Fokus

Bagaimana Runtuhnya Perusahaan Real Estat Tiongkok Mempengaruhi Ekonomi Global

Investor Tiongkok menyuarakan keprihatinan tentang utang besar pengembang real estat, Evergrande.

Ini, meskipun ada upaya dari ketua grup untuk meningkatkan kepercayaan pada perusahaan.

Beijing masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyelamatkan perusahaan itu, atau memblokir potensi efek domino, agar tidak jatuh ke ekonomi global.

Saham pengembang properti Tiongkok Evergrande, anjlok sebanyak 7% pada hari Selasa.

Itu setelah anjlok 10% sehari sebelumnya.

Perusahaan ini memiliki dua tenggat waktu pembayaran di depan, satu Kamis ini.

Para investor khawatir raksasa itu bisa gagal bayar karena utangnya yang menggunung, dan memicu kegagalan di seluruh sektor properti Tiongkok, serta segala sesuatu yang terpapar padanya: pertama bank, lalu pasar yang lebih luas.

Evergrande memiliki kewajiban $305 miliar, setara dengan 2% dari PDB Tiongkok.

Tekanan untuk menjual, tinggi di Asia.

Indeks Hang Seng berada di titik terendah dalam 11 bulan di perdagangan pagi.

Nikkei Jepang turun hampir 2%, kembali dari liburan Senin.

Sebuah laporan S&P hari Senin, mengatakan kecil kemungkinan Beijing akan menyelamatkan perusahaan.

S&P Global Ratings percaya, Beijing “hanya akan dipaksa untuk turun tangan jika ada penularan yang luas yang menyebabkan pengembang besar gagal, dan menimbulkan risiko sistemik terhadap ekonomi.”

Dan bahwa, “Gagalnya Evergrande sendirian, tidak akan menghasilkan skenario seperti itu.”

Ketua Evergrande, Hui Ka Yan mencoba untuk mengecilkan krisis utangnya.

Dalam sebuah surat kepada staf pada hari Selasa, bertepatan dengan festival pertengahan musim gugur Tiongkok, dia mengatakan, perusahaan akan ‘keluar dari momen tergelapnya’, dan memberikan proyek properti seperti yang dijanjikan.

Para investor di Evergrande, bagaimanapun, tetap gelisah.

Pemerintah Tiongkok sebagian besar diam tentang Evergrande pada hari libur umum.

Tidak ada penyebutan tentang masalah perusahaan itu, di media pemerintah utama.

Seberapa besar kemungkinan raksasa real estat Evergrande runtuh?

Dan bagaimana potensi keruntuhan itu mempengaruhi ekonomi global?

Kami berbicara dengan seorang ekonom untuk mencari tahu lebih banyak.

Ketua Evergrande ingin Anda percaya bahwa perusahaannya akan baik-baik saja.

Tapi banyak yang tidak begitu yakin.

Ekonom Daniel Lacalle: “Saya pikir, tidak dapat dihindari, Evergrande akhirnya gagal bayar karena, kenyataan bahwa perusahaan tidak mampu memenuhi komitmen keuangannya, bukan hanya jangka pendek, tapi juga yang jangka panjang. Karena jika Anda melihat arus kasnya, sejak 2012, sangat buruk.”

Ekonom Daniel Lacalle mengatakan, perusahaan pada dasarnya telah menimbun utang, dan meminjam utang baru untuk melunasi utang lama.

Lacalle: “Ini adalah situasi yang sangat menantang, perusahaan di atas itu, memiliki masalah substansial atas aset yang, – karena tidak ada kata yang lebih baik – ‘tidak berharga’, karena banyak dari mereka tidak memiliki permintaan, dan belum memenuhi tingkat janji yang dijanjikan, akan diberikan oleh perusahaan.”

Dan Evergrande tidak sendirian.

Banyak pengembang besar lain di Tiongkok sama-sama terlilit utang, dan kekurangan permintaan pasar.

Itulah salah satu alasan rezim Tiongkok mungkin tidak ingin menyelamatkan Evergrande, itu akan menjadi contoh yang buruk.

Lacalle: “Karena jika seseorang melihat pemain yang terburuk, dan itu ditolong, maka hampir bebas bagi semua untuk terus berperilaku buruk, bukan?”

Dan bahkan jika rezim dapat menyelamatkan Evergrande, ia mungkin tidak memiliki uang untuk menyelamatkan semua orang.

