“Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (9)
Bab 3. Membantai dengan Kekerasan: Kejahatan Menembus Kubah Semesta (Awal)
Daftar Isi
Kata Pengantar: Roh Jahat Komunis Membunuh Sepanjang Jalan
1. Soviet Rusia sebagai Bahan Uji Coba
2. PKT Naik ke Panggung
3. Membantai Habis Kaum Elit
a. Pembantaian di Pedesaan dan Perkotaan
b. Menyingkirkan Agama: Memutus Hubungan dengan Kepercayaan Tradisional
c. Reformasi Ideologi: Ateisme Menguasai Pendidikan
d. Menganiaya Kaum Intelektual: Seluruh Rakyat Dipaksa untuk Berbohong
e. Mengubah Manusia Menjadi “Bukan Manusia”
*****
Kata Pengantar: Roh Jahat Komunis Membunuh Sepanjang Jalan
Berbicara tentang partai komunis, kesan paling kental yang dirasakan orang adalah sebuah kata: “Membunuh”. Pembunuhan yang dilakukan partai komunis, kebanyakan terjadi pada periode damai, dan terjadi dalam wilayah kekuasaan sendiri. ‘Gerakan Pembersihan’ PKT telah membunuh 100 ribu Tentara Merah. Setelah itu ‘Gerakan Perbaikan Yan’an’ dan ‘Reformasi Lahan Mengganyang Tuan Tanah’, terus hingga serangkaian gerakan pembersihan politik setelah tahun 1949, orang-orang yang dibunuh tidak terhitung jumlahnya.
Baik itu adalah perang, ataupun tirani di dalam sejarah, semuanya pertama-tama memiliki musuh dulu barulah terjadi pembunuhan. Namun partai komunis malah bertindak sebaliknya, demi ‘Membunuh’ maka dicarilah musuh, jika tidak ada musuh juga harus menciptakan musuh untuk dibunuh.
Mengapa partai komunis ketagihan membunuh? Karena “Membunuh” adalah langkah strategis bagi tujuan terakhir roh jahat komunis untuk meletakkan fondasi situasi teror di dunia manusia. Partai komunis menganggap “Membunuh” sebagai cabang “ilmu pengetahuan”, sejenis “ilmu seni”, dan “Membunuh” telah dikembangkan hingga ke puncaknya.
Bagaimana caranya Partai komunis ‘Membunuh’? Membunuh dengan pisau, Membunuh dengan mangkuk nasi, Membunuh dengan opini publik.
Membunuh menggunakan pisau, ini sudah tidak perlu banyak dibahas lagi, bagi PKT yang percaya bahwa “Kekuasaan Politik Berasal dari Laras Senapan”, itu merupakan keterampilan dasar andalannya.
Apa yang dimaksud “Membunuh dengan mangkuk nasi”? Tepatnya adalah menahan ‘mangkuk nasi’ orang, jika tidak tunduk maka tidak diberi makan. Betapa banyak kaum intelektual, karena ‘mangkuk nasi’ telah dipaksa bertekuk lutut oleh partai komunis. Orang terpelajar di Tiongkok, sejak dahulu kala, selalu menekankan integritas, tidak tergerak oleh godaan keuntungan. Pada zaman dahulu, setelah tidak digaji sebagai pejabat Istana, masih dapat berusaha mencari nafkah sendiri.
Dalam kisah kuno “Tidak Tunduk Hanya Karena Beras 50 Liter”, dikisahkan Tao Yuanming, seorang Sastrawan dari Dinasti Jin, yang tidak tahan dengan hinaan pejabat korup, dengan kepala tegak menyerahkan stempel pejabat, pergi menjalani kehidupan pedesaan yang santai dan bebas. Partai Komunis Tiongkok telah mengendalikan semua sumber daya sosial yang ada, ketika tidak diberi ‘mangkuk nasi’, maka manusia hanya dapat menemui jalan buntu.
Membunuh dengan opini publik, juga merupakan karakteristik istimewa dari partai komunis. Karena dengan mengendalikan semua media opini publik, siapa saja yang ingin ditumbangkan, maka dapat segera ditumbangkan; siapa saja dituduh penjahat, berarti orang itu adalah penjahat; siapa saja dituduh berdosa sepanjang hidupnya, berarti orang itu berdosa sepanjang hidupnya.
