Fokus

Aktivis HAM Menuduh Tiongkok Membuat Ancaman Bom Palsu

Aktivis HAM Australia, Drew Pavlou, ditangkap di Inggris terkait ancaman bom palsu yang dikirim ke Kedutaan Besar Tiongkok di London.

Sebuah email mengklaim bahwa dia akan meledakkan Gedung kedutaan, karena penindasan Beijing terhadap kaum Muslim Uimghur.

Kedutaan meneruskan email tersebut ke Polisi, yang kemudian menangkapnya.

Pavlou mengatakan, email dan tuduhan itu telah dibuat oleh rezim Tiongkok, dan bahwa dia memprotes secara damai di luar Gedung kedutaan.”

“Mereka membuat email ini dengan mengklaim bahwa saya mengirimi mereka ancaman bom, itu benar-benar gila.”

Pavlou, seorang kritikus vokal Partai Komunis Tiongkok, yang berbicara untuk mereka yang dianiaya di daratan Tiongkok, belum didakwa tapi tetap dengan jaminan polisi.

Polisi Metropolitan London mengonfirmasi bahwa seorang pria ditahan di Kedutaan Besar Tiongkok Kamis lalu.

Polisi mengatakan dia ditawari konsultasi hukum, dan dia berusaha menempelkan tangannya ke bagian luar kedutaan.

Pavlou mengatakan, aksesnya ke otoritas konsuler Australia ditolak, tapi dia memang mencoba untuk merekatkan tangannya dengan bendera Taiwan di gerbang depan Kedutaan.

Dia mengatakan ini tidak ada hubungannya dengan ancaman bom.

Pavlou mengatakan bahwa Kedutaan Besar Tiongkok melaporkannya sebagai teroris dan polisi Inggris menangkapnya.

Email tipuan bom dikirim dari akun bernama drawpavlou99@protonmail.me, akun yang Pavlou katakan belum pernah dilihatnya.

Ada juga laporan email palsu lain, tapi tampaknya ditandatangani oleh Crown Prosecution Service, yang menyerang Michael Polak, pengacara yang menangani kasusnya.

Tidak lama setelah penangkapannya, sebuah artikel yang menyerang Pavlou, diterbitkan oleh Global Times milik pemerintah Tiongkok.

Pavlou berencana untuk kembali ke Australia pada hari Minggu, dan telah menghubungi Komisi Tinggi Australia.

Dia meminta polisi untuk menyelidiki keterlibatan Kedutaan Besar Tiongkok, dan mengizinkannya pulang.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI