India menghadapi pengawasan baru dari Departemen Keuangan AS atas pembelian minyak Rusia yang disanksi. Hari Selasa, Mentri Keuangan AS Scott Bessent menuduh India mengambil untung atas minyak diskon Rusia. Ia berbicara ke CNBC tentang praktik India menjual ulang minyak Rusia di pasar global.
“India memiliki kurang dari 1% minyak. 1% dan sekarang saya yakin jumlahnya mencapai 42%. Jadi India hanya mencari untung, mereka menjual kembali dan menghasilkan 16 miliar keuntungan.”
Para pejabat AS mengatakan pembelian minyak Rusia oleh India membantu mendanai perang Rusia-Ukraina. Saat menghadapi kritik dari Washington, India juga kini berusaha meredakan ketegangan dengan Tiongkok. Pejabat India dan menlu Tiongkok Wang Yi bertemu di New Delhi, membicarakan de-eskalasi dan perdagangan perbatasan, termasuk akses ke tanah jarang.
Ekspor tanah jarang dan magnet Tiongkok melonjak bulan Juni, tapi India masih menerima pengiriman 58% lebih sedikit dibandingkan bulan Januari.
India memiliki cadangan tanah jarang terbesar kelima, tetapi tidak memproduksi magnet, hingga mereka bergantung pada impor Tiongkok.
Selama pembicaraan, kedua negara juga berusaha meredakan ketegangan di sepanjang perbatasan Himalaya yang disengketakan di Ladakh. Menlu India menekankan pentingnya kedua negara menarik pasukan dari wilayah garis depan, mengingat telah terjadi bentrokan berdarah disana pada tahun 2020.
Sementara itu, kunjungan Menlu Tiongkok Wang Yi tidak disambut baik oleh semua pihak. Kelompok-kelompok Tibet di India menggelar protes pada kebijakan Beijing, menyerukan kemerdekaan dari Tiongkok. Banyak warga India yang menghormati pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, yang saat ini tinggal di pengasingan di India.

