China masih menunda-nunda menyetujui permintaan AS atas bahan tanah jarang, meskipun mereka berjanji akan melonggarkan ekspor dua minggu lalu. Banyak perusahaan Amerika berkata mereka harus menunggu berminggu-minggu karena banyak permintaan yang ditolak mentah-mentah. Penundaan ini meningkatkan biaya dan dapat memicu kembali ketegangan perdagangan AS-China.
Bukan hanya magnet jadi yang ditunda. Banyak perusahaan AS berkata permintaan bahan baku untuk membuatnya juga tersendat, hingga memaksa produsen untuk berebut. Beberapa membayar ekstra untuk angkutan udara agar produksi tetap berjalan. Banyak pemain industri khawatir penundaan bisa berlangsung lama, meskipun Gedung Putih menjamin ekspor akan kembali normal.
Seorang analis tanah jarang mencatat bahwa meskipun China mungkin telah mencabut pembatasan di atas kertas, prosedur birokrasi masih memperlambat persetujuan. Para analis berkata ini menunjukkan Beijing dapat memperketat cengkramannya pada rantai pasokan AS jika mereka mau.
China memproduksi 90% magnet tanah jarang terkuat di dunia yang digunakan dalam pesawat dan jet tempur. Pada bulan Mei, ekspor magnet ke AS turun hingga 93% dibandingkan tahun lalu. Washington menuduh China menunda lisensi ekspor, tetapi Beijing mengklaim mereka hanya berusaha menjauhkan bahan dari tangan militer.
Wall Street Journal berkata China membuat perusahaan menyerahkan daftar pakar teknologi mereka, untuk memastikan mereka tidak berbagi apapun dengan orang asing yang ingin merdeka dari rantai pasokan tanah jarang Beijing.
Seorang importir magnet AS mengatakan biayanya jadi sangat mahal hanya untuk menjaga pabrik tetap beroperasi. Jika ini berlanjut, produsen Amerika mungkin menghadapi tekanan yang meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Dengan adanya tantangan ini, AS mungkin akhirnya berkesempatan membawa beberapa penyulingan kembali ke dalam negeri. Langkah ini dimulai di Oklahoma, dimana fasilitas mesin penyulingan nikel berlokasi, langkah untuk melepaskan diri dari cengkeraman China. Fasilitas itu diharapkan akan mengubah Oklahoma menjadi pusat pemrosesan mineral penting AS, sebuah sektor yang telah tidak aktif selama beberapa dekade.
Dunia sedang mengamati kendali China atas tanah jarang. Komisaris industri Uni Eropa memperingatkan bahwa Beijing menggunakan tanah jarang sebagai pemerasan ekonomi, dan mendesak Eropa untuk membangun cadangannya sendiri. Ia mengatakan jika Eropa memiliki cadangan minyak dan gas, seharusnya Eropa juga memiliki cadangan tanah jarang.
Menanggapi penundaan terbaru China, Uni Eropa mengatur strategi bahan baku pentingnya, demi mengurangi ketergantungan pada tanah jarang pada China hingga tidak lebih dari 60% pada 2030.
Jepang telah menciptakan cadangan setelah China menghentikan ekspor tahun 2010. Korea Selatan menyimpan persediaan tanah jarang yang diperkirakan akan bertahan sekitar 100 hari jika pasokan terganggu. Dan Australia berencana untuk membangun rantai pasokan tanah jarangnya sendiri.
Upaya-upaya ini bertujuan untuk mengurangi kendali China atas bahan-bahan yang digunakan dalam berbagai produk mulai dari smartphone hingga teknologi militer.

