga disebut Tuhan Terang”.

*Shuowen atau Shuowen Jiezi adalah kamus Cina awal abad ke-2 dari Dinasti Han; Xuyue salah satu kamus kuno; Huangji jingshi adalah risalah Taoisme yang ditulis oleh filsuf Song Utara Shao Yong.

“Kamus Xinhua”: “Tuhan [Shen], orang takhayul menyebutnya Pencipta semua makhluk di antara Langit dan Bumi juga jiwa yang disembah setelah manusia meninggal dunia, contoh kata: Shenxian. Shenguai. Shenzhu. Shenshe. Shennong. Shenfu. Shenquan. Guishi Shenchai.

Dalam Kebudayaan Tradisional, dua istilah “Kebudayaan” dan “Peradaban”, serta pemahaman literal yang membentuk dua istilah ini, juga berbeda jauh dengan penjelasan kamus milik partai komunis Tiongkok.

i. Kebudayaan [Wen + Hua]

“[Wen]” dalam kebudayaan Tiongkok, berasal dari “Ilmu Langit [Tian + Wen]” yang dievolusikan raja suci menjadi “Ilmu Manusia [Ren + Wen]”. “[Hua]” dalam Kebudayaan bangsa Tionghoa, merujuk pada pemimpin suci yang mengajarkan peradaban ke seluruh rakyatnya.

Kamus Xinhua: [Hua] Kamus Kangxi: [Hua]
Perubahan karakteristik atau bentuk, contoh kata: BianHua.
“Shuowen”: Hua, mengajarkan jalannya.
Digunakan setelah kata benda atau kata sifat, untuk menyatakan transformasi menjadi suatu karakteristik atau kondisi, contoh kata: ChouHua. LuHua. “Daodejing.Laozi”: Saya tak bertindak apa pun namun rakyat belajar sendiri. Dengan Moralitas [De], rakyat belajar menjaga perilakunya. “
Tradisi, kebiasaan umum, contoh kata: YouShang FengHua. Yunhui”: Langit Bumi, Yin Yang, Bergerak Teratur; Diri Memiliki Namun Nihil; Diri Nihil Namun Memiliki; Semua makhluk menjalani hidup untuk belajar.

*Daodejing merupakan ajaran Laozi dari Taoisme. Atas permintaan Guan Yixi, Laozi meninggalkan dua karya yang berjudul De dan Dao sebelum meninggalkan Chuguo. Kedua-dua kitab digabungkan dan diperkenalan sebagai Daodejing, yang berisikan 5000 aksara Mandarin. (Wikipedia); Yunhui, Kamus di era dinasti Yuan Mongol

Dengan perbandingan dua belah pihak maka dapat terlihat “Hua” yang Tradisional dan “Hua” yang sekarang bukan saja relatif tidak sama, bahkan sepenuhnya berbeda bagaikan langit dan bumi. Dalam Kebudayaan bangsa Tionghoa, makna asli “Hua” adalah, semua makhluk menjalani hidup untuk belajar, dan belajar mendidik semua makhluk. Ini merupakan rahasia sejati dan mukjizat Tuhan yang terkandung dalam Kebudayaan bangsa Tionghoa. Sedangkan iblis merah komunis menekan ruang pemikiran manusia, sehingga membuatnya menjadi sempit, ini juga menyebabkan manusia terpisah dari Rahasia Langit yang diwariskan Tuhan dalam Kebudayaan Tradisional.

“Hua” yang Tradisional secara permukaan juga memiliki makna “Mengajar”, orang suci dengan Moralitas [De] mengajari rakyat menjaga perilakunya. Di dalam sejarah panjang selama lima ribu tahun, setiap kali menciptakan suatu fenomena kebudayaan, Tuhan harus mengatur fenomena Langit, diri-Nya harus turun bereinkarnasi menata panggung, memimpin satu atau beberapa generasi manusia untuk memainkan peran ini, mengajari manusia agar memahami maknanya, sadar untuk menghargai dan mematuhi, hingga bisa menghormati dan menjaganya, sehingga menjadi karakteristik dan kualitas dari bangsa Tionghoa. Ini seperti kisah yang digemari orang-orang, “Rasa Bakti pada Langit dan Bumi” dari Kaisar Shun, nilai “Yi [kebenaran]” yang ditampilkan oleh kumpulan pahlawan selama era Samkok, dan juga warisan duo dinasti Song kepada bangsa Tionghoa berupa nilai “Zhong [Loyalitas]” dalam kisah Yang Liulang dan Yuefei, dan lainnya.

ii. Peradaban [Wen + Ming]

“Ming” dalam peradaban bangsa Tionghoa: artinya Bersinar Menerangi Empat Penjuru

Kamus Xinhua: [Ming] Kamus Kangxi: [Ming]
“Benderang” berlawanan dengan “Gelap”, contoh kata: MingLiang. “Shuowen”: Menyinari

“Shu”: Bersinar Menerangi Empat Penjuru, disebut dengan Ming.

*Shu salah satu kitab kuno

“Bersinar Menerangi Empat Penjuru” dalam makna asli “Ming”, sepenuhnya ditutupi dan dihapus oleh partai komunis Tiongkok. Peradaban adalah Kebudayaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia supaya mampu hidup simbiosis dengan alam semesta, memiliki daya hidup berlimpah, tumbuh berkembang tanpa henti. Juga berarti, menyesuaikan diri dengan Jalan Langit akan hidup makmur – masa depan cerah, akan tumbuh berkembang tanpa henti. Ini adalah esensi dan mekanisme dari Kebudayaan Warisan Dewa.

