Fokus

Diskriminasi Rezim Tiongkok pada Penganut Kepercayaan

Mengetahui cara mengajar hanyalah sebagian dari persyaratan yang diperlukan untuk bekerja sebagai guru di Tiongkok.

Pendidik juga harus tetap sejalan dengan sikap politik rezim.

Banyak sekolah di Tiongkok baru-baru ini mulai merekrut guru.

Tapi persyaratan kerja untuk posisi tersebut membuat jelas satu hal: praktisi Falun Gong tidak akan dipekerjakan.

Falun Gong adalah latihan meditasi spiritual, yang mengajarkan prinsip-prinsip inti: Sejati, Baik, dan Sabar.

Dua dekade lalu, rezim Tiongkok meluncurkan kampanye penganiayaan terhadap latihan tersebut, jutaan orang telah ditahan, disiksa, dan bahkan meninggal, sebagai akibatnya.

Pada bulan September, sebuah kabupaten di Provinsi Liaoning, Tiongkok Timur Laut, mengeluarkan pengumuman perekrutan guru, yang mengharuskan pelamar untuk memberikan bukti bahwa mereka tidak berlatih Falun Gong.

Bukti itu juga harus didukung oleh pejabat setempat.

Hal itu mengikuti pemberitahuan serupa pada bulan Juli.

Saat itu, sebuah Distrik di provinsi Hebei mengeluarkan pengumuman, yang menyatakan bahwa “orang yang telah berlatih Falun Gong tidak akan dipekerjakan.”

Beberapa universitas juga mengumumkan persyaratan serupa.

Salah satunya adalah Sekolah Guru Daqing, sekolah itu meminta pelamarnya untuk memasukkan pernyataan tentang sikap mereka terhadap Falun Gong, serta pelarangan rezim terhadap latihan tersebut.

Jika mereka tidak mendukung larangan itu, mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan.

Setidaknya 5 universitas lain juga dengan jelas mewajibkan, pelamarnya tidak berlatih Falun Gong.

Wang Fuhua adalah seorang praktisi Falun Gong dari provinsi Hunan, yang saat ini tinggal di AS.

Dia adalah seorang guru sekolah dasar di Tiongkok, tapi dikeluarkan karena keyakinannya.

Wang: “Karena saat itu saya mengajukan keluhan 2 kali, karena kami ingin mengatakan bahwa PKT berbohong dan Falun Dafa sangat bagus. Jadi karena ini, sekolah mengeluarkan saya berdasarkan dokumen yang dikeluarkan oleh Partai Komunis Tiongkok.”

Wang menunjukkan bahwa upaya Partai Komunis untuk menghalangi praktisi Falun Gong, untuk bekerja sebagai guru, terkait dengan sifatnya.

Wang: “Karena PKT pasti ingin mengontrol propaganda dan pasukan bersenjatanya. Mengenai propaganda, seorang guru di podium menghadapi begitu banyak anak, dia pasti akan mengajari anak-anak bagaimana berperilaku. Kami (sebagai praktisi Falun Gong) akan mengikuti prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Kami tahu betapa hebatnya budaya tradisional kami, tapi ini bukan yang diinginkan PKT.”

Diskriminasi rezim komunis juga tidak terbatas pada sektor pendidikan.

Diskriminasi itu juga berdampak pada profesi lain, termasuk keamanan publik, polisi, perusahaan dan lembaga milik negara, dan bahkan beberapa bisnis swasta.

Pengacara HAM yang berbasis di AS, Wu Shaoping, menyebutnya, sebagai penganiayaan sistematis terhadap hak asasi manusia.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI