Fokus

Cegah ‘Rush Money’, Setor Tarik Tunai Tiongkok Harus Registrasi

Tanggal 1 Juli, Provinsi Hebei mulai menerapkan pengawasan uang tunai jumlah besar. Individu yang menyetor dan menarik diatas 100.000 RMB, dan perusahaan yang menyetor dan menarik diatas 500.000 RMB, harus menyertakan keterangan sumber setoran dan tujuan penarikan.

Provinsi Hebei adalah provinsi percontohan pertama. Tanggal 1 Oktober, hal ini akan diperluas ke Provinsi Zhejiang dan Kota Shenzhen. Di kedua area ini, jumlah maksimal setor dan tarik bagi individu adalah 300,000 dan 200,000, sementara bagi perusahaan adalah 500,000.

Meskipun Bank Sentral Partai Komunis Tiongkok telah lama memiliki aturan akan penarikan kas dalam jumlah besar, namun membuat aturan kaku tentang tujuan dari penarikan kas adalah yang pertama kalinya.  

Ren Zhongdao, seorang analis keuangan Tiongkok berkata, “PKT ingin memantau lebih baik perusahaan dan individu, karena setiap mata uang memiliki nomor seri, yang berkaitan dengan bisnisnya, siapa yang menarik, berapa jumlahnya, berapa nomor serinya, kemana aliran uang setelah ditarik, informasinya bisa terpantau lebih baik, terlebih apa yang disebut data besar, kamera pengintai dll, ingin mutlak menguasai informasi seseorang atau perusahaan.”

Xie Tian, dosen Aiken School of Business di Universitas South Carolina AS berpendapat, pengetatan aturan ini terjadi karena Partai Komunis Tiongkok takut terjadinya rush money, atau masyarakat panik menarik uang.

Xie Tian menganalisa, kini gaji pegawai negri telah dipotong, gaji pasukan 50 sen pun diisukan turun hingga 20 sen, hal ini menunjukkan situasi ekonomi yang sangat ketat di Daratan Tiongkok. Ditambah kejadian penipuan di berbagai platform keuangan hingga ke emas jaminan hipotek yang palsu, efek domino ini bisa berbahaya.

Bank Sentral Partai Komunis Tiongkok berkata, proyek percontohan di Provinsi Hubei ini bertujuan mencegah hal-hal melanggar hukum melibatkan uang tunai skala besar.   

“Sebenarnya hanya untuk menipu rakyat biasa, kita lihat banyak pejabat korup Partai Komunis Tiongkok saat rumah mereka digrebek, banyak sekali uang tunai di rumah mereka. Banyak mesin penghitung uang sampai rusak terbakar, uang belum selesai dihitung, sampai perlu truk untuk membawanya, menunjukkan pejabat korup tidak akan menyetorkan uang suap mereka ke bank. Ini hanya dalih belaka,” ujar Xie Tian.

Disinyalir, uji coba program percontohan ini dilakukan selama dua tahun, sebelum penerapan penuh pada 2022, sekaligus menerapkan RMB digital.

“RMB digital yang dipelajari Partai Komunis Tiongkok memiliki beberapa fungsi pembayaran, penyimpanan dan aspek-aspek lainnya. Setelah RMB digital keluar, akan menjadi pukulan bagi apa yang disebut pembayaran pihak ketiga, seperti via WeChat dan Alipay, terhadap mata uang digital lainnya, mata uang virtual juga akan berdampak sangat besar, dengan kata lain, Partai Komunis Tiongkok hanya mengijinkan dirinya mendominasi, tidak mengijinkan orang lain berpartisipasi,” kata Ren Zhongdao.

“Mata uang digital bahkan lebih efektif mengontrol keuangan, bagi peredaran mata uang, mengekang inflasi, hingga mencegah rush bank, memantau kata dan perbuatan rakyat. Rakyat Tiongkok seperti binatang yang hidup di kandang, dipantau 24 jam oleh Partai Komunis Tiongkok dari semua aspek, hal mana tentunya dikarenakan Partai Komunis Tiongkok takut kehilangan kekuasaan,” tambah Xie Tian.

Tanggal 9 juni, Bank Sentral Partai Komunis Tiongkok merilis “Program Percontohan Manajemen Kas Besar”, mengawasi binis setor-tarik tunai jumlah besar, laporan perusahaan dari industri tertentu, laporan pendapatan tunai pribadi, dan lainnya.

Pengawasan ini telah mengundang kritik di internet. Warganet menduga hal ini telah melanggar hak privasi, namun hanya diterapkan pada rakyat kebanyakan. Bagi kelompok istimewa, mungkin tidak perlu ada pembatasan apapun karena tidak ada yang berani memeriksa. (ntdtv/ljy/lia)

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.