Fokus

Ahli: Waspada Peningkatan Kematian, Kenaikan Flu Burung di China

Virus melonjak di dalam China dalam satu bulan terakhir. Video yang beredar online menunjukkan rumah sakit China dipenuhi pasien. Posting media sosial di seluruh negri melaporkan peningkatan jumlah kematian di komunitas mereka. Sementara itu, virus flu burung membunuh banyak unggas di China tiap harinya. Dokter dan perawat di beberapa provinsi bahkan telah mengadakan latihan medis darurat. Apa yang sedang terjadi dengan kesehatan publik di China? Dan apakah AS dan seluruh dunia telah cukup bertindak melindungi warganegara mereka dari potensi wabah?

Ahli yang memperhatikan situasi baik di AS dan China, berkata, belum cukup. Sebelum kita mendengarkan analisis ahli, mari dengarkan suara warga yang tinggal di berbagai wilayah berbeda di China. Demi keamanan, kami telah mengubah suara mereka.

Reporter: Apakah ada banyak orang dengan gejala demam dan flu?

[Zhang Wei (nama samaran)]: “Ya, ada banyak. Kebanyakan lansia dan anak-anak. Anda bisa mendengar anak saya di belakang. Saya punya anak. Ibu saya juga sakit. Ada juga anak muda berusia 20 tahunan, remaja, dan lansia di usia 70 dan 80-an. Banyak yang terkena flu. Sepertinya ini virus baru.”

Reporter: Oh, apa yang dikatakan rumah sakit tentang penyakit ini?

[Zhang Wei (nama samaran)]: “Mereka hanya berkata itu sejenis flu.”

[Liu]: “Saya baru terkena demam. Ada banyak orang sakit, baik orang dewasa dan anak-anak. Parah. Pilek dan sakit tenggorokan. Tapi tak ada yang berkata virus apa ini. Tak ada yang berkata apapun. Rumah sakit sangat penuh.”

Reporter: Berapa lama orang-orang harus mengantre?

[Liu]: “Sangat lama. Semua harus menunggu berjam-jam. 5-6 jam, kadang 6-7 jam.”

Reporter: Sejak kapan hal ini terjadi?

[Liu]: “Sudah sejak sebulan lalu. Wabah besar.”

[Xu]: “Sangat banyak kasus demam dan flu. Saya juga terkena, dan belum sembuh benar. Ada yang muntah dan diare, ada yang demam, batuk, sakit dan lemas di badan.”

Reporter: Berapa banyak orang yang telah sakit di daerah Anda?

[Xu]: “Sangat banyak. Gejalanya mirip dengan flu biasa di masa lalu. Mungkin juga masih Covid. Obat-obatan tidak berpengaruh.”

[Shao]: “Ada wabah di utara. Paman saya meninggal karena paru-paru putih, cairan di paru. Ia dikubur hari ini, tapi saya tidak pulang. Ia dulunya sehat.”

Reporter: Apakah ada yang lain?

[Shao]: “Cukup banyak, dari yang saya dengar. Ada banyak kasus. Sekarang, krematorium kewalahan dengan orang yang mengantre untuk layanan kremasi. Banyak orang meninggal. Rumah sakit sudah pernah membludak, dan sekarang keadaannya lebih buruk.”

[Mo]: “Lihat saja krematorium. Mereka kewalahan. Mereka tidak bisa kremasi di hari yang sama lagi. Keluarga harus menyuap staf krematorium, atau membayar lebih agar dapat kremasi. Bisakah Anda bayangkan berapa yang telah meninggal?”

Reporter: Apakah ada banyak orang di krematorium?

[Mo]: “Tentu saja! Kadang orang harus mengantre 5 atau 6 jam.”

Laporan saksi mata mengkhawatirkan. Beberapa yang kami wawancara mengatakan mereka percaya rezim China menutup-nutupi keparahan situasi. Beberapa juga berkata rumah sakit dan bahkan rumah duka ikut membantu sensor itu. Yang lain berkata, staf krematorium meminta orang-orang untuk tidak merekam keramaian disana.

Beberapa juga meragukan hasil tes flu dari rumah sakit China, menyinggung bahwa obat-obatan yang diberikan untuk menargetkan flu, tidak meringankan gejala mereka. Mereka berkata dokter juga menolak untuk mempertanyakan hasil tes tersebut.

Sean Lin, pernah bertugas sebagai ahli mikrobiologi di angkatan darat AS selama 7 tahun. Ia juga asisten profesor di departemen biomedical science di Fei Tian College di New York.

