Site icon NTD Indonesia

China dan Rusia Bertemu Pererat Hubungan, Dorong Visi Dunia Multipolar

Presiden Rusia Vladimir Putin melawat ke China hanya beberapa hari setelah kunjungan Presiden Trump. Sederetan pertemuan langka di Beijing antara para petinggi kenegaraan ini terjadi di tengah rumitnya rivalitas Amerika-China, yang kini memicu reaksi berantai geopolitik di Asia. Berikut rinciannya.

Presiden Rusia Vladimir Putin berkunjung ke China pada 19 hingga 20 Mei dan bertemu dengan pemimpin China Xi Jinping pada hari Rabu. Kunjungan tersebut berlangsung hanya 4 hari usai kunjungan Presiden AS Donald Trump.

Sama halnya dengan Trump yang datang dengan rombongan pebisnis papan atas AS, Putin tiba dengan pakar senior ekonomi dan politik, termasuk lima wakil perdana menteri dan delapan menteri kabinet Rusia.

Di Beijing, Putin diberikan sambutan tingkat tinggi serupa dengan Presiden Trump, termasuk upacara penyambutan di Lapangan Tiananmen, resepsi makan malam, dan perjamuan minum teh usai pertemuan formal.

Pada pembukaan meeting, Putin menyampaikan sebuah pepatah China yang berbunyi, “Terpisah satu hari terasa seperti tiga tahun”  untuk menunjukkan keakraban mereka. Ia menyatakan bahwa hubungan Rusia-China kini berada di puncak tertinggi dan menjadi contoh bagi dunia.

Xi Jinping menegaskan bahwa hubungan mereka akan terus berkembang ke arah yang lebih berkualitas. Keduanya resmi memperpanjang perjanjian persahabatan dan kerja sama yang disepakati pada 2001, serta membuat pernyataan bersama untuk memperkuat kerja sama strategis melalui berbagai kesepakatan baru.

Sementara itu, negara-negara Barat tengah mengawasi dengan cermat apakah Beijing akan memasok senjata atau teknologi yang mendukung perang Rusia di Ukraina.