Apa yang hendak dibunuh partai komunis? Slogan PKT adalah ingin ‘Bertarung dengan Langit’, ‘Bertarung dengan Bumi’, ‘Bertarung dengan Manusia’, maka berarti adalah hendak ‘membunuh Langit’, ‘membunuh Bumi’, ‘membunuh Manusia’.
Membunuh Langit ——– diwujudkan dengan panji “Ateisme” untuk membunuh kepercayaan terhadap Tuhan, demi memuluskan jalan “Ateisme”;
Membunuh Bumi ——– diwujudkan dengan mengubah bentuk gunung dan sungai, untuk menginjak-nginjak alam, merusak lingkungan, dan mempraktikkan “Ateisme” yang “Tidak Kenal Takut” dengan Hukum Langit.
Membunuh Manusia ——– diwujudkan dengan membunuh sesama anggota, membersihkan semua anggota yang tidak dapat memenuhi tuntutan kejahatan partai, dan intensifikasi penempaan sifat jahat partai; membunuh dengan menyasar kaum elit, membunuh orang-orang yang menghalangi implementasi rencana roh jahat, termasuk para kaum elit masyarakat selaku pewaris kebudayaan; membantai sesuka hati tanpa tujuan, menghasut massa melawan massa, tujuannya adalah ingin membangun dan mempertahankan situasi teror yang ganas itu.
‘Membunuh’, ada beberapa tujuan utama. Pertama adalah menghabisi musuh-musuh yang diciptakannya; Kedua adalah agar tangan sang pembunuh bergelimang darah, terjebak oleh perbuatan dosa bersama partai, dengan adanya ‘dosa asal’ ini, tiada pilihan lain selain sehati dengan partai komunis, dan berubah menjadi alat pembunuh partai komunis; ketiga adalah membangun lingkungan teror merah, dan mengintimidasi semua manusia. Tujuan “Membunuh” ini, semuanya demi membuka jalan untuk merusak kebudayaan dan menghancurkan moralitas.
Terutama… pembantaian yang dilakukan PKT terhadap para penganut agama dan kaum intelektual. Itu adalah sengaja diciptakan untuk memutus tali kebudayaan, dan memotong hubungan generasi berikutnya dengan kepercayaan dan kebudayaan tradisional. Ini adalah rencana membuat umat manusia rusak, sekaligus melangkah menuju kemusnahan terakhir, yang mana merupakan bagian sangat penting namun seringkali diabaikan oleh manusia.
‘Membunuh’, ingin membunuh sampai kapankah?
Pembunuhan yang dilakukan secara terbuka oleh PKT, tidak hanya menggunakan teror saja untuk membuat manusia tunduk tak berdaya, tapi juga harus melarutkan ‘Ketakutan’ akibat pembantaian ke dalam darah manusia, agar berubah menjadi gen teror, dan terus diwariskan ke generasi berikutnya.
Jika sudah ‘Membunuh’ hingga tahap ini, maka PKT akan berganti haluan, dari membunuh secara terbuka menjadi membunuh secara diam-diam.
“Reformasi Lahan”, “Menindas Kontrarevolusioner”, “Tiga Anti”, “Lima Anti”, “Revolusi Kebudayaan”, itu adalah membunuh secara terbuka, bahkan memanggil massa untuk berkumpul dan menyaksikan, tujuannya agar pembunuhan ini disaksikan semua orang. Pembantaian Tiananmen 4 Juni 1989 adalah membunuh secara semi terbuka, karena setelah kejadian, semuanya disangkal. Setibanya penganiayaan Falun Gong 1999, ini sudah tidak membunuh secara terbuka, pengambilan organ hidup-hidup skala besar yang terungkap setelahnya, jelas adalah membunuh secara diam-diam yang tertutup sangat rapat.
Sejarah dari partai komunis, tepatnya sebuah sejarah pembunuhan manusia. Tanpa “Membunuh” untuk memuluskan jalan, keinginan untuk mencekoki “Ateisme” ke dalam bumi pertiwi bangsa Tionghoa, keinginan untuk mengubah bangsa ini menjadi bangsa yang “tidak percaya Hukum Langit”, serta tujuannya menghancurkan Kebudayaan Warisan Dewa di Tiongkok, sama sekali tidak mungkin dapat tercapai.
(Sumber Dajiyuan)
Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.
Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.


