Site icon NTD Indonesia

Belum Ada Kesepakatan Bisnis Besar di Pertemuan Starmer – Xi

Belum ada kesepakatan bisnis besar setelah Perdana Menteri Inggris bertemu dengan pemimpin China Xi Jinping. Untuk membantu bisnis Inggris berkembang di China, Beijing telah setuju mengizinkan warga negara Inggris bepergian tanpa visa hingga 30 hari. Sementara perusahaan farmasi Inggris Astra Zeneca berkata akan menginvestasikan 15 miliar dolar di China hingga 2030.

Pertemuan dengan Pemimpin China Xi Jinping hari Rabu tidak menghasilkan kesepakatan bisnis besar bagi Perdana Menteri Inggris Kier Starmer, meski membawa lebih dari 50 pemimpin bisnis dan budaya untuk menghidupkan kembali perekonomian Inggris yang melambat.

China telah setuju memangkas tarif wiski Inggris dari 10 hingga lima persen. Kedua negara juga sepakat berbagi intelijen untuk menghentikan penyelundup menggunakan mesin buatan China untuk mengangkut migran melintasi selat Inggris.

Kedua negara juga akan menjajaki potensi kesepakatan untuk menetapkan aturan yang jelas bagi perusahaan Inggris yang berbisnis di China.

Di pihak China, Astra Zeneca telah menjanjikan investasi sebesar 15 miliar dolar hingga 2030.

Mengenai HAM, Starmer berkata ia berdiskusi penuh hormat dengan Xi mengenai kasus Jimmy Lai, seorang warga negara Inggris dan mantan taipan media pro-demokrasi Hong Kong. Lai menghadapi potensi hukuman seumur hidup berdasarkan UU Keamanan Nasional.

Tim Starmer dilaporkan membawa telepon dan laptop sekali pakai untuk mencegah China memata-matainya. Ini terjadi setelah laporan Telegraph bahwa China meretas telepon para asisten mantan perdana menteri Boris Johnson, Liz Truss, dan Rishi Sunak.

Menteri Dalam Negeri bayangan dari Partai Konservatif, Chris Phillip, mengkritik kunjungan Starmer, berkata ia mengorbankan keamanan nasional Inggris untuk mendapat sedikit keuntungan ekonomi dari Xi Jinping. Politisi Partai Liberal Demokrat Inggris, Calum Miller, memberitahu BBC bahwa pendekatan Starmer hanya memberi dan tidak menerima. Ia menambahkan bahwa banyak perusahaan Inggris menginginkan bisnis dengan China, tetapi publik juga ingin tahu bahwa perdana menteri membela keamanan nasional.

Sebelum kunjungan Starmer, Inggris menyetujui rencana pembangunan kedutaan mega China di pusat kota London, meski ada kekhawatiran bahwa tu dapat membantu spionase Beijing.

Agen PKC Ancam Teror di Inggris Atas Shen Yun

Sementara, saat Starmer masih berada di China setelah melakukan pembicaraan dengan Xi, agen-agen China di Inggris dilaporkan mengancam akan menembaknya jika pertunjukan Shen Yun tetap dilakukan.

Media metro Inggris melaporkan awal pekan ini bahwa Shen Yun menerima email berisi ancaman selama tur di Inggris yang masih berlangsung. Salah satu email berbunyi,

“Batalkan pertunjukan Shen Yun atau Perdana Menteri Inggris Keir Starmer akan ditembak dari jarak jauh.”

Email lain berbunyi,

“Jika Anda bersikeras Shen Yun tampil, Anda akan mengalami serangan teroris yang mengejutkan. Saya tidak bercanda.”

Shen Yun adalah perusahaan seni berbasis di New York. Misinya adalah untuk menghidupkan kembali budaya tradisional Tiongkok dari masa sebelum komunisme. Pertunjukan tersebut juga mengungkap penganiayaan berkelanjutan PKC terhadap kelompok spiritual Falun Gong. Selama dua tahun terakhir, perusahaan itu telah menerima lebih dari 160 ancaman kematian dan bom yang diyakini berasal dari agen PKC. Menurut situs web Shen Yun, rezim China telah mencoba untuk menyabotase pertunjukan di seluruh dunia sejak perusahaan tari itu didirikan pada tahun 2006.

Terlepas dari ancaman tersebut, tidak ada insiden nyata yang pernah terjadi, dan tidak ada pertunjukan yang dibatalkan.