“Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (7)
5. Terungkapnya Fakta “Buruh dan Petani tetap saja menderita”
Dengan meneliti negara-negara partai komunis, sebelum memperoleh kekuasaan politiknya, buruh dan petani dipakai mereka sebagai umpan meriam untuk mengobarkan revolusi, setelah memperoleh kekuasaan politik, para buruh dan petani masih tetap menjadi kasta terendah yang dianiaya, cobalah lihat daerah yang disebut ‘Basis Lama Revolusi’ di Tiongkok, buruh dan petani masih tetap mengalami penderitaan luar biasa. Buruh dan petani selama tiga dekade awal PKT hidup menderita, setelah “Era Reformasi dan Keterbukaan”, pihak yang menderita masih tetap saja para buruh dan petani.
Ratusan juta buruh migran bekerja keras demi ekonomi Tiongkok, namun selamanya hidup di lapisan rendah masyarakat. Sistem registrasi rumah tangga ‘Hukou’ telah membuat betapa banyak orang berubah menjadi “Warga Kelas Dua”. ‘Kelompok kepentingan’ dalam tubuh PKT telah menguasai sebagian besar kekayaan negara.
Kelompok istimewa ini dapat korupsi sampai tahap apa? Dapat korupsi hingga tahap PKT kehilangan kekuasaan politiknya. Justru di tengah propaganda “Pertarungan Anti Korupsi” untuk “Membasmi Harimau”, orang-orang barulah dapat menelusuri ternyata korupsi PKT demikian menjijikkan. Korupsi beberapa ratus juta – beberapa milyar – beberapa puluh milyar, sudah menjadi hal yang wajar.
Menurut pengungkapan investigasi, sejumlah besar kader tinggi yang telah pensiun di Tiongkok, selama bertahun-tahun menempati 400 ribu lebih bangsal kader tingkat tinggi berbentuk hotel mewah, pengeluaran untuk ini, setahunnya adalah 50 milyar Yuan lebih; ditambah lagi pengobatan kader yang masih aktif, setiap tahunnya pengeluaran medis publik untuk pejabat pemerintahan mencapai kurang lebih 220 milyar Yuan; juga berarti, 80% pengeluaran keuangan negara untuk kesehatan, adalah demi melayani sekelompok kader tingkat tinggi berjumlah 8,5 juta orang.
Namun para buruh dan petani yang menghidupi mereka, malah “Tidak dapat berobat, Tunawisma, tak berpendidikan, berumur pendek”, terus berkutat dalam penderitaan.
Sebenarnya, penderitaan para buruh dan petani yang tak terelakkan ini, justru telah mengungkap sebuah rahasia kejahatan dari paham komunis.
Paham komunis mengklaim, ingin menghapus kelas sosial – membubarkan negara – menghilangkan kepemilikan pribadi, agar terwujud surga manusia “Berilah sesuai kemampuan, terimalah sesuai kebutuhan”*
*From each according to his ability, to each according to his needs, adalah sebuah slogan yang dipopulerkan oleh Karl Marx dalam Kritikan terhadap Program Gotha yang ia tulis tahun 1875.
Kita coba telaah salah satu programnya yang paling utama, yaitu menghapus kelas sosial. Bagaimana caranya menghapus kelas sosial? Marxisme menyatakan, bahwa cara untuk menghapus kelas sosial adalah dengan memanfaatkan kaum proletar menggulingkan kaum borjuis, untuk mendirikan kediktatoran proletariat, kemudian melakukan transisi menuju tahap komunisme.
Bagaimanakah caranya menghilangkan kelas sosial di bawah kediktatoran proletariat? Karl Marx tidak menjelaskan, hanya mengatakan bahwa periode kediktatoran proletariat, mungkin akan berlangsung sangat lama.
Pada masa kediktatoran proletariat, para pemimpin rezim ini di semua level baik besar maupun kecil, telah menjadi kelas istimewa yang baru, juga disebut kelas sosial istimewa. Karena tidak percaya pada Tuhan, “Tidak Takut Langit – Tidak Takut Bumi”, maka apa yang disebut “Moralitas Paham Komunis”, juga hanya dapat menjadi slogan yang enak didengar belaka, mereka memerintah dengan tangan besi dan sewenang-wenang, namun masih dengan suara lantang berkata bahwa diri sendiri adalah “pelayan” rakyat. Para buruh dan petani yang ikut PKT meluncurkan “Revolusi”, selain individu yang masuk kelas sosial istimewa, sebagian besar pada akhirnya masih tetap menjadi korban penindasan dari kelas sosial istimewa.
Menghapus kelas sosial itu sendiri, pada dasarnya juga sedang menciptakan kelas sosial baru, segalanya kembali lagi ke titik awal, maju mundur, diputar sana sini, pada akhirnya pihak yang menderita tetap saja para buruh dan petani. Fakta “Buruh dan Petani tetap saja menderita”, telah mengungkap bahwa ketika roh jahat merancang tahap komunisme, sama sekali tidak mengatur jalan keluar untuknya. Masyarakat komunisme dalam teori Karl Marx, sama sekali tidak mungkin tercapai, tidak heran Karl Marl juga tidak mengatakan bagaimana melakukan transisi. Dari sudut pandang permukaan manusia ini, Marxisme tepatnya adalah ideologi yang berjalan sendiri tanpa arah jelas, ideologi yang ‘Terbengkalai di Tengah Jalan’.
Namun di balik “Terbengkalai di Tengah Jalan” ini, justru tersembunyi konspirasi maha besar dari paham komunis ——– yaitu Memusnahkan Umat Manusia.
(Sumber Dajiyuan)
Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.
Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.


