Fokus

Demonstrasi Mahasiswa di Tiongkok

Mahasiswa Tiongkok bentrok dengan polisi terkait reformasi pendidikan resmi.

Seorang mahasiswi pengunjuk rasa memberi tahu NTD, seperti apa keadaannya di tempat kejadian.

Otoritas Tiongkok telah berusaha untuk membungkam gelombang protes mahasiswa.

“Mengapa kamu memukulinya? Mengapa kamu memukulinya?”

Pengguna internet telah memposting beberapa video, beberapa di antaranya menunjukkan polisi tampak melakukan tindakan kekerasan terhadap para siswa.

“Mereka memukulinya, polisi memukulinya.”

Dalam satu video, polisi tampak menyeret seorang mahasiswa dengan paksa.

Video lain menunjukkan kebuntuan, antara siswa dan polisi.

Dan otoritas telah menyiarkan peringatan mereka kepada para siswa.

“Anda tidak diizinkan untuk berkumpul, berparade, dan berdemonstrasi secara ilegal.”

Gelombang protes datang ketika otoritas mendorong reformasi dalam sistem pendidikan.

Di dua provinsi di Tiongkok Selatan, para pejabat mencoba menurunkan tingkat, dari selusin perguruan tinggi, – yang sebagian didanai oleh donor swasta – menjadi sekolah kejuruan.

Sedangkan bagi mahasiswa di sana, perubahan itu berarti meskipun mereka dijamin gelar sarjana ketika mendaftar, mereka tidak akan mendapatkannya pada akhirnya.

Seorang mahasiswa pengunjuk rasa mengatakan kepada NTD bahwa banyak yang marah.

Untuk melindungi identitasnya, kami memberinya nama samaran dan mengubah suaranya.

“Kami sangat marah. Membutuhkan begitu banyak upaya untuk memasuki sekolah ini lewat ujian perguruan tinggi, tapi inilah yang akhirnya kami dapatkan, diploma sekolah kejuruan.”

Dia berkata, langkah itu akan berdampak pada pilihan karir mereka di kemudian hari.

“Ini akan berdampak negatif pada kami, jika kami melamar sekolah pascasarjana atau mencari pekerjaan nantinya.”

Siswa di sekolahnya telah bergabung dengan protes menentang reformasi tersebut.

Tapi respon polisi belum simpatik.

“Mereka sangat kejam, mereka menuangkan air ke kami para siswa, dan mereka mendorong kami ke tanah.”

Sebuah video menunjukkan polisi muncul untuk menangkap seorang siswa, menariknya menjauh dari kerumunan dan mencengkeram rambutnya.

Hua mengatakan beberapa siswa menderita luka ringan.

“Beberapa mengalami memar atau kepala mereka berdarah.”

Protes itu tampaknya membuat perbedaan.

Otoritas di kedua provinsi telah mengumumkan bahwa mereka menangguhkan reformasi tersebut.

Tapi sekarang Hua mengatakan, sekolahnya ditutup.

Dan mencatat bahwa belum ada yang bisa menjangkau banyak siswa di sana.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klikĀ di sini. Video, silahkan klikĀ di sini.

VIDEO REKOMENDASI