Faktanya, para ekonom selama bertahun-tahun telah memperingatkan tentang gelembung perumahan di Tiongkok.

Menurut sebuah studi oleh sekolah bisnis terkenal di Tiongkok, satu dari lima rumah di negara itu kosong.

Artinya ada 150 juta rumah, tanpa ada yang tinggal di dalamnya.

Itulah semua yang disebut sebagai “kota hantu” di seluruh negeri.

Lacalle juga menambahkan bahwa runtuhnya perusahaan seperti Evergrande, tidak hanya akan mempengaruhi sektor perumahan.

Lacalle “Efek penularan ke bidang lain seperti keuangan, seperti, sistem perbankan juga sangat mungkin, karena ini adalah perusahaan yang sangat berhutang, dalam sektor yang bukan sektor kecil. Secara keseluruhan, adalah sekitar 25% dari PDB Tiongkok.”

Lalu bagaimana semua ini akan mempengaruhi ekonomi global?

Dana obligasi Barat, yang telah menggenjot pembelian obligasi korporasi Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, sudah merasakannya.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa dana yang dikelola oleh Ashmore Group, BlackRock, dan Pacific Investment Management, di antara yang lain, melihat penurunan tajam.

Lacalle percaya dampaknya terhadap ekonomi maju tidak akan terlalu signifikan, selain bank-bank yang telah terpapar ke negara-negara ekonomi berkembang, dan ke Tiongkok.

Tapi mungkin ada beberapa kerusakan yang terjadi pada pasar negara berkembang.

Lacalle: “Tiongkok telah memainkan peran yang sangat signifikan dalam pembiayaan proyek-proyek yang sangat dipertanyakan di seluruh Amerika Latin, dan ekonomi perbatasan serta Afrika. Oleh karena itu, banyak dari ekonomi ini yang mengandalkan pinjaman Tiongkok untuk proyek-proyek yang sangat meragukan akan mengalami krisis kredit.”

Dan bagi mereka yang sangat percaya bahwa rezim Tiongkok akan selalu turun tangan untuk menyelamatkan pada akhirnya, Lacalle mengatakan:

Lacalle: “Jadi, jika seseorang membeli ke pasar berdasarkan prinsip bahwa pemerintah atau bank sentral akan menyelamatkan Anda dari malinvestasi, maka dia layak menerima kerugian.”

Drama Evergrande mungkin juga tumpah ke bidang politik Tiongkok.

Kerumunan investor dan pemilik rumah yang tidak puas menuntut uang dari perusahaan real estat itu.

Ini bisa menghadirkan salah satu ketakutan terbesar rezim Tiongkok: ketidakstabilan sosial.

Itu terutama menjelang pertemuan penting yang akan datang pada tahun 2022,

Kongres Partai sekali dalam lima tahun, di mana pemimpin Komunis, Xi Jinping akan mencoba untuk mengamankan masa jabatan ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya, untuk dirinya sendiri.

Tindakan keras Beijing terhadap pinjaman membuat perusahaan kekurangan uang,

Grup pengembang Tiongkok terkemuka, menjual unit manajemen propertinya kepada pesaing, dan mencoba mengumpulkan dana dari dua pemegang saham utamanya.

Pengembang itu, bernama Guangzhou R&F Properties, mengatakan hari Senin, pihaknya akan menerima satu miliar dolar dari dua pemegang saham terbesarnya.

Dalam pernyataan terpisah, pengembang Country Garden, mengatakan telah setuju untuk membeli lengan manajemen properti R&F, sebanyak sekitar 1,5 miliar dolar.

Pengumuman itu datang ketika Evergrande Group Tiongkok, pengembang yang paling berhutang di negara itu, dikatakan telah mulai membayar kreditur dengan properti, alih-alih uang tunai.

Runtuhnya Evergrande bisa bergema melewati sektor yang menyumbang sekitar seperempat dari ekonomi Tiongkok.

R&F diturunkan peringkatnya awal bulan ini oleh perusahaan pemeringkat kredit, Moody, dan diberikan prospek kredit negatif oleh Fitch Ratings pada hari Senin.

Sahamnya turun 7,3% ke level terendah hampir 13 tahun pada hari Senin, sebelum mengumumkan sumber pendanaan barunya.

R&F memiliki sekitar 1,8 miliar dolar obligasi yang jatuh tempo tahun depan.

Pada akhir Juni, perusahaan memiliki total utang 51 miliar dolar.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI