Fokus

Dampak Gas Air Mata Berkepanjangan di Hong Kong

Gas Air Mata di Hong Kong (Foto: DALE DE LA REY/AFP via Getty Images)
Gas Air Mata di Hong Kong (Foto: DALE DE LA REY/AFP via Getty Images)

Gerakan anti RUU Ekstradisi Hong Kong masih berlanjut, dan mendekati periode setengah tahun. Menurut hitungan statistik, polisi Hong Kong telah menembakkan sekitar 10,000 bom gas air mata, yang hingga kini telah memberikan dampak buruk terhadap kesehatan anak-anak, rata-rata memiliki kisaran usia enam tahun, hingga yang terkecil bayi berusia dua bulan.

Pada tanggal 23 November lalu, masyarakat Hong Kong telah memprotes penggunaan gas air mata oleh polisi Hong Kong, yang tergolong sebagai ‘senjata kimia’. Mereka menyerukan agar polisi Hong Kong menghentikan penggunaan gas air mata, dan meminta pertanggung jawaban pemerintah Hong Kong untuk melindungi anak-anak dan generasi muda Hong Kong.

Dilansir dari South China Morning Post, penggunaan gas air mata seharusnya mengikuti aturan penggunaan yang dikeluarkan dari produsen. “Yang membuat gas air mata boleh digunakan adalah ketika para pemrotes dapat lari dari gas tersebut, dan gas itu harus bisa menguap dan menghilang,” kata Dr Anna Feigenbaum, penulis buku ‘Tear Gas’. “Masalahnya di Hong Kong, kedua hal itu tidak terjadi. Anda berada dalam situasi dimana ada banyak jalanan yang ditutup, dibarikade, dan banyak jalan-jalan sempit yang dihalangi garis polisi. Menembakkan gas air mata di lokasi tertutup seperti stasiun MTR sangat berbahaya. Ini dapat membuat gas air mata menjadi lebih pekat, karena hanya ada sedikit udara dan rute melarikan diri yang lebih sedikit. Hal ini dapat menyebabkan lebih banyak efek kesehatan yang buruk, orang dapat terinjak-injak atau cedera lain akibat ruang yang terbatas.”

Icarus Wong Ho-yin, yang merupakan salah satu pendiri kelompok HAM di Hong Kong, yaitu Civil Rights Observer, mengatakan bahwa gas air mata telah dilarang oleh Konvensi Senjata Kimia untuk digunakan dalam peperangan, sebab gas air mata adalah “senjata kimia”.

“Itulah mengapa polisi hanya menggunakan gas air mata sebagai pilihan terakhir, terutama ketika demonstrasi diadakan di daerah perumahan warga,” kata Wong. “Ketika (polisi) diberikan pelatihan tentang penggunaan gas air mata, salah satu prinsip yang sangat mendasar adalah tidak menggunakannya di area indoor atau area dengan ventilasi yang buruk. Bahkan pedoman dari pemasok mengatakan dengan jelas bahwa gas air mata hanya dapat digunakan di area luar atau area dengan ventilasi yang baik. Kepolisian Hong Kong benar-benar telah melanggar pedoman ini.”

Dalam survei yang diumumkan oleh organisasi “Hong Kong Mothers’ Anti Extradition” pada tanggal 27 November, terungkap bahwa anak-anak yang terkena dampak gas air mata berusia rata-rata 6 tahun, dan yang terkecil masih berusia dua bulan. Diketahui bahwa 65% dari mereka mengalami batuk, 50% menderita tenggorokan kering, kulit gatal, bahkan muncul kasus harus dilarikan ke rumah sakit dan diopname selama lima hari. Tujuh puluh persen kasus terjadi pada bulan November, dan dikhawatirkan angka ini akan terus merayap naik jika penggunaan gas air mata tidak diregulasi dengan tepat. (ntdtv/crl/lia)