AS tengah merekonstruksi pangkalan militer eks Perang Dunia II dekat kawasan Asia. Dulunya pernah menjadi tempat singgah pesawat-pesawat AS pembawa bom atom ke Jepang. Langkah ini diambil sebagai persiapan AS menghadapi kemungkinan konflik dengan Beijing di masa depan.
Fokus utamanya adalah Pulau Tinian di Kepulauan Mariana Utara, Indo-Pasifik. Sebagai bekas pangkalan udara terbesar era Perang Dunia II, AS kini membangun kembali landasan dan infrastruktur disana. Berjarak 100 mil dari Guam, lokasi ini disiapkan sebagai pangkalan cadangan jika pangkalan utama diserang.
Analis menilai strategi seperti ini sangat penting untuk menghadapi konflik di masa depan. Langkah ini membuat pangkalan kecil bisa menjalankan fungsi pangkalan besar
[Hsieh Pei-hsueh, Pakar Peneliti Taiwan]:
“Saat perang, landasan pacu ini bisa berfungsi sebagai titik pendaratan, tempat pengisian bahan bakar maupun gudang amunisi. Kekuatan udara AS tetap terjaga meski pangkalan utamanya hancur.”
Langkah ini terwujud di tengah memanasnya ketegangan di Indo-Pasifik dimana kapal-kapal China makin sering melanggar batas laut dekat Jepang dan Korea Selatan. China juga rutin menggelar latihan militer skala besar di sekitar Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya. China juga terus mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, meski klaim tersebut ditolak oleh keputusan internasional.
Analis berpendapat strategi Washington mengirimkan pesan jelas bahwa AS tidak lagi bergantung pada pangkalan besar saja. Hal ini membuat lawan seperti China tidak dapat mengandalkan serangan tunggal untuk melumpuhkan AS.
