Perang AS ke Iran yang masih berlanjut menimbulkan kekhawatiran bahwa pasokan senjata Amerika dapat terbebani. Beberapa analis memperingatkan kesiapan militer AS di tempat lain seperti Indo-Pasifik dapat terpengaruh. Kekhawatirannya adalah terkurasnya persediaan amunisi dan rudal yang dibutuhkan untuk mencegah China, terutama jika ketegangan atas Taiwan meningkat. Jadi, bagaimana para pejabat menanggapi kekhawatiran tersebut? Mari kita lihat.
[Senator Kevin Cramer]:
Rusia dan Iran menyediakan jumlah minyak yang hampir setara dengan harga diskon untuk China. Jadi, ada dua aktor jahat yang mendanai pembangunan senjata China, dan menggunakan uang yang mereka dapat dari China untuk membangun senjata mereka sendiri. Meski hal itu memiliki dampak ekonomi yang luar biasa, dampak itu juga termasuk dampak keamanan nasional. Itulah mengapa konflik-konflik ini tidak dapat dipisahkan. Anda harus menempatkannya dalam konteks apa yang sedang terjadi secara geopolitik.”
[Pete Hegseth, Menteri Perang AS]:
“Kita tidak kekurangan amunisi. Persediaan senjata pertahanan dan serangan kita memungkinkan kita untuk mempertahankan kampanye selama yang dibutuhkan. Sekali lagi, status amunisi kita hanya meningkat seiring dengan meningkatnya keunggulan kita.”
Menurut laporan Nikkei Asia, perusahaan konsultan Bower Group Asia mengeluarkan memo Jumat lalu, memperingatkan potensi tantangan bagi militer AS. Memo mengatakan perang berkepanjangan dengan Iran dapat memperlambat AS mengalihkan sumber daya ke Indo-Pasifik dan membatasi senjata dan personel untuk pencegahan yang kuat disana.
Laporan juga mencatat pertempuran intensitas tinggi dapat menunda produksi dan pengiriman amunisi penting.
Namun dalam sidang Senat pekan lalu, Wakil Menteri Perang AS untuk Kebijakan Elbridge Colby, menepis kekhawatiran ini. Colby menekankan bahwa AS sedang membangun kembali kapasitas produksi mereka, dan mendesak sekutu agar juga bertanggung-jawab atas pertahanan mereka sendiri.
Taiwan dilaporkan telah memesan senjata AS senilai lebih dari 20 miliar dolar, namun pengirimannya tertunda karena keterbatasan kapasitas di kontraktor pertahanan Amerika.
Di saat yang sama, China terus membangun kekuatan militernya, mengumumkan peningkatan anggaran militer sebesar 7% pekan lalu.