Karena itu kami memahami, bukan artinya “Pernah eksis dalam sejarah atau berasal dari masa lampau” lantas disebut “Tradisional”, bukan artinya “Upacara Megah” lantas disebut “Kebudayaan”. Kebudayaan yang sesuai dengan Jalan Langit dan mampu membuat alam semesta terus tumbuh tanpa henti, termasuk moralitas – etika – gaya hidup, itu barulah Kebudayaan Tradisional Tiongkok dalam arti yang sebenar-benarnya.

c. PKT Merusak Tulisan Warisan Dewa

Dikarenakan aksara Mandarin memiliki nilai yang terhubung dengan Langit, dan aksara Mandarin sistem tradisional mewarisi Kebudayaan Tradisional 5000 tahun, bila ingin memutus hubungan antara orang Tiongkok dengan Tuhan dan tradisinya, maka PKT pun tanpa henti menyusun rencana kotornya untuk memusnahkan aksara Mandarin. Sejak periode Yan’an dimulai, PKT telah mendirikan agen khusus untuk mereformasi aksara Mandarin, setelah merebut kekuasaan, kembali mendirikan “Komite Reformasi Tulisan Tiongkok”. Sejumlah orang yang disebut ilmuwan menuruti kendali roh jahat, ingin terus menyederhanakan aksara Mandarin, yang pada akhirnya menggunakan simbol Pinyin romawi untuk menggantikannya, dan disebut “Romanisasi Aksara Mandarin”

Aksara Mandarin warisan Dewa merupakan pusaka Dewa, dengan menyederhanakan aksara, berarti telah melanggar Kehendak Langit, juga telah merusak daya magis dari aksara Mandarin asli. Hasilnya adalah aksara Mandarin sederhana yang tidak mempunyai ciri khas, bahkan terbawa sifat keiblisan, tak terelakkan akan timbul kekacauan dan pengaruh yang tidak baik.

Selama beberapa ribu tahun ini, milyaran orang telah menjalin banyak ikatan emosional dengan aksara Mandarin; karena penggunaan dalam berbagai dinasti, aksara Mandarin telah menuang, mengumpulkan, mengonsentrasikan banyak informasi yang kaya, berisikan energi yang sangat besar, membuatnya menjadi bentuk eksistensi dari sebuah medan. Setiap aksara Mandarin meresap berbagai macam perasaan, pemikiran, suasana hati, daya persepsi, dan daya imajinasi. Juga ada karakteristik bangsa Tionghoa yang kental dengan sifat kemanusiaan, sifat Ilahi dan sifat puitis. Energi dan medan semacam ini menciptakan pengaruh tak terlihat terhadap mental dan pemikiran manusia.

Misalnya: ketika melihat huruf “Tuhan”, maka akan membuat orang-orang tumbuh semacam perasaan hormat dan siraman belas kasih, dan tanpa disadari juga telah mengekang diri, dan mencegah timbulnya pikiran jahat. Begitu menyinggung kata “iblis”, maka akan merasakan teror dan kejahatan, akan terpikir: Raja iblis, cakar iblis, siluman, hantu, cengkraman iblis, sarang iblis, daya iblis, roh jahat, jin dan lain-lain; begitu mengucapkan kata “Sejati”, maka akan merasakan kebenaran murni, Qi positif dan kebaikan hati. Begitu bertemu huruf “Palsu”, langsung merasakan tipuan dan rasa hina.

Bentuk aksara Mandarin sistem sederhana yang cacat dan sembarangan, berbeda sangat jauh dengan Tulisan Warisan Dewa, telah merusak energi yang dihasilkan oleh tulisan sistem tradisional yang asli, juga memancarkan energi mutan yang dihasilkan karena efek penyederhanaan. Misalkan menyederhanakan huruf “Masuk [進]”. “Masuk [進]”: huruf bantu ‘Berjalan [辵]’, ditambah dengan “Indah [佳]”, yang berarti makin melangkah makin “Indah”. Namun ketika disederhanakan menjadi “Masuk [进]”, “Indah [佳]” diganti menjadi “Sumur [井]”, berarti makin melangkah makin terjatuh dalam “Sumur”. Energi positif telah berubah menjadi energi negatif. Namun sejumlah tulisan tradisional yang membawa energi negatif malah kebanyakan tidak diubah: iblis [魔] masih tetap iblis [魔], hantu [鬼] masih tetap hantu [鬼], curi [偷] masih tetap curi [偷], nipu [骗] masih tetap nipu [骗], palsu [假] masih tetap palsu [假], kekerasan [暴] masih tetap kekerasan [暴], melukai [害] masih tetap melukai [害], racun [毒] masih tetap racun [毒], busuk [腐] masih tetap busuk [腐], porno [黄] masih tetap porno [黄], cabul [淫] masih tetap cabul [淫].

PKT dengan dalih menyederhanakan aksara mandarin, telah menyingkirkan jiwa yang terekspresi dalam tulisan Kebudayaan Warisan Dewa dan energi positif di belakangnya yang mengekang dan mengatur manusia, agar orang-orang secara tanpa sadar semakin lama semakin jauh dari Tuhan; sama seperti taktik lain PKT dalam menghancurkan Kebudayaan Tradisional, tujuannya tak lain adalah memotong putus hubungan manusia dengan Tuhan. (Bersambung)

Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.

Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.