China dilaporkan memerintahkan bank-banknya untuk memeriksa dampak keuangan dari Venezuela setelah AS menangkap mantan pemimpinnya Nicholas Maduro, sekutu lama Beijing. Bank-bank China memiliki kekhawatiran besar untuk mendapatkan kembali miliaran pinjaman yang belum lunas.
Regulator keuangan tertinggi China telah memerintahkan bank-bank pemberi pinjaman utama untuk melaporkan pinjaman terkait Venezuela dan memperketat pemantauan risiko.
Menurut sumber Bloomberg pada hari Senin, ini mencerminkan kekhawatiran Beijing atas ketegangan geopolitik terkait investasi China di kawasan tersebut. Venezuela telah menjadi mitra utama China selama bertahun-tahun. Pada pertengahan tahun 2000-an, China membutuhkan minyak dan Venezuela membutuhkan uang. Kedua negara menjalin kemitraan yang berpusat pada pinjaman untuk minyak. Menurut data bantuan, sebuah lembaga penelitian berbasis di Virginia mengklaim total pinjaman China ke Venezuela sejak tahun 2000 telah mencapai lebih dari 100 miliar dolar. Negara itu kini berutang sekitar 10 miliar dolar kepada Beijing. Namun, melunasi utangnya telah menjadi masalah jangka panjang bagi Venezuela. Sanksi AS dan kemerosotan ekonomi Venezuela telah memaksa China untuk menerima minyak alih-alih uang tunai.
Kini, tekanan Washington dapat mempersulit proses tersebut. Pada hari Sabtu, pasukan AS menangkap pemimpin Venezuela Nicholas Maduro. Tak lama setelah itu, Presiden Trump mengklaim bahwa AS siap mengambil alih industri minyak Venezuela.
Menlu AS Marco Rubio berkata militer AS akan memblokir kapal tanker minyak yang dikenai sanksi sampai Venezuela membuka sektor energinya untuk investasi asing. Langkah ini dapat mengakibatkan Venezuela mengalihkan prioritasnya ke Washington daripada membayar kembali utangnya kepada Beijing. Bahkan jika industri minyak Venezuela membantu membayar kembali sebagian pinjaman China, kehadiran AS yang lebih kuat di Amerika Latin menimbulkan risiko baru bagi pemberi pinjaman China.

