Fokus

Bali: Hentikan Penganiayaan Transnasional Falun Dafa oleh Partai Komunis Tiongkok

20 Juli 1999 adalah hari di mana Partai Komunis Tiongkok atau PKT melancarkan penindasan terhadap Falun Gong atau Falun Dafa. Pemimpin saat itu Jiang Zemin sesumbar untuk “melenyapkan” Falun Gong dalam 3 bulan. Bencana kemanusiaan ini telah berlangsung selama 26 tahun, namun Falun Dafa justru berkembang semakin pesat ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.

Di Bali, ratusan praktisi Falun Dafa juga memperingati peristiwa 20 Juli ini dengan latihan bersama di Lapangan Bajra Sandhi Renon Denpasar. Wayan Gelgel selaku koordinator lapangan berkata, praktisi Falun Dafa di Tiongkok telah menahan kekejaman penganiayaan oleh Partai Komunis Tiongkok, termasuk kejahatan mengerikan pengambilan organ paksa.

[I Wayan Gelgel, Koordinator Lapangan]:

“Mengerikannya adalah mereka waktu di diambil organnya itu masih hidup, artinya tidak di bius. Dan di pengambilan organ ini tidak hanya satu organ yang diambil, bisa satu orang itu semua diambil, ginjalnya, hatinya, kornea matanya, jadi berbagai bagian tubuh itu diambil dan dijual setelah itu tubuhnya dikremasi untuk menghilangkan jejak. Nah ini adalah hal yang sangat mengerikan bagi kita, yang mestinya tidak terjadi dan orang-orang di dunia juga harus tahu karena media di sana selalu menutup-nutupi apa yang sedang terjadi di sana. Oleh karena itu kami praktisi Falun Gong di seluruh dunia, termasuk di Bali menyampaikan hal penting ini agar orang orang tahu.”

Wayan Gelgel berkata penganiayaan Falun Dafa di Daratan Tiongkok juga bersifat transnasional, dimana Partai Komunis Tiongkok memanfaatkan media dan influencer media sosial di luar negeri untuk memfitnah dan menyesatkan opini publik agar masyarakat antipati pada Falun Dafa.

Namun bagi yang telah merasakan manfaat dari Falun Dafa, mereka mengerti akan berharganya latihan ini.

[Kadek Parta, Praktisi Falun Dafa di Bali]:

“Kesabaran saya meningkat, kesehatan saya lebih meningkat juga dan moralitas tentu juga meningkat. Dulu saya pernah mengidap pilek menahun, setelah belajar Falun falun Dafa pilek menahun saya berkurang dan hampir tidak ada dan tubuh saya merasa lebih baik.”

[Wayan Yoni, Praktisi Falun Dafa di Bali]:

“Dulu saya sering sakit, bisa dihitung satu bulan saya 2 kali ke dokter. Setelah mengikuti latihan Falun Dafa ini yang diperkenalkan oleh teman kerja saya, dengan tanpa disadari saya tidak pernah ke dokter lagi, semua penyakit maag dan stres yang saya alami itu hilang dengan tidak saya sadari. Watak saya berubah, dulu saya sering marah-marah sampai membanting benda-benda kalau marah, di situ saya menyadari tidak boleh melakukannya lagi.”

Selain latihan bersama, mereka juga mengumpulkan petisi untuk menghentikan penganiayaan di Tiongkok. Senada dengan itu, di Amerika Serikat, pada 5 Mei 2025, Kongres AS juga telah secara bulat meloloskan RUU Perlindungan Falun Gong, yaitu RUU yang akan menerapkan sanksi hukum bagi mereka yang terlibat dalam kejahatan pengambilan organ tubuh hidup-hidup, dan menyerukan pada Partai Komunis agar segera menghentikan penganiayaan Falun Dafa di Daratan Tiongkok.

Acara diakhiri dengan nyala lilin bersama di lapangan Puputan Badung Denpasar, membentuk formasi huruf dengan lilin yang bertuliskan “Stop the Persecution of Falun Gong in China” (Akhiri Penganiayaan terhadap Praktisi Falun Gong di Tiongkok).

NTD News melaporkan dari Renon, Bali.

slot gacor