Fokus

AS: “90% Kasus Spionase Melibatkan Partai Komunis Tiongkok”

Christopher Wray Direktur FBI (Foto: Chip Somodevilla/Getty Images)
Christopher Wray Direktur FBI (Foto: Chip Somodevilla/Getty Images)

Pada tanggal 30 Oktober, Direktur FBI AS Christopher Wray dalam kesaksiannya pada Komite Keamanan Dalam Negri DPR mengatakan, dalam bidang spionase, perhatiannya khusus ditujukan pada Tiongkok.

Dalam kongres tersebut Wray mengatakan bahwa dari 56 Kantor Regional FBI, hampir semuanya telah ditemukan gerakan spionase ekonomi Partai Komunis Tiongkok, yang melibatkan hampir semua industri dan bidang di Amerika Serikat. “FBI telah melancarkan penyelidikan ribuan kali, hasilnya berupa konspirasi pencurian teknologi Amerika untuk diberikan ke Tiongkok,” ucap Christopher Wray.

Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat mulai berfokus pada perang spionase ekonomi oleh Tiongkok, dan mulai mengenali bahwa Partai Komunis Tiongkok menggunakan taktik spionase ‘lautan manusia’, yang berarti warga Tiongkok biasa pun didayagunakan untuk menjadi mata-mata.

“Partai Komunis Tiongkok melalui agen intelijen, melalui perusahaan BUMN dan swasta, melalui mahasiswa dan peneliti pascasarjana, juga melalui berbagai ‘aktor’, semuanya bekerja demi Partai Komunis Tiongkok,” tegas Wray.

Heng He, seorang komentator masalah Tiongkok berkata, teknik spionase ‘lautan manusia’ bagaikan menyebarkan benih-benih kecil ke seluruh penjuru Amerika. “Badan anti-spionase Amerika Serikat akan sulit untuk mengawasinya,” terangnya.

Baru-baru ini, tercuat kasus dimana Amerika Serikat telah menuntut seorang operator tur California berdarah Tionghoa, Xuehua Edward Peng, atas tuduhan menyampaikan informasi keamanan nasional AS pada pejabat Partai Komunis Tiongkok. Peng adalah warga Tiongkok yang telah memperoleh status penduduk permanen AS pada 2006, sebelum dinaturalisasi menjadi warga negara Amerika Serikat pada September 2012.

Associated Press melaporkan pada tanggal 1 Oktober bahwa walaupun hanya bekerja sebagai operator tur, Peng memiliki beberapa mobil mewah seperti Lexus dan Porsche. Ia dituduh telah membeli informasi-informasi rahasia terkait keamanan AS dari seorang agen dalam FBI, dan membawanya kembali ke Tiongkok.

Kasus Peng hanyalah satu dari beberapa kasus yang melibatkan mata-mata Tiongkok belakangan ini. Wakil Presiden AS Mike Pence bahkan mengatakan, bulan Desember tahun lalu, Departemen Kehakiman AS mengungkap bahwa mereka telah mendeteksi tindakan organisasi peretas yang bekerja di Kementrian Keamanan Nasional Partai Komunis Tiongkok, yang mencuri nama dan data dari 100,000 personil Angkatan Laut AS dan informasi perawatan kapal perang AS.

Pencurian dunia maya ini sama seriusnya dengan pencurian ekonomi. Willian Evanina, Direktur Pusat Nasional Anti-Spyware dan Keamanan AS berkata, “Jika kita kecurian rahasia oleh Partai Komunis Tiongkok setiap tahunnya, ini akan menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 400 hingga 600 miliar dolar AS, sama dengan kerugian tahunan yang ditanggung per keluarga sebesar 4,000 dolar AS, setelah dikurangi pajak.”

Sedangkan Wakil Sekretaris Kehakiman AS Rod Rosenstein telah berkata bahwa dalam tujuh tahun terakhir, 90% dari kasus spionase ekonomi yang ditangani oleh Kementrian Kehakiman telah melibatkan Partai Komunis Tiongkok. Untuk mengatasinya, Amerika Serikat kini sedang memperketat pemberian visa, dan berusaha lebih intensif dalam menuntut personil yang terlibat dalam kegiatan mata-mata tersebut. (ntdtv/crl/lia)