Site icon NTD Indonesia

Ekonomi China Melambat Seiring Daya Beli Konsumen Melemah

Ekonomi China mengalami lonjakan di kuartal kedua berkat peningkatan ekspor menjelang diberlakukannya tarif baru.. Namun, analis memperingatkan adanya risiko yang akan meningkatkan tekanan pada ekonomi China. Berikut detailnya.

Ekonomi China mencatat pertumbuhan PDB 5,2% pada kuartal April -Juni. Angka ini sedikit menurun dari periode sebelumnya, namun melampaui perkiraan analis. Hal ini disebabkan banyak pabrik mempercepat pengiriman untuk memanfaatkan peluang tarif.

Namun investor bersiap menghadapi potensi turunnya ekspor kedepannya. Data lain juga menunjukkan beberapa sektor ekonomi yang sedang lesu. Penjualan ritel melambat tajam pada bulan Juni, mencapai level terendah sejak awal tahun. Sektor properti yang kian terpuruk, dengan harga properti yang terus turun dalam 8 bulan. Kondisi ini memberikan tekanan bagi pemerintah untuk melakukan lebih banyak langkah stimulus. Para pembuat kebijakan telah mengambil tindakan seperti meningkatkan belanja infrastruktur, subsidi konsumen serta pelonggaran kebijakan moneter.

Investor tengah menanti pertemuan Politbiro di akhir Juli, berharap ada keputusan stimulus tambahan. Mereka berharap pemerintah akan meningkatkan belanja jika data ekonomi terus menurun. Namun deflasi dan permintaan domestik yang lemah akan sulit mendorong aktivitas ekonomi kembali, membuat target pertumbuhan 5% menjadi tugas berat.

Lesunya sektor properti juga belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Data terkini menunjukkan harga rumah pada Juni merosot tajam. China juga menghadapi deflasi, turunnya permintaan pasar serta konflik geopolitik dengan AS.