Fokus

27 Tahun Dianiaya, Praktisi Falun Gong Indonesia Soroti Pengambilan Organ Paksa di China

Tahun ini menandai 27 tahun berlangsungnya penganiayaan terhadap kelompok spiritual Falun Gong atau Falun Dafa di China. Di Indonesia, para praktisi Falun Dafa dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bali dan Batam menggelar aksi meditasi dan nyala lilin untuk memperingatinya.

Diperkenalkan tahun 1992, praktik spiritual Falun Gong menyebar luas ke berbagai lapisan masyarakat di China. Pemerintahan partai komunis China yang saat itu dipimpin oleh Jiang Zemin kemudian memulai kampanye fitnah dan penganiayaan besar-besaran pada 20 Juli 1999. Setelah 27 tahun hingga hari ini, praktik tersebut meluas ke pengambilan organ paksa secara rahasia dari para praktisi Falun Gong, untuk kemudian digunakan negara sebagai bisnis transplantasi dengan nilai jual yang menggiurkan.

Di Jakarta, kegiatan dilakukan di depan gedung Kedutaan Besar China di Mega Kuningan. Salah satu praktisi Jakarta Arief Harijoso yang telah berlatih selama 22 tahun, telah mendapatkan manfaat baik jiwa maupun raga. Baginya sangat penting agar masyarakat Indonesia mengetahui tentang kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Partai Komunis China.

[Arief H.]:

“Ini kan sifatnya kemanusiaan, yang sifatnya kemanusiaan tidak mengenal batas. Contoh kita memiliki saudara kita, meskipun di luar negeri, kemudian saudara kita mengalami kesengsaraan, hati kita juga ikut merasa sakit seperti itulah gambarannnya.”

Sementara di Bali para praktisi Falun Gong juga melakukan berbagai kegiatan seperti pengumpulan tanda tangan sebagai dukungan masyarakat Bali untuk menghentikan penganiayaan di China.

[Haji Husein Khan]:

“Sangat prihatin dengan apa dilakukan terhadap anggota Falun Dafa yang dipersekusi seperti ini, dibunuh, diambil organ tubuhnya, kami sangat-sangat prihatin dan tidak setuju dan akan melawan semua tindakan yang melawan hak asasi manusia.”

Menurut Minghui.org, hingga tahun 2025 jumlah praktisi yang meninggal akibat penganiayaan di Daratan China mencapai lebih dari 5,300 jiwa. Jumlah ini diyakini jauh lebih sedikit dari angka yang sebenarnya, akibat sulitnya mendapatkan informasi yang ditutup-tutupi di China serta berbagai bukti yang dihilangkan dari praktek pengambilan organ.

slot gacor

situs slot gacor