[Sean Lin, Ahli Mikrobiologi]: “Saya pikir dari laporan netizen, video, dan banyak postingan, ini sangat mengkhawatirkan. Dan gelombang ini… banyak orang berkata bahwa ini bahkan lebih besar daripada saat-saat Covid. Jadi saya pikir ini sangat mengkhawatirkan. Pemerintah China hanya menekankan ini adalah musim dingin biasa, mereka mengetahui bahwa ada kenaikan tajam dari beberapa patogen berbeda, tetapi mereka tidak dapat menjelaskan mengapa begitu banyak orang memiliki gejala yang parah, mengapa banyak yang masuk rumah sakit, mengapa begitu banyak kematian.”

CDC China memublikasikan laporan terbarunya tentang Epidemi Penyakit Saluran Pernafasan di seluruh negeri pada hari Kamis, mengklaim, kecenderungan infeksi menurun. Tidak ada patogen baru atau tidak diketahui yang teridentifikasi. Laporan juga berkata virus influenza adalah penyebab utama infeksi saluran pernafasan.

Dalam laporan yang terbarunya yang berfokus pada virus influenza, Badan Pengatur Negara China mengklaim baik utara maupun selatan China memiliki lebih sedikit kasus positif, dan hanya satu kasus di daerah yang dilaporkan. Laporan ini sangat kontras dengan apa yang dikatakan warga. Kini orang-orang mempertanyakan mengapa rumah sakit melakukan latihan darurat jika pejabat berkata kasus menurun.

[Sean Lin, Ahli Mikrobiologi]: “Saya pikir pemerintah China sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat serius. Dari berbagai informasi yang dikumpulkan, kita bisa melihat banyak provinsi di China melakukan latihan untuk infeksi flu burung ke manusia. Seperti di provinsi Shaanxi, di provinsi Fujian, kota Fuzhou, provinsi Guangdong. Banyak provinsi mengadakan latihan untuk persiapan infeksi flu burung ke manusia. Jadi ada banyak tanda-tanda.”

Kekhawatiran lain adalah selain latihan tersebut, China masih tetap bersemangat dalam usahanya untuk meningkatkan turisme ke negara itu, untuk memulihkan ekonominya yang loyo. Desember lalu, Beijing mengumumkan peraturan 10 hari bebas visa untuk warganegara di lebih dari 50 negara, termasuk AS, Kanada dan Inggris, membuat traveling ke China jadi jauh lebih mudah.

[Sean Lin, Ahli Mikrobiologi]: “Saya tidak menyarankan orang-orang pergi ke China untuk jalan-jalan, saat pemerintah China tidak transparan tentang jumlah besar mereka yang di rumah sakit, dan jumlah kematian di China.”

Selain dari laporan saksi mata di China, mari kita lihat apa yang terjadi dengan unggas, sumber virus flu burung. Pemilik peternakan unggas di China melaporkan kerugian besar akibat virus flu burung. Video media sosial menyorot tumpukan ayam dan bebek mati. Informasi semacam ini tidak muncul di tajuk media di China.

Di AS, CDC melaporkan virus flu burung telah mempengaruhi lebih dari 150 juta unggas, dan telah menyebar ke mamalia lain, termasuk kucing bobcat dan beruang cokelat, serta ternak seperti sapi perah. Di tahun lalu saja hampir seribu ternak dites positif untuk H5N1. Sekarang, CDC AS masih menyatakan risiko penularan dari burung ke manusia rendah. Mereka juga belum mendeteksi kasus penularan flu burung antar manusia, yang berarti, semua kasus infeksi manusia berasal dari kontak dengan unggas yang terinfeksi.

Ahli epidemi dari Florida, dr Edwin Michael menyuarakan potensi bahaya lainnya, jika manusia terinfeksi flu burung dan virus influenza A di waktu yang sama, kedua virus itu dapat bermutasi ke virus yang lebih berbahaya. Dan Michael berkata virus baru dapat menyebabkan epidemi. Kekhawatiran ini datang saat AS mengalami musim flu paling parah dalam 15 tahun. Dan untuk pertama kalinya bulan lalu, jumlah kematian dari flu telah melampaui jumlah kematian akibat virus korona.

AS, Inggris, Australia dan Uni Eropa baru-baru ini mulai mempersiapkan vaksin untuk melawan infeksi H1N1 pada manusia.