Fokus

Ekonomi China Melambat Akibat Tarif A.S.

Ekonomi China tertekan oleh tarif AS. Biro Statistik Nasional China merilis serangkaian angka hari Senin, menunjukkan ekonomi negara itu melambat pada bulan April. Penurunan terasa di seluruh sektor, mulai dari produksi industri hingga belanja konsumen dan investasi, khususnya pada aset tetap seperti bangunan dan peralatan.

Data tersebut dicatat pada puncak perang dagang AS-China, saat tarif kedua belah pihak meroket. Sekarang AS telah setuju untuk memangkas tarif pada sebagian besar barang China dari 145% menjadi 30%, dan China memangkas tarif produk AS dari 125% menjadi 10%. Gencatan senjata akan berlangsung selama 90 hari. Data baru menunjukkan produksi industri China tumbuh lebih lambat pada bulan April dibandingkan Maret.

Produksi industri adalah indikator ekonomi utama untuk mengukur kesehatan ekonomi. Penjualan eceran di China juga melambat pada bulan April, yang merupakan tanda lemahnya belanja konsumen. Investasi pada bangunan, peralatan, dan aset tetap lainnya juga kehilangan momentumnya bulan itu. Sebagian orang yakin importir AS akan menggunakan waktu 90 hari untuk mengimpor lebih banyak dari China, yang dapat memberikan dorongan jangka pendek bagi perekonomiannya.

Sektor properti China yang terlilit utang juga tetap menjadi beban. Harga rumah baru di 70 kota terus menurun. Untuk mengatasi tarif AS, China telah mengalihkan perdagangan ke negara lain. Data menunjukkan pengiriman barang dari China ke AS turun lebih dari 20% pada bulan April, namun pengiriman ke negara-negara Asia Tenggara meningkat dengan jumlah yang hampir sama.