Fokus

Curahan Hati Mantan Pengusaha di China, Korban Pelecehan PKC

Berikutnya: seorang mantan pengusaha sukses, terpaksa menjual perusahaannya jauh di bawah nilainya, dan kemudian melarikan diri dari negara asalnya.

Dia mengatakan itu semua karena pemerasan berulang dari polisi serta otoritas lainnya.

Sekarang, dia membagikan kisahnya.

Feng Zhengguo adalah mantan pemilik pabrik mebel kayu yang menguntungkan di China.

Dia mengatakan, dia terpaksa menjual perusahaannya ke polisi China, dengan harga jauh di bawah nilai sebenarnya.

“Pada tingkat sosial saya, target nomor satu Partai Komunis China adalah untuk menghilangkan bisnis swasta, lapisan terbawah ekonomi swasta. Dan satu hal yang sekarang saya pahami dengan baik adalah mengapa mereka tidak membunuh kita semua sekaligus. Mereka membuat kita tetap hidup (jadi kita) bekerja keras untuk menjadi kaya, sehingga mereka bisa memanennya setelah kita mendapatkan uang. Lingkaran itu berulang sampai kita ditakdirkan untuk mati.”

Pabrik Feng berlokasi di Qinhuangdao, sebuah kota pelabuhan sekitar 200 mil sebelah Timur Beijing.

Dia menginvestasikan lebih dari 400 ribu dolar ke dalam perusahaan dan mempekerjakan sekitar 40 pekerja, membuat furnitur kayu solid kelas atas.

“Saya seorang pengrajin yang khas, saya selalu bermimpi memiliki pabrik pertukangan sendiri.”

Tapi rezim China tampaknya memiliki ide lain untuknya.

Mengutip berbagai aturan dan peraturan, Feng berulang kali diminta menyerahkan sejumlah besar uang hanya untuk menjaga ‘pintunya tetap terbuka’.

Salah satu situasi itu terjadi pada tahun 2016, ketika Feng sedang menjalani proses pendirian pabriknya.

Salah satu persyaratan melibatkan sesuatu yang disebut “penilaian dampak lingkungan.”

Feng menjelaskan biro lokal yang bertanggung jawab untuk menyetujui pelamar akan menggunakan situasi tersebut untuk menjual peralatan perlindungan lingkungan ke bisnis-bisnis dengan empat atau lima kali harga pasar normal.

Dan jika sebuah perusahaan menolak untuk membeli dari pemasok yang ditunjuk, biro tidak akan mengesahkannya.

Artinya bisnis tidak bisa berjalan.

Feng mengatakan dia cukup beruntung untuk lulus dalam penilaian setelah menghabiskan banyak uang untuk pembelian tersebut.

Tapi mencatat bahwa banyak yang tidak seberuntung itu, menjadi bangkrut dan terpaksa menutup pabrik mereka.

‚ÄúSejak saya membuka pabrik pada tahun 2016, biro analisis dampak lingkungan akan datang dan memeras uang secara teratur. Mereka mengirim orang yang berbeda dengan alasan yang berbeda setiap kalinya, mengatakan ini tidak sesuai standar, itu tidak bersertifikat, mereka tidak akan pernah menyetujui Anda. Tujuan mereka adalah untuk memeras uang, untuk mendenda Anda.”

Feng mengatakan masalah ini melampaui sektor bisnis.

Istri Feng pernah menjadi anggota gereja bawah tanah.

Di China, gereja-gereja disetujui oleh negara dan harus mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh Partai Komunis China.

Mereka yang tidak, dianggap sebagai ‘bawah tanah’, dan anggotanya sering menghadapi pelecehan dari otoritas.

Adapun istri Feng, polisi mengancam akan melaporkannya, kecuali pasangan itu menyerahkan sejumlah besar uang sebagai suap.

Mereka memutuskan untuk membayar pada akhirnya.

Tapi setelah begitu banyak masalah dengan polisi,

Feng dan istrinya tidak melihat pilihan lain selain menjual pabrik.

Satu calon pembeli potensial menawarkan 400 ribu dolar.

Tapi kemudian menarik tawaran itu, karena seseorang dari kantor polisi ingin membelinya.

Akhirnya Feng menjual pabriknya dengan harga kurang dari 60 ribu dolar, hanya sekitar sepersepuluh dari nilai sebenarnya.

Belakangan mereka mengetahui bahwa pria yang melakukan pembelian itu mewakili seorang petugas polisi setempat.

Dan bahkan setelah bisnis itu dijual, gangguan polisi terus berlanjut.

Pada awal 2021, polisi menelepon istri Feng dan mengancam akan melaporkannya atas apa yang mereka sebut sebagai pergi ke gereja secara ilegal.

Tapi kali ini, pasangan itu tidak punya apa-apa lagi untuk membayar mereka.

Alih-alih, memilih kabur ke Kanada.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI